Ditulis Oleh Gerard Wakano :
Ambon, globaltimurnn.com - Ratusan tahun sebelum para ekonom Barat menulis teori tentang perseroan terbatas, sebelum Bursa Efek New York berdiri, sebelum istilah Initial Public Offering (IPO) dikenal, cengkeh dan pala dari tanah Maluku telah menjadi poros yang memutar roda kapitalisme global. Ironi sejarah yang paling pahit, kekayaan alam yang menjadi sumber kemakmuran awal sistem ekonomi modern justru membuat pemilik aslinyarakyat Maluku terpuruk dalam kemiskinan dan penindasan.
Sejak abad-abad awal Masehi, cengkeh (Syzygium aromaticum) dari Maluku Utara dan pala (Myristica fragrans) dari Kepulauan Banda telah menjadi komoditas paling bernilai di dunia. Para saudagar Arab dan India memperdagangkan rempah-rempah ini melalui Jalur Sutra dengan harga ribuan kali lipat dari harga di tempat asalnya. Ketika rempah-rempah tiba di Venesia gerbang utama perdagangan Eropa harganya kerap melonjak ratusan bahkan ribuan persen lebih tinggi daripada harga awal di Kepulauan Maluku.
Pada abad ke-15, bangsa Eropa yang selama berabad-abad menjadi konsumen pasif dengan harga selangit mulai bertindak. Portugis menjadi yang pertama tiba di Maluku pada 1512 di bawah pimpinan Francisco Serrao. Sultan Ternate, Abu Lais, menawarkan Portugis untuk mendirikan benteng di Ternate dengan imbalan cengkeh yang dihasilkan Ternate hanya boleh dijual kepada Portugis. Ini adalah awal dari monopoli sebuah konsep yang kelak menjadi fondasi sistem perseroan.
Kemudian dilanjutkan dengan Persaingan antarbangsa Eropa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda memperebutkan Maluku memuncak pada awal abad ke-17. Pada 1602, Belanda mengambil langkah revolusioner, mereka menggabungkan enam perusahaan dagang saingan menjadi satu entitas raksasa bernama Verenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Inilah momen kelahiran sistem perseroan terbatas modern.
VOC didirikan bukan sebagai perusahaan milik kerajaan, melainkan sebagai perusahaan publik yang menjual saham kepada siapa pun yang mau membeli. Pada Agustus 1602, VOC melakukan IPO pertama dalam sejarah dunia sebuah penawaran saham perdana yang menjadi cikal bakal semua pasar modal yang kita kenal saat ini.
Data mencatat 1.143 investor menanamkan modal di VOC Amsterdam. Total dana terkumpul mencapai lebih dari 642.000 gulden. Yang paling mencengangkan, investor bukan hanya bangsawan dan saudagar kaya. Seorang asisten rumah tangga bernama Neeltgen Cornelis dengan gaji kurang dari 50 sen per hari menyisihkan tabungan 100 gulden untuk membeli saham VOC. Inilah bukti pertama, sistem perseroan terbatas lahir karena rakyat jelata pun percaya pada nilai ekonomi rempah Maluku.
VOC menjadi perusahaan terkaya dalam sejarah manusia. Beberapa estimasi menyebut nilainya setara dengan US$8,2 triliun dalam ukuran modern melebihi gabungan Microsoft, Apple, dan Facebook. Namun, kekayaan ini tidak lahir dari inovasi atau industri. Kekayaan ini lahir dari monopoli paksa atas cengkeh dan pala Maluku.
Sistem pembagian keuntungan VOC sangat unik dan sekaligus sangat sinis, dividen dibayarkan dalam bentuk rempah-rempah, bukan uang tunai. Setiap kali kapal tiba dari Maluku membawa muatan rempah bisa enam bulan atau setahun sekali VOC membagi-bagikan karung berisi lada, pala, dan cengkeh kepada para pemegang saham.
Bayangkan ironinya, rakyat Maluku menanam, merawat, memanen, dan menyaksikan hasil bumi mereka diangkut ke seberang lautan. Lalu hasil itu menjadi dividen bagi investor di Amsterdam, sementara rakyat Maluku sendiri tidak pernah melihat keadilan dari tanah yang mereka garap.
Kejayaan VOC tidak dibangun di atas perdagangan yang adil. VOC menerapkan kebijakan ekstirpasi, hak untuk menebang seluruh tanaman rempah yang dianggap berlebihan demi menjaga harga tetap tinggi di Eropa. Tanaman cengkeh dan pala yang bagi rakyat Maluku "seperti beras bagi rakyat Jawa," sebagaimana tercatat dalam sumber sejarah dimusnahkan secara sistematis.
Di Pulau Banda, VOC melakukan genosida terhadap penduduk asli yang menolak monopoli. Di Ternate dan Tidore, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen menghancurkan semua tanaman cengkeh secara brutal. Rakyat Maluku dilarang menjual rempah kepada siapa pun selain VOC. Mereka menjadi budak di tanah mereka sendiri, sementara di Belanda, para pemegang saham VOC menuai keuntungan berlipat ganda.
Hari ini, Maluku masih memproduksi ribuan ton cengkeh per tahun, salah satu yang terbesar di Indonesia. Pala dari Kepulauan Banda tetap menjadi yang terbaik di dunia. Tapi rakyat Maluku masih miskin, infrastruktur masih rusak, desa-desa masih terisolasi.
Pertanyaan yang harus kita lontarkan dengan lantang. Jika cengkeh dan pala Maluku mampu melahirkan sistem perseroan terbatas, mampu menciptakan pasar modal pertama di dunia, mampu menjadikan VOC sebagai perusahaan terkaya sepanjang masa lalu mengapa Maluku sendiri tidak pernah menikmati kekayaan itu?
Jawabannya bukan karena Maluku miskin sumber daya. Jawabannya adalah sistem ekonomi global sejak 400 tahun lalu dibangun di atas eksploitasi Maluku, bukan untuk kesejahteraan Maluku. Sistem perseroan terbatas yang kita banggakan sebagai "kemajuan peradaban" lahir dari perampokan sistematis atas kekayaan alam Maluku.
Maluku kaya. Yang miskin adalah kebijakan, keadilan, dan pengakuan atas hak-hak rakyatnya.
Referensi
1. Historia.id Ketika Bangsa Eropa Memperebutkan Maluku (2019)
2. Historia.id 25 Februari 1605: Portugis Menyerah Kepada VOC (2016)
3. Historia.id Asisten Rumah Tangga Jadi Pemilik Saham Pertama VOC (2024)
4. Kompas.com Mengapa Wilayah Maluku Disebut Sebagai Kepulauan Rempah-rempah? (2024)
5. CNBC Indonesia Perusahaan Jumbo Dunia Tebar Dividen Pakai Barang Hasil Keruk Bumi RI (2025)
6. Databoks Produksi Cengkeh Indonesia (2025)










