globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Sabtu, 05 September 2026

Maulid Nabi di Langgur: Ketika Teladan Rasulullah Bertemu dengan Semangat Ain Ni Ain

September 05, 2026


Langgur
, Globaltimurnn.com — Lantunan ayat suci Al-Qur’an perlahan memenuhi ruang Masjid Agung Raudha, Langgur. Suasana Jumat itu terasa berbeda. Wajah-wajah jamaah tertunduk khusyuk, sementara gema ayat suci menjadi pembuka sebuah peringatan yang bukan sekadar mengenang kelahiran seorang manusia agung, tetapi juga menghidupkan kembali pesan tentang persaudaraan dan perdamaian.


Di masjid yang menjadi salah satu pusat kehidupan keagamaan masyarakat Maluku Tenggara itu, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bersama Panitia Hari Besar Islam (PHBI) menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (04/09/2027).


Tema yang diusung pun terasa dekat dengan denyut kehidupan masyarakat setempat: “Rasulullah SAW Teladan Kita, Ain Ni Ain Pererat Kita, Persaudaraan dan Perdamaian Kekuatan Maluku Tenggara.”


Tema itu seolah menjadi jembatan antara keteladanan Rasulullah SAW dengan nilai luhur yang telah lama hidup di tengah masyarakat Maluku Tenggara Ain Ni Ain, sebuah filosofi tentang persaudaraan, kebersamaan dan kehidupan dalam ikatan saling menghargai.


Rangkaian kegiatan dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan Qori Abdulwahab Rumaf.


Suara merdu sang qori mengawali perjalanan spiritual para jamaah yang hadir. Perlahan, suasana masjid semakin khidmat.


Nuansa kecintaan kepada Rasulullah SAW kemudian semakin terasa ketika ibu-ibu Majelis Raudha membawakan marhaban massal.


Lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggema di dalam masjid. Bagi jamaah, marhaban bukan sekadar bagian dari rangkaian acara, melainkan ekspresi kecintaan kepada sosok Rasulullah SAW yang sepanjang hidupnya mengajarkan kasih sayang, persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama, Di tengah suasana itulah pesan utama Maulid mulai menemukan ruangnya.


Puncak peringatan diisi dengan penyampaian hikmah oleh Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon, yang secara khusus hadir dalam kegiatan tersebut.


Di hadapan jamaah, Habib Rifqi mengajak umat untuk tidak menjadikan Maulid sekadar sebagai momentum seremonial tahunan.


Kelahiran Rasulullah SAW, menurut pesan yang disampaikannya, harus menjadi pintu untuk kembali melihat bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalani kehidupan dan membangun hubungan dengan manusia.


Rasulullah bukan hanya menjadi teladan dalam ibadah, tetapi juga dalam cara memperlakukan orang lain.


Dalam kehidupan bermasyarakat, kedamaian harus dijaga. Persaudaraan harus diperkuat. Dan segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan perpecahan harus dihindari.


Pesan tersebut menemukan relevansinya dengan kehidupan masyarakat Maluku Tenggara yang memiliki kekayaan tradisi kebersamaan melalui nilai Ain Ni Ain.


Ain Ni Ain bukan sekadar ungkapan, Ia merupakan semangat untuk melihat orang lain sebagai bagian dari kehidupan bersama.


Dalam nilai itu, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk menjauh. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap orang mampu saling menghormati dan saling menjaga.


Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak dan menghadapi berbagai perubahan, pesan tentang persaudaraan menjadi semakin penting.


Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana, saling menyapa, saling membantu, menghormati perbedaan, menjaga ucapan dan tidak mudah terprovokasi oleh sesuatu yang dapat memecah hubungan antarsesama, Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama diajarkan Rasulullah SAW.


Kasih sayang, keadilan, kepedulian dan persaudaraan menjadi bagian dari keteladanan Nabi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Karena itu, Maulid Nabi di Masjid Agung Raudha seakan mengingatkan kembali bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperbanyak pujian kepadanya, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan nyata, Peringatan Maulid kemudian tidak berhenti pada ceramah dan rangkaian ibadah.


Ada pesan lain yang juga ingin dihidupkan: bahwa kecintaan kepada Rasulullah harus melahirkan kepedulian terhadap sesama.


Sebab Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak hanya dekat kepada Allah, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kehidupan orang lain.


Jumat itu, Masjid Agung Raudha bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah peringatan keagamaan.


Ia menjadi ruang untuk kembali mengingat siapa yang menjadi teladan dan nilai apa yang perlu dijaga.


Dari Langgur, pesan Maulid Nabi tahun ini terasa sederhana, namun dalam meneladani Rasulullah SAW, merawat Ain Ni Ain, mempererat persaudaraan dan menjaga perdamaian.


