![]() |
| Foto : Aksi Pengrusakan Kemarin Di Sawau, Diduga Ada Keterlibatan Ketua Klasis Kairatu, Simon Matital Turun Tangan |
Nuruwe, Globaltimurnn.com - Pasca pengrusakan pohon kelapa, jambu mente, pisang milik Wa Nuru di lokasi lahan Sawau, antara Desa Nuruwe dan Waisamu, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Raja Nuruwe Simon Matital merasa resah dan sedikit kecewa.
Simon Matital selaku kepala Desa Nuruwe kepada sejumlah Media lewat pesan whatsapp-nya mengungkapkan perasaan isi hatinya dengan kejadian yang baru terjadi kemarin pagi hingga hari ini, di lokasi Sawau, antara Desa Nuruwe dan Waisamu pada lahan kelapa dan jambu mente milik Wa Nuru warga masyarakat Nuruwe.
Matital sesalkan keterlibatan Ketua Klasis Kairatu pada kegiatan majelis Jemaat GPM Waisamu yang secara tidak secara lansung berujung pada pengrusakan tanaman dan bagian rumah warga Nuruwe, yang sudah 60 tahun hidup di lokasi tersebut.
Peristiwa tersebut berujung pengancaman pembunuhan pada Wa Nuru yang di lakukan oleh salah satu warga masyarakat Desa Waisamu Alexander Riripoy dengan menggunakan alat tajam parang.
Keterlibatan Ketua Klasis dalam kegiatan itu menurut Simon Matital bukanlah sebuah sikap seorang pimpinan umat pada masyarakat yang mana Nuruwe juga bagian dari umat GPM dari Klasis Kairatu.
Kata Simon Matital" Seharusnya sebagai pimpinan umat sebagai ketua Klasis mestinya sebagai penengah karena bukan masalah agama, yang sulit terselesaikan, namun hanya masalah program Jemaat dengan Wa Nuru yang berdomisili di lahan tersebut sebagai warga Nuruwe yang memiliki hak tanaman pohon kelapa, jambu mente yang sudah di olah oleh orang tua kandungnya sejak diatas 60 tahun lalu.
Sangat disesalkan kata Simon, kenapa Ketua Klasis harus ikut ambil peran bahkan informasi yang diterima Ketua Klasis yang memimpin kegiatan tersebut, ini mencerminkan sikap yang kurang etis sebagai seorang pemimpin, kami sangat sesalkan sikap tersebut. Pungkasnya
Hingga berita ini diturunkan, Ketua Klasis Kairatu belum bisa dihubungi, Matital secara tegas meminta Sinode GPM Maluku ambil sikap turun lansung melihat hal tersebut, agar ada solusi penyelesaian yang baik, sehingga tidak berdampak buruk lebih besar memicu perpecahan. Pungkasnya (***)













