
Foto : Luar Biasa,,, Dua Pendeta GMHK Datang Berjabat Tangan, Saat Hadapi Masa Dengan Sajam, Masa Aksi Akhirnya Ikut Ibadah
Murnaten, Globaltimurnn.com - Kisah nyata Emerson Batlayeri & Buken Dasmasela, Ketika kasih mengalahkan ketakutan, parang pun tersarungkan, dan musuh berubah menjadi saudara.
Mereka datang dengan sajam berupa parang, diperkirakan 100 orang, Siap membubarkan, tapi dua sosok pendeta muda GMHK tidak lari, Mereka berdiri, berbicara, bernegosiasi dengan Pendeta Noya yang memimpin massa dari dalam jemaat Murnaten sendiri.
Hasilnya? Acara tetap berlangsung, Dan yang lebih mengejutkan, massa yang tadinya menentang, dan memaksa jemaat pulang ke rumah untuk membatalkan rencana pengorganisasian jemaat, lalu kembali lagi, kali bukan untuk merobohkan tenda lagi, tetapi untuk duduk mendengarkan firman.
Inilah Murnaten, 5 Mei 2026, Inilah kekuatan kasih yang tidak bisa dihancurkan oleh seratus parang.
Sebelumnya kami mendengarkan berita tenda dirobohkan, tiga lembaga desa menandatangani surat keberatan, dan jemaat Advent kalah, Tapi fakta di lapangan berkata lain.
Kronologis insiden Intoleransi didesa Murnaten, Tanggal 04 Mei 2026; Pembongkaran tenda Ibadah Gereja Advent Insiden pembongkaran dan penghancuran tenda yang rencananya akan digunakan untuk ibadah pengorganisasian jemaat GMAHK di desa Murnaten.
Peristiwa tersebut memicu pertanyaan mendalam tentang kebebasan beragama dan akar ketegangan teologis di wilayah tersebut.
Informasi yang diterima media ini, Kepala Desa Murnaten Ance Latue, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler oleh warga, menjelaskan bahwa aksi pembongkaran dipicu oleh penemuan beberapa sak semen di lokasi tenda, Warga panik, Mereka mengira tenda itu kedok untuk pembangunan gedung gereja permanen. Ujar Pak Ance
Tanggal 05 Mei 2026; Seratus Parang Menuju Tenda, Massa datang tidak dengan tangan kosong, Parang dan alat tajam lainnya tergenggam, Wajah-wajah penuh kemarahan serta bau minuman (sopi) tercium dari mulut mereka, Langkah cepat, Mereka datang untuk membubarkan, menggagalkan rencana acara peribadatan pengorganisasian jemaat Advent di desa Murnaten, seperti yang sudah direncanakan oleh pihak-pihak yang tidak ingin kegiatan itu berlangsung.
DUA PENDETA MUDA GEREJA ADVENT TIDAK LARI
Saat masa sedang memenuhi tempat peribadatan, dua pendeta muda gereja GMHK, Pendeta Emerson Batlayeri dan Pendeta Bukhen Dasmasela turun dari kendaraan dan langsung menuju ke kerumunan masa.
Mereka tidak membawa parang, Tidak membawa pentungan, Hanya Alkitab di tangan dan senyum di wajah, Mereka berdiri di kerumunan masa, menghadang lautan amarah,
Di barisan depan massa, berdiri seorang Pendeta Noya, seorang tokoh rohani dari jemaat GPM Murnaten.
Dialah yang memimpin massa, Emerson dan Buken tidak menghakiminya, Mereka mengulurkan tangan, memanggil namanya dengan hormat, dan berkata: Bapak, kami datang untuk beribadah, bukan untuk berperang, Bolehkah kami menjelaskan apa yang sebenarnya kami lakukan di tenda ini? Ujar salah satu pendeta dari sosok dia pendeta GMHK itu
Terjadi percakapan singkat namun intens, Emerson dan Buken menjelaskan bahwa" Tidak ada gedung yang dibangun, Hanya tenda sementara, Acaranya hanyalah pengorganisasian jemaat kecil.
Mereka sudah meminta izin dan mengundang Raja Desa, meski tidak dijawab, Mereka adalah warga negara Indonesia yang sama, dengan hak beribadah yang sama serta dilindungi oleh undang-undang di negara replublik Indonesia.
Pendeta Noya mendengarkan, Wajahnya berubah, Dari sekeras batu menjadi cair, Dari amarah menjadi pendengar, Masa yang tadinya siap membantai, menurunkan parang mereka, Satu per satu, mereka berbalik, Mereka pulang.
Tenda yang tadinya telah dirobohkan, kini menjadi tempat kudus, Emerson Batlayeri membuka acara dengan doa singkat, Buken Dasmasela memimpin nyanyian.
Jemaat GMHK duduk dengan mata berkaca-kaca, Mereka tidak percaya, dari ancaman kematian, kini ada kedamaian, Saat acara sedang berlangsung, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Beberapa jemaat sempat tegang, Tapi apa yang terjadi? Massa yang tadi dipulangkan, beberapa datang kembali, Kali ini mereka tidak membawa parang, Mereka duduk di luar lokasi tempat beribadah, mereka mendengarkan khotbah pendeta organisasi jemaat GMHK dengan seksama.
Beberapa dari mereka bahkan masuk ke dalam kumpulan tempat beribadah dan ikut menyanyikan lagu pujian, Seorang bapak paruh baya, yang satu jam sebelumnya menggenggam parang, kini berkata kepada Pendeta Buken dan anggota yang hadir, "Maaf, kami tidak tahu kalau acaranya hanya begini, tidak ada pembangunan gereja, Maaf, Pendeta" Bahkan tak lama setelah itu beberapa orang dari kelompok masa datang dengan membawa kelapa muda untuk diberikan kepada para jemaat advent yang hadir karena udara sedang panas terik matahari.
Acara ditutup dengan doa bersama, Pendeta Emerson Batlayeri dan pendeta Bukhen Dasmasela mengucap syukur di hadapan jemaat, Hari ini kita belajar bahwa Tuhan lebih besar dari seratus parang, Dia mengubah hati Pendeta Noya, Dia mengubah hati massa, dan Dia mengubah Murnaten menjadi saksi kasih yang tidak pernah mati.
Beberapa massa yang tadinya penentang, kini ikut berjabat tangan dan berpelukan dengan jemaat GMHK Tenda yang roboh, menjadi kini menjadi saksi bisu dari mukjizat rekonsiliasi.
Keberhasilan Emerson Batlayeri dan Buken Dasmasela bukanlah kebetulan, Ini adalah hasil dari prinsip komunikasi tingkat tinggi yang perlu dimiliki.
Massa punya parang, Emerson dan Buken tidak membawa apa pun selain Alkitab, Ini adalah prinsip Yesus "Barangsiapa menghunus pedang, akan mati oleh pedang" (Matius 26:52).
Dengan tidak melawan secara fisik, mereka mengambil moral Tingkat tinggi yang tidak bisa dibantah.
Pendeta Noya adalah pemimpin massa yang legitimate, Emerson dan Buken tidak menyebutnya provokator, tidak mengancamnya dengan delik hukum, tidak menghina keyakinannya, Mereka justru memanggil namanya dengan hormat, Dalam budaya Maluku, menghormati lawan adalah awal dari rekonsiliasi.
Keberanian untuk tetap melanjutkan ibadah setelah massa dipulangkan adalah pesan nonverbal yang sangat kuat, Kami tidak takut, Kebenaran tidak perlu bersembunyi, Sikap ini membuat massa yang kembali justru penasaran, bukan marah.
Mereka tidak melarikan diri, Mereka tidak memprovokasi massa dengan kata-kata kasar, Mereka tidak menggunakan koneksi politik untuk membungkam lawan.
Mereka berdiri di depan seratus parang, Mereka memanggil nama para penentang dengan hormat, Mereka menjelaskan fakta dengan tenang, Mereka memberi ruang bagi lawan untuk mundur dengan terhormat.
Mereka melanjutkan ibadah yang nyaris dibatalkan, Inilah kepemimpinan ala Yesus “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak dapat membunuh jiwa” (Matius 10:28).
Emerson dan Buken tidak hanya menjadi pendeta bagi jemaat GMHK Murnaten, Mereka menjadi teladan bagi semua pemimpin agama di Indonesia tentang bagaimana menghadapi konflik, dengan keberanian, kerendahan hati, dan kasih.
Kegiatan pengorganisasian jemaat Elim Murnaten dihadiri oleh, Pimpinan Daerah Misi Maluku GMHK dalam hal ini ketua Pdt. Feri Macpal. M. Th, sekertaris daerah Pdt. Saul Soumai. M. Th, Bendahara daerah Ny. Carolin Wairata. M. BA, Asosiasi Kependetaan Daerah Maluku Pdt. Hosea Ramba. M. Th, sejumlah Officer Daerah dan Pimpinan Departemen Kependetaan, bahkan dari Pemerintah Daerah Kabupaten SBB Bupati SBB yang diwakili oleh Asisten 1 Rein Lisapally, Kapolsek Taniwel, Danramil, Camat Taniwel, sementara kades Murnaten di undang tapi tidak menghadiri. (Likko)