Sebab kekuatan Maluku Tenggara bukan hanya terletak pada kekayaan alam dan budayanya, tetapi juga pada kemampuan masyarakatnya untuk hidup bersama.


Dan selama nilai persaudaraan itu terus dirawat, pesan Rasulullah tentang kasih sayang dan perdamaian akan tetap menemukan tempatnya, bukan hanya di dalam masjid, tetapi juga di rumah, di kampung, di ruang-ruang publik dan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. (Za)

Selengkapnya

Kapolres Malteng Di Dampingi Ketua Cabang Bayangkari Malteng Kunjungi Negeri Masihulan

September 05, 2026


Masihulan
, globaltimurnn.com - Kapolres Maluku Tengah  AKBP Widy Irawan,S.I.K Di Dampingi Ibu Ketua Bayangkari cabang Maluku Tengah Ny,Lusy Widy Mengunjungi Negeri Masihulan Kecamatan seram Utara Kabupaten Maluku Tengah pada 5/9/2026


Kunjungan itu hanya beberapa saat saja namun terkesan ada kepedulian terhadap warga masyarakat yang notabene merupakan masyarakat Maluku Tengah 


Kapolres Di sambut baik dan penuh kehangatan oleh pemerintah Negeri Masihulan dan Staf dan Badan Permusyawatan negeri (BPN), kehadiran Kapolres itu memberikan apresiasi penuh dari masyarakat secara umum terhadap kunjungan perdana yang di gelar oleh Kapolres Maluku Tengah 


Kapolres dalam tatap mukanya sangat singkat bersama masyarakat negeri Masihulan saat itu dan dirinya mengatakan "saya menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga keamanan dan kenyamanan jangan lagi ada hal-hal baru yang di timbulkan, tetapi marilah kita sama-sama membantu untuk menjaga keamanan"harap Kapolres 


Kapolres AKBP Windy Irawan dan Ny,Lusy Irawan beserta  rombongan para perwira polres Maluku Tengah dan Kepala pemerintah Kecamatan Seram Utara M.Ohorella dan Kapolsek Seram Utara wahai AKP.F.Sabban,SHI,MH turut bersamasama, mendampingi Kapolres dalam kunjungan di saat itu



Kunjungan Kapolres dan ibu ketua cabang Bayangkari adalah merupakan sebuah bagian dari silaturahmi kekeluargaan di antara pimpinan Kapolres dan Masyarakatnya.dan hal itu merupakan salah satu inisiatif seorang pimpinan terhadap masyarakatnya  sebagai Kapolres Maluku Tengah 


Kegiatan tersebut adalah sebagai suatu perhatian dan kepedulian sosok seorang pimpinan yang peduli dan prihatin terhadap warga masyarakatnya yang ada di negeri Masihulan yang terkena korban konflik kemanusiaan dua negeri yakni Masihulan dan Sawai pada tanggal 3 april tahun 2025 yang lalu 



Selain bersilahturahmi ibu Bayangkari juga melakukan misinya untuk memberikan bantuan sembako kepada 50 warga masyarakat Negeri Masihulan yang layak  menerimanya seperti para ibu-ibu janda duda dan lansia


Usai kegiatan itu,Ibu Bayangkari juga foto bareng bersama anak-anak negeri setempat demikian juga dengan bapak Kapolres dan ibu ketua cabang Bayangkari foto bersama pimpinan jemaat GPM Masihulan 


Dan setelah selesai tatap muka bersama warga masyarakat di negeri Masihulan Kapolres dan ibu Bayangkari beserta rombongan berpamitan dari warga masyarakat Negeri Masihulan dan bertolak kembali menuju ke kota kabupaten Maluku Tengah Masohi. (LL.01)

Selengkapnya

Senandung Dari Bethfage, Ketika Musik Menjadi Bahasa Syukur dan Persaudaraan

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Malam baru saja turun di Kusu-Kusu Sereh. Namun halaman Gereja Bethfage tidak sedang bersiap untuk tidur.


Lampu-lampu menyala. Suara musik mengalun. Warga berdatangan, mengambil tempat di sekitar halaman gereja. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang bersama tetangga dan sahabat.


Malam itu, Sabtu (05/09/2026), halaman Gereja Bethfage berubah menjadi panggung kebersamaan, Di tempat itu, Jemaat GPM Bethfage Kusu-Kusu Sereh menggelar konser musik bertajuk “Senandung Merdu dari Bethfage Ucap Syukur untuk GPM.”


Bagi warga jemaat, malam itu merupakan titik puncak dari rangkaian Hari Besar Gerejawi (PHBG) yang telah berlangsung sejak 15 Agustus. Beragam kegiatan sebelumnya telah mempertemukan warga dalam suasana penuh kegembiraan, mulai dari tarik tambang, lomba caca, jelajah alam hingga baris kreasi.


Musik yang dinyanyikan bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan sebagai ungkapan syukur, Ketua Panitia PHBG Jemaat Kusu-Kusu Sereh, yang juga Danramil 1504-06/Nusaniwe, Kapten Inf. Andreas Vikodey, menyebut konser tersebut sebagai persembahan bagi seluruh warga.


“Pada malam hari ini, kita melaksanakan kegiatan puncak berupa konser hiburan bagi seluruh warga,” Di balik panggung dan kemeriahan malam itu, panitia ternyata masih menyimpan agenda lain.


Dalam waktu dekat, warga setiap sektor akan diajak terlibat dalam lomba menghias lampu Natal di sepanjang jalan Kusu-Kusu Sereh, Bagi Andreas, kegiatan itu bukan sekadar perlombaan mempercantik lingkungan. Ada semangat kebersamaan yang ingin terus dirawat.


“Kami sangat mengharapkan dukungan dari seluruh warga di setiap sektor agar bersama-sama memperindah kampung kita,” ujarnya.


Sebab, yang hendak dibangun bukan hanya suasana kampung yang indah, tetapi juga hubungan antarsesama yang semakin erat, Andreas menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan PHBG tidak membawa kepentingan politik.


Konser itu, kata dia, murni dipersembahkan sebagai ruang bagi keluarga besar jemaat dan masyarakat untuk berkumpul, menikmati hiburan dan merasakan kebersamaan.


“Kegiatan ini tidak memiliki maksud lain dan tidak mengandung unsur politik. Tujuan kami sederhana, yaitu bagaimana keluarga besar dan seluruh warga dapat menikmati kebersamaan serta merasa senang,” tegasnya.


Menariknya, persiapan konser dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, Panitia hanya memiliki waktu sekitar satu pekan untuk merancang konsep hingga memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan, Namun keterbatasan waktu justru memperlihatkan kekuatan lain: kekompakan.


Andreas memberikan apresiasi kepada seluruh panitia yang menurutnya mampu bekerja cepat dan disiplin.


“Dalam waktu satu minggu, teman-teman telah bekerja luar biasa. Saya bisa mengatakan kerja panitia kali ini seperti bekerja layaknya militer—cepat, disiplin, dan penuh kekompakan,” katanya.


Semangat itu diharapkan tidak berhenti ketika panggung konser dibongkar dan lampu-lampu dipadamkan.


Andreas ingin kekompakan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kusu-Kusu Sereh, Baginya, ada tiga unsur penting yang harus terus berjalan beriringan dalam kehidupan negeri adat: adat, gereja dan pendidikan.


“Ketiga unsur ini harus terus kita rangkum dan satukan dalam semangat kolaborasi,” ujarnya.


Ketua Majelis Pekerja Klasis (MPK) GPM Pulau Ambon, Pdt. W.A. Beresaby, S.Th., mengingatkan bahwa perayaan seperti ini jangan kehilangan akar utamanya: iman dan rasa syukur.


Sekitar 570 kepala keluarga ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Jumlah itu menjadi bagian dari keluarga besar pelayanan Klasis GPM Pulau Ambon yang mencapai sekitar 16.465 kepala keluarga.


Bagi Beresaby, sebuah perayaan gerejawi seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat keluarga, menumbuhkan kebersamaan dan memberikan teladan yang baik bagi anak-anak.


Karena itu, ia mengingatkan agar sukacita tidak berubah menjadi sesuatu yang justru merusak makna perayaan.


“Jangan sampai perayaan-perayaan iman kita dinodai dengan pesta mabuk-mabukan. Mari kita menjaga agar keluarga kita tetap sehat, anak-anak kita dapat tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya.


Di Ambon, perbedaan agama bukan alasan untuk saling menjauh. Justru dalam keberagaman itulah semangat hidup orang basudara harus terus dijaga.


“Kota Ambon adalah rumah bersama. Negeri-negeri kita harus menjadi tempat yang aman bagi semua, dan Kota Ambon harus menjadi kota yang nyaman bagi seluruh masyarakat,” pungkas Beresaby.


Bagi Pemerintah Kota Ambon, konser tersebut juga memiliki arti lain, Wali Kota Ambon yang diwakili Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan dan Pelayanan Publik, Alexander J. Hursepuny, M.T., melihat seni dan musik sebagai ruang yang mampu mempertemukan banyak orang.


Di atas panggung, perbedaan tidak lagi menjadi jarak, Nada, suara dan irama justru menyatukannya.


Melalui musik dan seni, kita diberikan ruang untuk bertemu, berinteraksi, dan menikmati kebersamaan. Dari seni, kita belajar bahwa perbedaan dapat dirangkai menjadi sesuatu yang indah ketika kita membangun kebersamaan, katanya.


Lebih jauh, pemerintah melihat ruang-ruang seperti ini sebagai kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang.


Kota Ambon yang dikenal dengan identitasnya sebagai kota musik membutuhkan ruang agar anak-anak mudanya tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku.


“Kita ingin anak-anak muda Ambon menjadi pelaku sekaligus penggerak ekonomi kreatif. Semakin banyak ruang yang diberikan kepada mereka untuk berkarya, semakin besar pula peluang untuk melahirkan karya-karya kreatif dan talenta-talenta baru dari Kota Ambon,” ujar Alexander.


Dari sisi Pemerintah Provinsi Maluku, konser Bethfage juga dibaca sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pertunjukan.


Gubernur Maluku yang diwakili Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Maluku, Onesimus Soumeru, berbicara tentang musik sebagai bahasa yang mampu menyampaikan pesan tanpa harus mengenal batas.


Sebuah konser bukan hanya tentang suara, tetapi juga tentang hati. Bukan hanya tentang siapa yang bernyanyi, tetapi tentang apa yang hendak kita sampaikan melalui nyanyian tersebut, ujar Onesimus.


Malam itu, pesan yang hendak disampaikan adalah syukur, iman, kasih dan persaudaraan, Nada-nada yang mengalun dari halaman Gereja Bethfage diharapkan tidak berhenti sebagai hiburan setelah konser selesai.


Musik diharapkan mampu menyejukkan hati, meredam perbedaan dan kembali mengingatkan masyarakat Maluku tentang kuatnya ikatan pela-gandong dan semangat hidup orang basudara.


“Musik adalah bahasa universal. Malam ini kita menyatu dalam satu frekuensi, yaitu frekuensi syukur,” harapnya.


Namun, pembangunan Maluku tentu bukan pekerjaan satu pihak, Onesimus menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan gereja dan masyarakat untuk bersama-sama menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi.


Pemerintah Provinsi Maluku tidak dapat berjalan sendiri. Kami membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh warga GPM untuk bersama-sama mengatasi berbagai tantangan sosial dan ekonomi serta mewujudkan Maluku yang semakin maju, sejahtera, dan berkeadilan, katanya.


Ketika konser memasuki bagian akhir, halaman Gereja Bethfage masih dipenuhi warga, Musik terus mengalun. Senandung terdengar di antara kerumunan, Tetapi malam itu sesungguhnya bukan hanya tentang siapa yang tampil di atas panggung.


Ia bercerita tentang sebuah jemaat yang memilih merayakan syukur dengan berkumpul.


Tentang panitia yang bekerja dalam waktu singkat tetapi mampu menunjukkan kekompakan, Tentang gereja yang mengingatkan bahwa sukacita harus tetap berada dalam koridor iman, Tentang pemerintah yang melihat musik sebagai ruang kreativitas generasi muda, Dan tentang Maluku yang terus mencari cara untuk merawat persaudaraan di tengah keberagaman.


“Senandung Merdu dari Bethfage Ucap Syukur untuk GPM” akhirnya ditutup dengan penampilan musik dan senandung bersama.


Namun pesan dari malam itu diharapkan tetap tinggal: bahwa syukur tidak selalu harus diucapkan dalam kata-kata. Kadang, ia cukup dinyanyikan bersama—dalam satu nada, satu hati, dan satu semangat persaudaraan. (Za)

Selengkapnya

Gerak Jalan Inda Amboina, Warisan Kebersamaan, Berpotensi Jadi Ikon Nasional Kota Ambon

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Derap langkah kembali memenuhi jalan-jalan utama Kota Ambon, Sabtu (05/09/2026). Ribuan peserta tampil dengan beragam kostum dan formasi, menghadirkan warna tersendiri di tengah suasana kota yang dipenuhi masyarakat.


Di antara barisan yang berjalan teratur, ada semangat yang jauh lebih besar dari sekadar mengejar kemenangan. Ada kebersamaan, kreativitas, disiplin, sekaligus tradisi yang terus dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Semangat itulah yang kembali terlihat dalam Lomba Gerak Jalan Inda Amboina 2026.


Bagi anggota Komisi III DPRD Kota Ambon, Lucky Leonard Upulatu Nikijuluw, kegiatan tersebut merupakan salah satu tradisi masyarakat yang memiliki nilai sosial dan budaya cukup kuat. Menurutnya, Gerak Jalan Inda Amboina tidak seharusnya hanya dipandang sebagai perlombaan tahunan.


