Semangat Kartini dalam Diri Seorang Safitri Malik Soulisa, Kisah Perempuan, Kepemimpinan, dan Ketulusan yang Menginspirasi - globaltimurnn.com

Jumat, 24 April 2026

Semangat Kartini dalam Diri Seorang Safitri Malik Soulisa, Kisah Perempuan, Kepemimpinan, dan Ketulusan yang Menginspirasi

Foto : Semangat Kartini dalam Diri Seorang Safitri Malik Soulisa, Kisah Perempuan, Kepemimpinan, dan Ketulusan yang Menginspirasi

Ambon
, Globaltimurnn.com — Dalam semangat memperingati Hari Kartini, sosok Safitri Malik Soulisa tampil sebagai representasi nyata perempuan Indonesia yang tidak hanya kuat, tetapi juga lembut dalam ketulusan, teguh dalam prinsip, dan bijak dalam menjalani setiap peran kehidupan, Jumat (24/04/2026).


Lahir di Ternate pada 15 September 1977, Safitri merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi disiplin, kemandirian, serta integritas. Didikan sang ayah yang seorang camat, serta ketegasan ibunya, membentuk pribadinya menjadi perempuan yang tidak manja, tidak bergantung, dan siap menghadapi kerasnya kehidupan dengan kepala tegak.


Dalam perjalanan hidupnya, Safitri juga menjalani peran sebagai seorang istri dan ibu. Ia adalah pendamping dari Tagop Sudarsono Soulisa, yang pernah menjabat sebagai Bupati Buru Selatan selama dua periode (2011–2016 dan 2016–2021). Dari keluarga ini lahir generasi penerus yang kini turut berkiprah di dunia politik, yakni Akmal Soulisa sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku dan Aris Soulisa sebagai anggota DPRD Kota Ambon.


Namun, perjalanan Safitri tidak dimulai dari panggung kekuasaan. Ia memulainya dari ruang paling sederhana sebagai seorang ibu rumah tangga. “Awalnya saya hanya ibu rumah tangga,” tuturnya dengan kerendahan hati.


Dari kesederhanaan itu, nilai-nilai besar tumbuh. Sejak muda, ia aktif dalam organisasi seperti Pramuka dan Paskibraka tempaan awal yang membentuk disiplin, keberanian, dan jiwa kepemimpinan yang kelak menjadi fondasi perjalanan hidupnya.


Langkahnya kemudian mengarah ke dunia politik. Ia dipercaya menjadi Anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2014–2019, sebelum akhirnya mengemban amanah sebagai Bupati Buru Selatan periode 2021–2025. Sebuah perjalanan panjang yang tidak instan, penuh dinamika, tantangan, bahkan kegagalan yang menempa keteguhannya.


Bagi Safitri, politik bukan sekadar ambisi atau kekuasaan, melainkan ruang pengabdian yang sarat makna. “Politik itu menarik, penuh kemungkinan. Tapi juga penuh ujian,” ungkapnya.


Ia memaknai jabatan sebagai amanah, bukan sekadar kehormatan. “Bukan soal suka atau tidak suka. Pekerjaan itu harus dinikmati, karena ini tanggung jawab.”


Dalam pandangannya, seorang pemimpin sejati adalah pelayan masyarakat. Penerimaan publik tidak ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh ketulusan dalam melayani.


Terlebih saat menghadapi masa sulit seperti pandemi COVID-19, ia merasakan betul beratnya tanggung jawab tersebut. Di sanalah kepemimpinan diuji antara empati, ketegasan, dan keberanian dalam mengambil keputusan.


Di balik semua pencapaiannya, Safitri menyampaikan refleksi penting, tantangan terbesar perempuan sering kali datang dari sesama perempuan. “Kadang perempuan sendiri yang melemahkan dirinya,” ujarnya.


“Sesama perempuan jangan saling menjatuhkan, jangan saling julid. Kita harus saling mendukung.”


Pesan ini menjadi semakin relevan di tengah era keterbukaan informasi yang kerap diiringi tekanan sosial dan penilaian publik yang cepat.


Bagi Safitri, keluarga adalah pusat dari segala pencapaian. Ia percaya bahwa komunikasi adalah fondasi utama dalam membangun keluarga yang kuat.


Tidak ada sekat antara orang tua dan anak. Semua dibangun melalui dialog, keterbukaan, dan saling menghargai. Bahkan, keputusan dalam keluarga sering diambil bersama sebuah praktik demokrasi kecil yang menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian pada anak-anak.


Dari rumah itulah lahir generasi yang mandiri dan siap berkontribusi bagi masyarakat.


Meski telah mencapai banyak hal, Safitri tetap menyimpan mimpi sederhana menjelajah dunia, mengenal budaya baru di negara seperti Amerika, Australia, dan Turki.


Namun baginya, kebahagiaan sejati bukan lagi tentang pencapaian pribadi. “Anak-anak sudah berhasil, kehidupan sudah cukup. Itu sudah lebih dari mimpi.”


Tentang kegagalan, ia tidak menutupinya. Dua kali mengalami kekalahan dalam kontestasi politik justru menjadi pelajaran berharga. “Kalau orang lain berhasil, ya sudah. Biarkan mereka bekerja.”


Sikap ini mencerminkan kedewasaan yang jarang dimiliki ikhlas tanpa iri, kuat tanpa menjatuhkan.


Berbicara soal mengagumi Parah toko Inspiratif lainnya kata Safitri, "Salah satu figur nasional seperti Hendrik Lewirisa," dan juga mengagumi banyak toko Perempuan inspiratif lainnya di Dunia, akan tetapi Safitri tetap berdiri sebagai dirinya sendiri perempuan yang ditempa oleh kehidupan, bukan sekadar oleh jabatan.


Ia adalah refleksi nyata semangat R.A. Kartini di masa kini, tidak hanya berbicara tentang emansipasi, tetapi membuktikannya melalui tindakan nyata.


Di akhir kisahnya, Safitri menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat, Jangan menunggu, tapi jemput peluang, Jangan saling menjatuhkan, tapi saling menguatkan, Jangan takut gagal, karena itu bagian dari perjalanan, Tetap dekat dengan Tuhan. 


“Tidak semua orang mau melihat kita berhasil. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti.”


Kisah Safitri Malik Soulisa bukan sekadar cerita tentang keberhasilan. Ini adalah kisah tentang keteguhan, keikhlasan, dan keberanian untuk terus melangkah di tengah berbagai ujian kehidupan.


Sebuah cermin bahwa perempuan Indonesia, dengan segala perannya, mampu berdiri tegak, memimpin dengan hati, dan menginspirasi generasi masa depan. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT