Elpaputih, globaltimurnn.com – Puluhan tahun hidup dalam keterbatasan akses transportasi, warga Desa Ahiolo dan Desa Watui, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih harus mengandalkan rakit bambu sebagai sarana utama untuk membawa hasil pertanian keluar dari desa.
Bagi masyarakat setempat, sungai bukan hanya jalur air biasa, tetapi menjadi jalan utama yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Setiap hari, warga harus mempertaruhkan keselamatan menyeberangi sungai menggunakan rakit sederhana demi mendistribusikan hasil kebun yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Warga Ahiolo, Apsa Waikuty, mengungkapkan bahwa aktivitas mengangkut hasil pertanian melalui sungai sudah menjadi rutinitas yang dijalani masyarakat selama bertahun-tahun.
“Setiap hari warga harus menempuh perjalanan melalui sungai sekitar tiga sampai lima jam untuk membawa hasil pertanian agar bisa dijual ke berbagai tempat,” ungkapnya.
Menurutnya, hasil pertanian warga seperti kelapa, cengkih, pala, dan komoditas lainnya harus dibawa melewati jalur sungai sebelum dipasarkan ke sejumlah wilayah, mulai dari Kairatu, Piru, bahkan hingga Ambon.
Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan tenaga dan waktu lebih besar dibandingkan daerah lain yang sudah memiliki akses jalan memadai. Selain menghambat distribusi hasil pertanian, keterbatasan infrastruktur juga berdampak pada rendahnya nilai jual hasil produksi masyarakat.
Apsa Waikuty berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat dan Pemerintah Provinsi Maluku tidak menutup mata terhadap kondisi yang masih dialami masyarakat di Kecamatan Elpaputih.
“Kami berharap pemerintah dapat melihat langsung realita yang terjadi. Masyarakat di sini membutuhkan perhatian serius, terutama pembangunan akses jalan dan fasilitas transportasi agar desa kami tidak terus terisolasi,” harapnya.
Menurut warga, pembangunan infrastruktur bukan hanya sekadar membuka akses wilayah, tetapi juga menjadi kunci untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah kemajuan pembangunan di berbagai daerah, warga Ahiolo dan Watui masih bertahan dengan semangat yang sama. Mereka terus mengolah tanah leluhur dan membawa hasil kerja keras mereka melewati sungai dengan rakit bambu sederhana, sambil menanti hadirnya perubahan yang telah lama mereka impikan.