Ia memberikan apresiasi kepada Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Kota Ambon yang dinilai konsisten mempertahankan kegiatan tersebut.


“Sebagai wakil rakyat, kami memberikan apresiasi kepada Angkatan Muda Gereja Maluku (AMGPM) Daerah Kota Ambon yang terus mempertahankan kegiatan ini,” ujar Lucky.


Menurut Lucky, keberadaan Gerak Jalan Inda Amboina yang telah berlangsung sejak era 1980-an menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah melekat dalam kehidupan masyarakat Kota Ambon.


Waktu boleh berubah. Generasi terus berganti. Namun, nilai yang dibawa melalui kegiatan itu tetap memiliki relevansi.


Gerak jalan mengajarkan peserta tentang kekompakan, kedisiplinan dan tanggung jawab. Setiap anggota barisan harus mampu menyesuaikan langkah dengan anggota lainnya. Tidak ada ruang bagi kepentingan pribadi ketika seluruh barisan harus bergerak dalam satu irama.


Dari proses sederhana tersebut, menurut Lucky, tumbuh nilai persaudaraan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ambon.


“Di satu sisi, kreativitas dan keterampilan baris-berbaris menjadi dasar bagi warga Kota Ambon untuk terus meningkatkan kemampuan dan partisipasi mereka,” katanya.


Lucky menilai Gerak Jalan Inda Amboina dapat terus dikembangkan agar semakin banyak lapisan masyarakat yang terlibat.


Ia mendorong agar kategori peserta dapat diperluas, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga berbagai komunitas yang ada di Kota Ambon.


Dengan semakin banyak kelompok yang berpartisipasi, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang bersama bagi masyarakat untuk berkreasi.


“Harapan kami masyarakat Kota Ambon harus menyambut dan menjaga momentum ini dengan baik, supaya ke depan LGJ ini terus berlangsung dengan baik,” ungkapnya.


Bagi Lucky, keberlanjutan kegiatan tidak hanya bergantung kepada pemerintah dan panitia. Dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar tradisi tersebut tetap hidup.


Sebab, ketika masyarakat ikut menjaga dan meramaikan sebuah kegiatan, maka kegiatan itu akan memiliki umur yang lebih panjang.


Di balik kemeriahan Gerak Jalan Inda Amboina, terdapat manfaat lain yang turut dirasakan masyarakat, yakni pergerakan ekonomi.


Ribuan peserta dan penonton yang memadati kawasan pelaksanaan kegiatan menciptakan peluang bagi pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, penyedia jasa transportasi serta berbagai usaha kecil lainnya.


Aktivitas ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kegiatan publik seperti Gerak Jalan Inda Amboina perlu terus mendapatkan perhatian.


“Perputaran uang itu terjadi di Kota Ambon. Belum lagi UMKM yang turut terlibat di dalamnya,” ujar Lucky.


Karena itu, menurutnya, sebuah kegiatan tidak semestinya hanya dihitung berdasarkan besaran anggaran yang dikeluarkan. Dampak yang muncul setelah kegiatan berlangsung juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan.


Ada masyarakat yang mendapatkan penghasilan. Ada UMKM yang memperoleh pelanggan. Ada ruang publik yang kembali dipenuhi aktivitas warga.


Semua itu menjadi bagian dari manfaat yang lahir dari sebuah kegiatan masyarakat.


Melihat sejarah dan antusiasme masyarakat yang terus terjaga, Lucky menilai Gerak Jalan Inda Amboina memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi agenda yang lebih besar.


Ia bahkan berharap kegiatan tersebut suatu saat dapat memiliki gaung hingga tingkat nasional dan menjadi salah satu identitas khas Kota Ambon.


Namun, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan pengelolaan yang konsisten, inovasi serta keterlibatan berbagai pihak.


Menurutnya, pemerintah, panitia, peserta, komunitas dan masyarakat harus memiliki semangat yang sama untuk menjaga kualitas kegiatan.


Selain kreativitas peserta, faktor sportivitas juga menjadi perhatian.


Lucky mengingatkan panitia dan para juri agar menjalankan tugas secara profesional dan objektif. Penilaian yang transparan akan menjaga kepercayaan peserta sekaligus memberikan legitimasi terhadap hasil perlombaan.


“Harapan kami panitia bisa menjaga netralitas, terutama para juri, supaya hasilnya membawa output yang positif,” katanya.


Pada akhirnya, Gerak Jalan Inda Amboina bukan hanya soal barisan yang paling rapi atau peserta yang keluar sebagai juara.


