
Foto : Manfaatkan Lahan Tidur, Masyarakat Kawatu Buka Lahan Baru Tingkatkan Ketahanan Pangan
Kawatu, Globaltimurnn.com - Di tengah upaya bangsa Indonesia menuju kemandirian pangan yang berdaulat, langkah strategis dari tingkat nasional hingga daerah menciptakan sebuah ekosistem yang saling memperkuat.
Presiden Prabowo Subianto dengan tegas menargetkan swasembada pangan nasional.
Visi presiden ini mendapatkan bentuk dan nafas lokal di Maluku. Gubernur Hendrik Lewerissa memfokuskan agenda pembangunannya pada pengentasan kemiskinan dan pengangguran, dengan pertanian dan perikanan sebagai sektor utama penggerak ekonomi kerakyatan.
Kebijakan ini kemudian diejawantahkan lebih spesifik di Seram Bagian Barat oleh Bupati Asri Arman, yang mengedepankan pembangunan ekonomi berbasis agro-marine untuk menciptakan iklim investasi yang berkelanjutan dan berpihak pada potensi unggulan wilayah.
Dalam atmosfer kebijakan yang sinergis dari pusat, provinsi, hingga kabupaten inilah, sebuah gerakan akar rumput menemukan ruang tumbuhnya yang subur.
Di Dusun Kawatu, kepemimpinan visioner Bapak Mansur Tuharea sebagai Ketua Gerakan Ketahanan Pangan SBB, dibakar oleh semangat motivator lokal Saudara Gerard Wakanno, telah berhasil mengkristalisasikan semangat masyarakat.
Mereka tidak hanya merespon program, tetapi membangun ownership dengan membentuk 10 Kelompok Tani dan Kelompok Tani Hutan, yang bersatu dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) "Mailupu yang berarti Mari Berkumpul”
Dengan kepemimpinan Bapak Naftali Rumahpassal (Ketua), didukung Bapak Boby Niak (Sekretaris) dan Ibu Ellen Anakotta (Bendahara), serta dibina oleh Bapak Gerard Wakanno, Gapoktan Mailupu merancang sebuah model aksi yang selaras dengan piramida kebijakan.
Rencana jangka pendek mereka budidaya padi dan jagung di 50 hektar adalah bentuk komitmen dan kontribusi nyata bagi target lumbung pangan nasional dan pengentasan kemiskinan lokal.
Sementara, strategi jangka panjang pengembangan komoditas unggulan lokal Damar di 100 hektar adalah rencana cerdas dari ekonomi berbasis agro-marine yang berkelanjutan, menghidupkan kearifan leluhur Seram untuk kemakmuran masa depan.
Inisiatif yang dimulai secara partisipatif dalam musyawarah bersama Kepala Dinas Pertanian SBB, Bapak Ibrahim Tuharea dan Bapak Mansur Tuharea pada 27 Januari 2026, dan dieksekusi lewat pembersihan lahan pada 2 Februari 2026, kini siap melangkah.
Rencana penanaman pada Maret 2026 tidak hanya akan menjadi aktivitas pertanian biasa, tetapi simbolis sebagai titik temu antara visi besar ketahanan pangan nasional, strategi pembangunan daerah, dan semangat gotong royong komunitas.
Pencanangan oleh Gubernur Maluku dan Bupati SBB yang dinantikan akan menjadi pengakuan sekaligus penguatan bahwa jalan menuju swasembada dan kemandirian ekonomi justru dibangun dari desa-desa seperti Kawatu.
Dusun Kawatu dan Gapoktan Mailupu membuktikan bahwa ketika visi strategis dari kepemimpinan nasional dan daerah menyediakan peta jalan, maka energi dan kearifan lokal akan menjadi mesin penggeraknya. Mereka tidak hanya menanam tanaman, mereka menanam sebuah model keberlanjutan di mana kebijakan top-down dan inisiatif bottom-up bersatu, menghasilkan ketahanan pangan yang benar-benar berdaulat dan berakar. (V374)