Di balik setiap langkah terdapat cerita tentang masyarakat yang berkumpul, generasi muda yang menunjukkan kreativitas, komunitas yang ikut mengambil bagian, serta pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk menggerakkan roda ekonomi.


Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk merawat semangat orang basudara di tengah dinamika Kota Ambon yang terus berkembang.


Derap langkah yang terdengar di jalan-jalan kota menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi dapat tetap hidup ketika masyarakat mau menjaganya bersama.


Dan jika dikelola secara berkelanjutan, Gerak Jalan Inda Amboina bukan tidak mungkin tumbuh dari sebuah tradisi lokal menjadi agenda khas Kota Ambon yang dikenal hingga panggung nasional. (Za)

Selengkapnya

Dari Jejak Tsunami 1950, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Lewat EWS dan Tugu Peringatan

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Tujuh puluh enam tahun telah berlalu sejak gelombang tsunami menerjang kawasan Galala dan Hative Kecil pada 8 Oktober 1950. Namun, jejak peristiwa itu tidak dibiarkan hilang ditelan waktu.


Di kawasan yang pernah menjadi saksi bencana tersebut, kini berdiri sebuah tugu peringatan. Tidak jauh dari sana, sebuah sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir dipasang untuk memberikan tanda kepada masyarakat ketika ancaman mulai meningkat.


Keduanya menjadi simbol bahwa pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran untuk menghadapi masa depan.


Tugu Peringatan Tsunami Ambon 1950 dan EWS banjir tersebut secara resmi diresmikan oleh Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., bersama perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA), Kyoto University Jepang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pattimura (Unpatti), serta sejumlah pihak yang terlibat dalam penguatan pengurangan risiko bencana di Kota Ambon, Sabtu (05/09/2026.


Peresmian itu menjadi lebih dari sekadar seremoni pembangunan infrastruktur. Pemerintah Kota Ambon ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang untuk mengingat sejarah sekaligus mengajarkan masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan.


Bodewin menegaskan, tugu yang dibangun tidak boleh hanya dipandang sebagai bangunan fisik.


“Tugu ini mesti dipandang bukan sekadar monumen batu beton yang berdiri begitu saja. Tugu ini adalah pengingat,” tegasnya.


Menurut Bodewin, generasi saat ini perlu mengetahui bahwa Ambon pernah mengalami bencana tsunami. Pengetahuan tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa ancaman bencana bukan sesuatu yang hanya ada dalam cerita, tetapi pernah benar-benar terjadi dan dapat kembali terjadi.


Karena itu, sejarah harus ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan kebencanaan.


Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui kapan sebuah bencana pernah terjadi. Mereka juga harus memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana datang, bagaimana menyelamatkan diri, serta ke mana harus bergerak ketika kondisi darurat terjadi.


Kota Ambon sendiri merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi ancaman bencana. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem menjadi tantangan yang harus diantisipasi pemerintah dan masyarakat.


Bodewin mengatakan, berbagai peristiwa bencana yang terjadi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi.


“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita kurangi,” ujarnya.


Pengurangan risiko tersebut, kata dia, harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan infrastruktur, regulasi dan sistem peringatan. Sementara masyarakat memiliki peran penting dalam memahami informasi, mengikuti prosedur keselamatan dan menjaga fasilitas yang telah disediakan.


Salah satu upaya yang terus didorong Pemkot Ambon adalah penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana di tingkat desa dan negeri.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat edukasi kebencanaan sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.


Jika tugu menjadi pengingat masa lalu, maka EWS menjadi bagian dari persiapan menghadapi ancaman di masa depan.


Perangkat EWS yang dipasang di kawasan Galala dan Hative Kecil dirancang untuk memantau kondisi air dan memberikan indikasi peringatan sesuai tingkat ancaman.


Sistem tersebut menggunakan beberapa tingkatan status. Ketika kondisi masih normal, masyarakat berada dalam keadaan aman. Namun, ketika permukaan air mulai mengalami peningkatan, status kewaspadaan akan berubah.


Pada tingkat oranye, masyarakat diminta mulai bersiap. Sedangkan ketika indikator mencapai merah, masyarakat harus segera melakukan evakuasi.


Peringatan tersebut menjadi penting karena dalam situasi bencana, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Beberapa menit tambahan untuk mengetahui adanya ancaman dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyelamatkan anak-anak, orang lanjut usia, keluarga maupun warga yang membutuhkan bantuan.


Bodewin juga mengingatkan kondisi banjir yang pernah terjadi di kawasan Galala dan Hative Kecil. Ketika debit air meningkat, genangan bahkan dapat mencapai kawasan jembatan.


Karena itu, keberadaan EWS diharapkan tidak hanya menjadi alat yang berdiri di tengah lingkungan masyarakat, tetapi benar-benar dipahami dan dimanfaatkan.


Jangan Rusak Alat yang Dibangun untuk Keselamatan


Di balik pembangunan fasilitas tersebut, Bodewin menitipkan pesan kepada Raja Negeri, pemerintah setempat dan seluruh masyarakat.


“Saya titip pesan buat Bapak Raja dan semua warga. Ingat, alat ini penting. Kita cukup menjaganya saja. Jangan dijahili, jangan dirusak,” pintanya.


Pesan tersebut disampaikan karena fasilitas publik yang dibangun pemerintah pada akhirnya kembali kepada masyarakat untuk digunakan dan dirawat bersama.


Bodewin bahkan mengingatkan masih adanya fasilitas publik di Kota Ambon yang mengalami kerusakan atau kehilangan bagian setelah dibangun.


Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi terhadap perangkat EWS yang memiliki fungsi jauh lebih penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.


Menurutnya, pembangunan kota yang modern tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang baik, tetapi juga masyarakat yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap fasilitas bersama.

Peresmian tugu dan EWS tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan kolaborasi.


Pemerintah Kota Ambon tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan JICA, Kyoto University, ITB, Unpatti dan berbagai pihak lainnya menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas Kota Ambon menghadapi ancaman bencana.


Kerja sama tersebut tidak berhenti pada pemasangan perangkat. Pengetahuan, riset, pemetaan risiko, edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan.


Dengan demikian, pembangunan sistem peringatan dini harus berjalan beriringan dengan pembangunan kesadaran masyarakat.


Sebab alat secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal jika masyarakat tidak memahami arti peringatan yang diberikan.


Di Galala dan Hative Kecil, dua simbol kini berdiri berdampingan.


Tugu menghadap ke masa lalu, mengingatkan generasi sekarang tentang tsunami yang pernah terjadi pada 8 Oktober 1950.


Sementara EWS menghadap ke masa depan, memberikan peringatan ketika ancaman banjir mulai meningkat.


Keduanya membawa pesan yang sama: jangan melupakan sejarah dan jangan mengabaikan peringatan.


Bodewin berharap masyarakat tidak memandang pembangunan tersebut sekadar sebagai proyek pemerintah. Lebih dari itu, tugu dan EWS merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk melindungi masyarakat.


“Kalau kejadian itu terjadi, kita tidak bisa menghindarinya. Tetapi paling tidak kita bisa menyelamatkan diri,” tutur Bodewin.


Pesan itu menjadi inti dari seluruh upaya tersebut. Bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi korban dan dampaknya dapat ditekan melalui pengetahuan, kesiapsiagaan dan tindakan yang cepat.


Kini, ketika masyarakat melintas di Galala dan Hative Kecil, sebuah tugu mengingatkan tentang apa yang pernah terjadi.


Dan ketika air mulai naik, sebuah sistem peringatan dini diharapkan memberi tanda agar masyarakat tidak terlambat mengambil langkah.


"Mengingat sejarah. Membaca peringatan. Menyelamatkan kehidupan." (Rdks) 

Selengkapnya

Ribuan Warga Semarakkan Gerak Jalan Indah Amboina 2026, Wali Kota Tekankan Sportivitas dan Kebersihan

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Suasana Kota Ambon semakin semarak dalam rangkaian perayaan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-91. Kemeriahan tersebut ditandai dengan digelarnya Lomba Gerak Jalan Indah Amboina 2026, Sabtu (05/09/2026).


Sejak pagi, antusiasme masyarakat terlihat di sepanjang ruas jalan yang menjadi jalur perlombaan. Warga dari berbagai kalangan hadir menyaksikan peserta yang tampil dengan beragam seragam, formasi barisan, gerakan dan kreativitas masing-masing.


Sorak-sorai penonton pun mengiringi langkah para peserta yang berusaha memberikan penampilan terbaik dalam ajang yang menjadi salah satu agenda kemeriahan HUT Kota Ambon dan HUT GPM tahun ini.


Lomba tersebut secara resmi dibuka oleh Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si. Pembukaan ditandai dengan pemotongan pita dan pelepasan balon gas sebagai simbol dimulainya perlombaan.

Dalam sambutannya, Bodewin mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk menjadikan Gerak Jalan Indah Amboina bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang mempererat tali persaudaraan.


Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi bagian penting dalam setiap rangkaian perayaan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91.


“Laksanakan lomba ini dengan baik, jujur dan sportif. Persaingan tetap ada, tetapi yang kita butuhkan adalah persaingan yang sehat,” pesan Bodewin kepada seluruh peserta.


Ia berharap setiap kelompok dapat menunjukkan kemampuan terbaik tanpa mengabaikan nilai-nilai sportivitas. Menang atau kalah, kata dia, bukan satu-satunya tujuan dari sebuah perlombaan.


Lebih jauh, Wali Kota juga meminta panitia dan dewan juri bekerja secara profesional dengan memberikan penilaian yang adil dan objektif.


“Panitia dan dewan juri, lakukan tugas penyelenggaraan dengan baik. Berikan penilaian yang benar dan objektif, sehingga seluruh peserta dapat mengikuti lomba ini dengan baik,” ujarnya.


Di tengah kemeriahan perlombaan, Bodewin turut mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.


Ia mempersilakan warga yang datang menonton untuk membawa makanan maupun berbagai kebutuhan selama berada di lokasi. Namun, sampah yang dihasilkan diminta tidak dibuang sembarangan.


“Untuk para penonton, silakan membawa apa saja yang dibutuhkan, tetapi saya minta tetap menjaga kebersihan lingkungan. Jangan membuang sampah sembarangan,” tegasnya.


Menurutnya, perayaan HUT Kota Ambon dan HUT GPM harus mampu menghadirkan suasana yang meriah sekaligus menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.


Ambon, kata dia, harus tetap menjadi kota yang bersih, aman, nyaman dan menyenangkan bagi seluruh masyarakat.


Pesan tersebut menjadi bagian dari semangat yang ingin dibangun Pemerintah Kota Ambon dalam setiap kegiatan masyarakat. Kemeriahan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab untuk menjaga ruang publik.


Ketika barisan peserta mulai bergerak, suasana di sepanjang jalur perlombaan semakin hidup. Berbagai kelompok tampil dengan ciri khas masing-masing, mulai dari keseragaman barisan hingga gerakan yang telah dipersiapkan. 


Bagi masyarakat, Gerak Jalan Indah Amboina bukan sekadar tontonan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang perjumpaan warga sekaligus memperlihatkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Ambon.


Momentum ini juga memperlihatkan bagaimana olahraga, kreativitas dan budaya dapat berpadu dalam sebuah perayaan kota.


Di tengah langkah kaki para peserta dan riuh dukungan warga, pesan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91 kembali digaungkan: membangun kota tidak hanya membutuhkan pemerintah, tetapi juga partisipasi dan kepedulian seluruh masyarakat.


Menutup sambutannya, Bodewin secara resmi membuka perlombaan sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Kota Ambon.


Atas nama Pemerintah Kota Ambon, saya menyampaikan selamat berlomba. Lomba Gerak Jalan Indah Amboina Tahun 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka.


Ia kemudian mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum perayaan tersebut sebagai kesempatan untuk terus merawat persaudaraan dan kebersamaan.


“Selamat pagi warga Kota Ambon. Selamat merayakan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91. Mari kita jaga Ambon tetap bersih, aman, nyaman dan menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya. (Za)

Selengkapnya

Camat Teluk Ambon Sampaikan Ucapan Selamat HUT GPM ke-91 dan Kota Ambon ke-451

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Camat Teluk Ambon, Idrus Buamona, S.STP., M.I.Kom., menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-91 sekaligus HUT Kota Ambon ke-451.


Dalam momentum penuh sukacita tersebut, Idrus menyampaikan harapan agar peringatan kedua hari bersejarah ini menjadi momentum untuk terus memperkuat kebersamaan, persaudaraan, serta semangat membangun Kota Ambon.


“Selamat ulang tahun Gereja Protestan Maluku ke-91 dan Kota Ambon ke-451. Kiranya momentum ini semakin mempererat persaudaraan, menjaga keharmonisan dalam keberagaman, serta mendorong kita bersama membangun Ambon yang lebih baik,” ungkap Idrus.


Ia juga berharap nilai-nilai kebersamaan dan semangat hidup orang basudara terus menjadi kekuatan dalam menjaga kedamaian serta persatuan masyarakat di Kota Ambon.


Menurutnya, perjalanan panjang GPM selama 91 tahun dan Kota Ambon selama 451 tahun merupakan bagian penting dari sejarah dan kehidupan masyarakat Maluku yang harus terus dirawat bersama.


“Bersama merawat iman, budaya dan masa depan Ambon yang lebih baik,” menjadi pesan yang disampaikan Idrus dalam ucapan peringatan tersebut.


Idrus Buamona juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum HUT GPM ke-91 dan HUT Kota Ambon ke-451 sebagai kesempatan memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta terus berkarya bagi kemajuan Kota Ambon. (Za)

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT