globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 07 September 2026

Kebijakan Kadis Pertanian SBB Terkesan Tolol, Dinilai Pemborosan Anggaran, Sumur Bor Tanpa Melihat Bendungan

September 07, 2026

Gerard Wakano Tokoh Masyarakat SBB

SBB
, globaltimurnn.com - Di tengah desakan ekonomi yang melilit rakyat kecil, di saat setiap rupiah negara harus diperjuangkan untuk kesejahteraan, ada sebuah kisah pilu dari Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten SBB. 


Sebuah kisah tentang kebodohan yang terstruktur, tentang pemborosan yang direncanakan, dan tentang pemimpin yang buta terhadap akar masalah. Ungkap salah satu tokoh masyarakat SBB Gerard Wakano kepada sejumlah media di SBB saat ditemui-nya


Wakano mengatakan" Ini bukan sekadar cerita tentang bendungan yang tertutup material. 


Ini adalah cerita tentang betapa rendahnya kualitas kepemimpinan Bupati dan Kadis Pertanian, di mana seorang kepala dinas dan seorang Bupati dengan tenang menghabiskan miliaran rupiah untuk solusi yang salah, sementara solusi yang benar sudah tersedia di depan mata. Ungkap Wakano


Pasalnya" Desa Waimital memiliki sebuah bendungan yang dibangun dengan baik. 


Bendungan ini menjadi sumber kehidupan bagi ratusan hektar sawah, Namun, tahun berganti, material sirtu yang terbawa arus sungai perlahan menutup bendungan tersebut. 


Debit air menyusut, Sawah mulai mengering, Petani mulai putus asa, Masalahnya sederhana, bendungan perlu dikeruk, itu saja! Solusinya murah, pengerukan material sungai.


Sekarang malah kepala dinas mengeluarkan kebijakan bodoh dengan penggalian 11 sumur bor dengan biaya masing - masing sumur sekitar 150 juta rupiah, sebuah cermin tidak kompetennya kepala dinas pertanian. 


Ketika wartawan bertanya mengapa tidak dilakukan pengerukan saja, jawaban Kepala Dinas Pertanian sungguh mencengangkan, ‘Selama ini tidak ada laporan tentang bendungan yang tertutup material. 


Waduh pak Kadis, ini sebuah Ironi yang memalukan!! Bendungan itu hanya berjarak beberapa kilometer dari kantor dinas, Di sekitar lokasi persawahan, ada puluhan tenaga pertanian dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang setiap hari berinteraksi dengan petani. 


Di mana koordinasi anda, Pak La Radin? Tanya Wakano menepis


Di mana laporan dari PPL yang bertugas di Waimital? Mengapa Anda baru tahu ketika wartawan bertanya? Ini bukan ketidaktahuan, Ini adalah ketidakpedulian yang disengaja, Ini adalah pembiaran masalah agar proyek besar bisa dilaksanakan, Ini adalah tindakan yang tidak kompeten dan sangat tidak profesional.


Seorang kepala dinas seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan daerah, Seharusnya, anda dapat, Mendiagnosis masalah dengan tepat, Menemukan solusi yang efektif dan efisien,  Menggerakkan sumber daya untuk kemajuan rakyat, Namun, apa yang terjadi di Kabupaten SBB adalah kebalikannya.


Ini bukan kemajuan, Ini adalah kemunduran total, Bupati Seram Bagian Barat, sebagai pemimpin tertinggi di daerah, seharusnya mengawasi setiap kebijakan strategis, Namun, membiarkan Kepala Dinas Pertanian menjalankan kebijakan yang jelas-jelas merugikan rakyat adalah bentuk kelalaian yang sama besarnya.


Apakah Bupati SBB menyetujui kebijakan ini? Jika iya, mengapa Bupati memilih sumur bor yang mahal dan tidak efektif, padahal pengerukan bendungan jauh lebih murah dan berdampak luas? Apakah Bupati tidak tahu, atau Bupati diam saja?


Wakano juga menyoroti La Radin, S.Sos, selaku Kepala Dinas Pertanian, Jika tidak ada laporan tentang bendungan, lalu mengapa tim membuat RAB Irigasi Perkumpian Desa Waimital Tahun 2026 yang sangat detail? Di mana koordinasi Kadis dengan PPL dan kelompok tani? Apa gunanya memiliki tenaga pertanian jika Kadis sendiri tidak tahu kondisi di lapangan? Atau apakah Kadis sengaja tidak mau tahu agar proyek ini bisa berjalan? Heran Wakano sambil bertanya - tanya


Bupati dan Kadis Pertanian dinilai gagal dalam memimpin yang artinya Gagal memahami masalah rakyat, Gagal menemukan solusi yang tepat, Gagal menggunakan uang negara dengan bijak, Gagal menjadi pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat. Tegas Wakano 


Di saat rakyat Waimital berjuang mencari air untuk sawah mereka, di saat setiap rupiah sangat berarti bagi ketahanan pangan, Kadis memilih proyek yang hanya menguntungkan segelintir kontraktor dan pemasok. 


Kecaman ini bukan kebencian, Ini adalah cinta kepada negeri, cinta kepada rakyat yang menanti perhatian dengan kebijakan dan solusi bukan pemborosna anggaran yang sia - sia, bahkan dari anggaran tersebut masyarakat mulai mendesak APH untuk segera periksa Kadis Pertanian dengan para kontraktor karena dianggaran tersebut disebutkan oleh Kadis kepada wartawan saat ditemui itu adalah anggaran APBN, dan dalam proses pekerjaan itu menggunakan mesin ternyata yang dikerjakan menggunakan manual, tanpa mesin, indikasi korupsi pun mencuat disitu, jaksa jangan diam segera ambil langkah tegas. Jelas Wakano tegas


Kecaman ini bukan fitnah, Ini adalah kebenaran yang harus diungkap, Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyat, bukan proyeknya. Tambah Wakano


Seorang pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang menyelesaikan masalah, bukan menciptakan masalah baru. Pungkasnya 

Kepala Dinas Pertanian SBB La Radin

Kadis Pertanian SBB La Radin saat ditemui sejumlah awak media di kota Piru, siang tadi menjelaskan bahwa" Sumur Bor yang dilakukan karena menipisnya air yang mengalir dari bendungan, sehingga pihaknya mengambil langkah bijak demi menyelamatkan petani dengan membuat sumur Bor. 


Secara jelas dan terbuka La Radin mengungkapkan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara manual, tidak menggunakan mesin, bahkan pengakuan La Radin, dari anggaran tersebut ada anggaran untuk menggunakan mesin. Jelasnya  (***) 

Selengkapnya

Perkuat Sinergi Maritim, Dankodaeral IX Sambangi Pemkab Maluku Tengah

September 07, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., mendorong penguatan sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dalam mengoptimalkan potensi kemaritiman sekaligus membuka peluang lebih luas bagi putra daerah untuk mengabdi melalui TNI Angkatan Laut.


Hal tersebut disampaikan Dankodaeral IX saat melaksanakan kunjungan kerja ke Kantor Bupati Maluku Tengah, Masohi, Maluku, Senin (7/9/2026).


Kunjungan tersebut disambut Asisten I Bupati Maluku Tengah Umar Sopalatu yang mewakili Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Maluku Tengah.


Dalam sambutan Bupati yang dibacakan Asisten I, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan Dankodaeral IX beserta rombongan. 


Kunjungan tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah dan TNI AL, khususnya dalam mendukung pembangunan, menjaga keamanan, serta mengoptimalkan potensi wilayah Maluku Tengah.


Dankodaeral IX mengatakan, kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari upaya untuk melihat secara langsung kondisi wilayah sekaligus menggali berbagai potensi yang dapat dikembangkan bersama.


Sebagai daerah kepulauan dengan wilayah laut yang luas, Maluku Tengah memiliki potensi kemaritiman yang strategis dan membutuhkan sinergi lintas sektor dalam pengelolaannya.


Selain penguatan kerja sama kemaritiman, Dankodaeral IX menaruh perhatian terhadap peningkatan partisipasi generasi muda Maluku Tengah untuk mengabdi melalui TNI AL.


Ia berharap semakin banyak putra daerah Maluku Tengah yang dapat mengikuti proses penerimaan prajurit TNI AL. Untuk mewujudkan hal tersebut, calon peserta dapat dipersiapkan dan dibina sejak awal, baik dari aspek fisik, mental, pengetahuan maupun kemampuan dasar, sehingga memiliki kesiapan yang lebih baik saat mengikuti tahapan seleksi.


“Kita berharap semakin banyak putra daerah Maluku Tengah yang dapat bergabung dan mengabdi sebagai prajurit TNI AL. Anak-anak daerah yang memiliki minat dan kemauan dapat dipersiapkan dan dibina terlebih dulu agar lebih siap ketika mengikuti seleksi di Kodaeral IX,” ujar Dankodaeral IX.


Menurutnya, pembinaan generasi muda tersebut bukan sekadar untuk meningkatkan peluang kelulusan dalam proses rekrutmen, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memberikan ruang bagi pemuda daerah untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi dalam menjaga kedaulatan serta keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya di bidang kemaritiman.


Di sela kunjungan, Dankodaeral IX beserta rombongan juga menyempatkan diri mengunjungi dan Sholat Dzuhur di Masjid Raya Sepa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari silaturahmi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga setempat sekaligus melihat secara langsung kondisi sarana ibadah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Negeri Sepa.


Kunjungan kerja tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Melalui kegiatan ini, Kodaeral IX dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah diharapkan semakin solid dalam membangun kolaborasi, menjaga stabilitas keamanan wilayah, mengoptimalkan potensi kemaritiman, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda Maluku Tengah untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.


Turut hadir Asisten I Bupati Maluku Tengah Umar Sopalatu, Dandim 1502/Masohi Letkol Inf. Adi Eka Jaya Saputra, Kapolres Maluku Tengah AKBP Widy Irawan, Kasi Datun Sri Paulus mewakili Kejari Maluku Tengah, para PJU dan Kasatker Kodaeral IX, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Maluku Tengah. (Rdks) 

Selengkapnya

Menjemput Harapan dari Balik Jeruji Lewat Calistung di Lapas Dobo

September 07, 2026


Dobo
, Globaltimurnn.com — Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Dobo, proses belajar kembali dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, Mengenal huruf. Membaca kata, Menulis kalimat, Hingga menghitung angka.


Bagi sebagian orang, kemampuan tersebut mungkin merupakan bagian dari keseharian. Namun bagi sejumlah warga binaan, kesempatan untuk kembali mempelajarinya menjadi sebuah langkah penting untuk membuka jalan menuju perubahan.


Semangat itulah yang terlihat dalam pelaksanaan asesmen diagnostik baca, tulis, dan hitung (calistung) bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas III Dobo, Senin (07/09/2026).


Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh peserta magang di Lapas Dobo sebagai langkah awal untuk mengetahui kemampuan dasar pendidikan masing-masing warga binaan.


Asesmen dilakukan secara bertahap. Pada kemampuan membaca, warga binaan diarahkan mulai dari mengenal huruf, membaca suku kata dan kata, hingga membaca kalimat serta memahami bacaan sederhana.


Sementara kemampuan menulis dinilai melalui beberapa tahapan, mulai dari mengenal dan menulis huruf, menyalin kata, menulis berdasarkan dikte, hingga menyusun kalimat sederhana.


Untuk kemampuan berhitung, warga binaan diberikan materi berupa pengenalan dan penulisan angka, mengurutkan bilangan, melakukan operasi hitung dasar, hingga menggunakan kemampuan berhitung dalam situasi sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.


Asesmen tersebut bukan sekadar untuk menguji kemampuan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi cara untuk melihat titik awal setiap warga binaan dalam mengikuti proses pembelajaran.


Dengan mengetahui kemampuan dasar masing-masing, pendamping dapat memberikan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Warga binaan pun diharapkan dapat mengikuti proses belajar tanpa merasa malu ataupun takut untuk mencoba.


Hasil asesmen nantinya menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program pembelajaran yang lebih terarah. Proses belajar akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan awal setiap warga binaan.


Lapas Dobo juga menyiapkan tindak lanjut melalui program bimbingan belajar (bimbel) calistung yang dijadwalkan berlangsung dua kali dalam seminggu.


Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi warga binaan untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan dasar mereka selama menjalani masa pembinaan, Sebab pendidikan tidak berhenti hanya karena seseorang sedang menjalani masa pidana.


Justru melalui pendidikan, warga binaan diberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke tengah masyarakat.


Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung mungkin terlihat sederhana. Namun dari kemampuan dasar itulah seseorang dapat membuka lebih banyak kesempatan dalam kehidupan.


Satu huruf yang berhasil dibaca menjadi awal sebuah pemahaman. Satu kata yang berhasil ditulis menjadi bentuk keberanian untuk mencoba. Dan satu angka yang berhasil dihitung menjadi langkah kecil menuju kemandirian, Di Lapas Dobo, proses itu kini sedang dimulai, Karena untuk belajar, memang tidak pernah ada kata terlambat. (Za)

Selengkapnya

Waspada Fenomena EL NINO, Pemerintah Kota Tual dan Basarnas Ambon Distribusikan Logistik ke Beberapa Pulau Yang Dilanda Kekeringan Air

September 07, 2026


Tual
, globaltimurnn.com - Sehubungan dengan ditetapkannya Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Wilayah Kota Tual serta Fenomena EL NINO yang berpotensi kuat menyebabkan bencana Kekeringan meteorologis, hidrologis, dan krisis air bersih yang dapat mengancam kehidupan sosial ekonomi masyarakat, Pemerintah Kota Tual bertindak cepat berkolaborasi dengan Basarnas Ambon guna melaksanakan misi kemanusiaan yakni pendistribusian sejumlah logistik bagi masyarakat kepulauan di Kota Tual.


Menindaklanjuti Surat Walikota Tual, Basarnas Ambon bergerak cepat menyiapkan Alut Utama berupa satu unit KN SAR 242 Bharata guna mendukung kegiatan pendistribusian logistik. Pada Minggu, 6 September 2026. 


Sebanyak 29 personil gabungan yang dikerahkan dalam misi pendistribusian logistik diantaranya, ABK KN SAR Bharata,  Rescuer Pos SAR Tual, serta BPBD Kota Tual. Dipimpin oleh Nahkoda KN SAR Bharata yakni Bunyamin Mewar, sekitar pukul 06.00 wit, KN SAR Bharata bertolak dari Pelabuhan Yos Sudarso Tual menuju Pulau terdampak dengan total jarak -+132 Nautical Mile dengan membawa logistik sebanyak 4.160 botol/karton air mineral dan logistik pendukung lainnya.


Misi pendistribusian logistik nantinya berpusat pada dua pulau terdampak yakni, Pulau Tam Ngurhir, Kecamatan Tayandu Tam, dengan masyarakat terdampak sebanyak 472 KK dan Pulau Kaimear, Kecamatan Pulau-Pulau Kur dengan masyarakat terdampak sebanyak 163 KK yang dilanda kekeringan. Hingga malam hari pukul 22.00 wit, seluruh proses pendistribusian logistik yang dilakukan Tim Gabungan Basarnas dan BPBD berjalan dengan baik tanpa kurang satupun. 

Seluruh Tim Gabungan serta KN SAR Bharata berhasil kembali tiba dengan selamat di Kota Tual sekitar pukul 02.00 dinihari dan berhasil menyalurkan 4.160 unit logistik untuk dua Pulau terdampak. 


Pemerintah Kota Tual serta Kepala Basarnas Ambon turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk kerja keras Tim Gabungan dalam misi ini untuk dukungan dan solidaritas kemanusiaan dalam meringankan beban saudara-saudara kita di wilayah kepulauan yang terdampak kekeringan. (Rdks) 

Selengkapnya

10 Tahun di Namrole, WN Thailand Tanpa Paspor Menunggu Jalan Pulang

September 07, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Lebih dari satu dekade bukan waktu yang singkat untuk menjalani hidup di sebuah tempat yang bukan tanah kelahiran sendiri.


Di Namrole, Kabupaten Buru Selatan, seorang pria yang mengaku sebagai warga negara Thailand menjalani hari-harinya seorang diri. Tidak ada keluarga yang mendampingi. Tidak ada sanak saudara yang menjadi tempat pulang. Bahkan, tidak ada selembar dokumen resmi yang bisa memastikan siapa sebenarnya dirinya.


Hari-harinya dihabiskan dengan bekerja sebagai buruh serabutan. Sesekali mencari pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup.


Hingga akhirnya, keberadaannya diketahui masyarakat dan dilaporkan kepada petugas Imigrasi, Pria tersebut kemudian diamankan oleh Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon untuk menjalani pemeriksaan keimigrasian.


Kisah itu bermula dari informasi masyarakat di Namrole. Petugas menerima laporan mengenai keberadaan seorang pria yang diduga merupakan warga negara asing dan telah tinggal di wilayah tersebut selama sekitar sepuluh tahun lebih.


Awalnya informasi dari masyarakat di Namrole bahwa ada orang yang diduga warga negara Thailand. Dia tidak punya keluarga, tidak punya sanak saudara. Sudah sekitar sepuluh tahunan lebih tinggal di sana, kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon, Eben Rifqi Taufab, kepada media ini di ruang kerjanya, Senin (07/09/2026).


Petugas berkoordinasi dengan Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) untuk memastikan keberadaan sekaligus menggali identitas pria tersebut.


Dari pemeriksaan awal, pria itu mengaku berasal dari Thailand. Ia menyebut dirinya lahir di Chiang Rai, Namun, pengakuan itu tidak serta-merta cukup untuk membuktikan kewarganegaraannya.


Sebab, ketika diamankan, ia tidak membawa paspor maupun dokumen identitas resmi lainnya.


“Dia waktu ditangkap tidak punya paspor. Tidak ada dokumen sama sekali. Hanya dia mengaku bahwa saya orang Thailand, dengan logatnya, bisa bahasa Indonesia juga,” ujar Eben.


Di balik keterbatasan dokumen tersebut, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana pria itu akhirnya menetap di Namrole.


Berdasarkan keterangan awal yang diperoleh petugas, ia diduga pernah bekerja sebagai kru kapal. Dalam perjalanan hidupnya, pria tersebut beberapa kali berpindah kapal hingga pada akhirnya berada di wilayah Buru Selatan.


Namrole kemudian menjadi tempat ia menjalani hidup, Waktu berjalan. Tahun berganti tahun, Sepuluh tahun lebih berlalu tanpa kejelasan administrasi tentang status keberadaannya.


Ia hidup seorang diri dan belum berkeluarga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh serabutan.


Tidak ada paspor yang tersimpan di tangannya. Tidak ada kartu identitas yang dapat menjadi bukti resmi mengenai siapa dirinya dan dari negara mana ia berasal.


Namun di tengah kondisi itu, ada satu hal yang masih ingin dilakukannya, pulang, Pria tersebut menyatakan keinginannya untuk kembali ke Thailand. Ia bahkan memberikan informasi mengenai alamat asalnya dan bersedia mengikuti proses yang dilakukan oleh petugas Imigrasi.


Keinginan untuk pulang itulah yang kini harus melewati proses panjang, Sebab, sebelum seseorang dapat dideportasi, negara asalnya harus terlebih dahulu memastikan bahwa orang tersebut benar-benar merupakan warga negaranya.


Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon akan berkoordinasi dengan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Makassar untuk proses selanjutnya.


Langkah tersebut diperlukan karena ruang detensi yang tersedia di Kantor Imigrasi memiliki keterbatasan waktu penggunaan.


Untuk ditahan di ruang detensi Kantor Imigrasi ini hanya sampai tujuh hari saja. Setelah itu kami harus pindahkan ke Rudenim, Rumah Detensi Imigrasi untuk proses lebih lanjut, jelas Eben.


Di Rudenim, proses identifikasi akan dilanjutkan dengan melibatkan perwakilan Thailand.


Petugas akan berkoordinasi untuk memastikan identitas serta kewarganegaraan pria tersebut. Setelah status kewarganegaraannya mendapatkan kepastian, proses pemulangan atau deportasi baru dapat dilakukan.


Tanpa paspor atau dokumen kewarganegaraan, pengakuan seseorang mengenai asal negaranya harus melalui proses verifikasi. Imigrasi tidak dapat begitu saja menyatakan seseorang sebagai warga negara tertentu hanya berdasarkan pengakuan pribadi.


Karena itu, proses komunikasi dengan perwakilan negara asal menjadi bagian penting dalam penanganan kasus tersebut, Bagi pria tersebut, perjalanan lebih dari sepuluh tahun di Namrole mungkin merupakan bagian dari kehidupan yang sudah dijalaninya begitu lama.


Ia datang sebagai seorang pekerja kapal, berpindah dari satu kapal ke kapal lainnya, hingga akhirnya menetap di sebuah wilayah di Maluku, Kini, setelah bertahun-tahun hidup tanpa dokumen resmi, ia harus kembali berhadapan dengan proses administrasi untuk menentukan identitas dan kewarganegaraannya.


Ada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu: siapa dirinya secara resmi dan negara mana yang mengakui dirinya sebagai warga negara, Imigrasi memastikan proses tersebut tetap dilakukan melalui mekanisme yang berlaku.


Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan orang asing di suatu wilayah membutuhkan pengawasan dan pencatatan yang jelas, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon menyatakan akan terus memperkuat pengawasan terhadap keberadaan orang asing di wilayah kerjanya.


Koordinasi dengan Timpora di berbagai wilayah menjadi salah satu langkah untuk memastikan keberadaan warga negara asing dapat diketahui, termasuk mereka yang tinggal tanpa dokumen keimigrasian.


Ini sebagai tindak awal, kami akan terus mencari orang-orang asing yang tanpa dokumen. Kalau seperti ini, nanti kami amankan dan tetap kami komunikasikan dengan pihak perwakilan, kata Eben.


Menurutnya, setiap orang asing yang berada di Indonesia harus memiliki kejelasan mengenai identitas, kewarganegaraan, serta izin tinggalnya, Sebab, persoalan dokumen bukan sekadar urusan administratif.


Dokumen menjadi pintu untuk memastikan seseorang memiliki identitas yang jelas, berasal dari negara mana, serta memiliki dasar hukum untuk berada di Indonesia.


Jika seseorang mengaku sebagai warga negara Thailand, misalnya, Imigrasi akan berkoordinasi dengan perwakilan Thailand untuk memastikan kebenaran status tersebut.


Hal yang sama berlaku bagi warga negara asing yang mengaku berasal dari negara lainnya, Supaya orang-orang yang tinggal di Indonesia benar-benar diketahui kewarganegaraannya. Jadi dia tidak tanpa kewarganegaraan. Jelas dia warga negara mana dan izin tinggalnya juga jelas, tandasnya.


Kini, setelah lebih dari sepuluh tahun menjalani hidup di Namrole, pria asal Thailand itu berada di persimpangan baru dalam hidupnya.


Dan di tengah proses panjang untuk memastikan siapa dirinya, ada satu harapan sederhana yang disampaikannya kepada petugas: kembali ke tanah kelahirannya, Jalan menuju pulang itu kini bergantung pada satu hal kepastian identitas dan pengakuan kewarganegaraan. (Za)

Selengkapnya

Musik, Baju Cele, dan Goyang Wayase: Cara Santika Premiere Ambon Merayakan 451 Tahun Kota Ambon

September 07, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Pagi di Gandaria Restaurant, lantai 5 Hotel Santika Premiere Ambon, Senin (07/09/2026), awalnya berjalan seperti biasa.


Para tamu menikmati sarapan. Sebagian berbincang di meja masing-masing, sementara staf hotel sibuk memastikan setiap kebutuhan tamu terpenuhi, Namun, suasana pagi itu perlahan berubah.


Di tengah aktivitas sarapan, suara musik mulai terdengar. Para staf Hotel Santika Premiere Ambon tampil dengan wajah penuh semangat. Mereka datang bukan sekadar untuk menghibur, tetapi membawa suasana Kota Ambon ke dalam ruang sarapan.


Hari itu, Kota Ambon tengah merayakan usia ke-451 tahun, Perayaan sederhana tersebut diawali dengan Welcoming Speech dari Public Relations Manager Hotel Santika Premiere Ambon, Audra Pattiasina. Ia menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Kota Ambon sekaligus mengajak para tamu menjadi bagian dari perayaan yang sarat dengan nuansa budaya lokal.


“Selamat HUT ke-451 Kota Ambon,” menjadi pembuka sebelum suasana Gandaria Restaurant semakin hidup, Ketika Musik Ambon Mengisi Ruang Sarapan, Tidak lama kemudian, giliran Security Team Hotel Santika Premiere Ambon tampil melalui Vocal Group Tanase.


Lagu-lagu bernuansa Ambon mengalun. Suara para staf memenuhi ruangan dan menghadirkan warna yang berbeda dari suasana sarapan pagi pada umumnya.


Musik menjadi cara sederhana untuk mengingatkan bahwa Ambon memiliki identitas yang kuat sebagai kota yang tumbuh bersama musik, budaya, dan kehidupan masyarakatnya.


Para tamu yang sebelumnya menikmati sarapan dengan suasana tenang mulai memberikan perhatian. Senyum dan tepuk tangan pun terdengar ketika penampilan berlangsung.


Para staf kemudian tampil mengenakan Baju Cele, pakaian tradisional Maluku yang menjadi salah satu simbol identitas budaya daerah, Dan ketika Goyang Wayase dimulai, batas antara staf hotel dan tamu seolah menghilang, Gerakan demi gerakan diikuti bersama. Ada yang langsung mengikuti dengan percaya diri, ada pula yang masih mencoba menyesuaikan gerakan sambil tertawa.


Gandaria Restaurant berubah menjadi ruang kecil tempat orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat bergembira bersama, Bagi Audra Pattiasina, momen tersebut memiliki makna lebih dari sekadar pertunjukan.


Menurutnya, HUT ke-451 Kota Ambon menjadi kesempatan bagi Hotel Santika Premiere Ambon untuk menghadirkan budaya lokal dalam bentuk yang sederhana, tetapi dapat dirasakan langsung oleh para tamu.


Bagi kami, merayakan HUT ke-451 Kota Ambon bukan hanya tentang mengucapkan selamat ulang tahun, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan Ambon melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita musik, tarian, keramahan, dan kebersamaan.


Menurut Audra, ketika para tamu ikut bernyanyi dan bergoyang bersama staf, budaya tidak lagi sekadar menjadi sesuatu yang ditampilkan untuk dilihat, Budaya menjadi pengalaman yang dirasakan.


«“Ketika tamu ikut menyanyi dan bergoyang bersama staf, di situlah kami merasa budaya benar-benar hidup dan menjadi bagian dari pengalaman yang mereka bawa pulang,” ujarnya.»


Bagi sebuah hotel, pengalaman tamu memang tidak selalu harus dibangun melalui kemewahan, Terkadang, pengalaman justru lahir dari hal-hal sederhana: sapaan yang hangat, musik yang familiar, pakaian tradisional, tarian, tawa, dan kesempatan untuk ikut merasakan kehidupan sebuah kota.


Audra menambahkan, penampilan para karyawan juga menjadi bentuk ekspresi dalam menghadirkan konsep hospitality from the heart.


Pelayanan, menurutnya, bukan hanya tentang memastikan tamu mendapatkan kenyamanan selama berada di hotel. Lebih jauh, pelayanan juga dapat menjadi ruang untuk berbagi kegembiraan dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah.


“Kami ingin para tamu tidak hanya menikmati sarapan, tetapi juga merasakan sedikit jiwa Ambon. Karena keramahan bagi kami bukan hanya tentang pelayanan, tetapi juga tentang berbagi kegembiraan, budaya, dan rasa memiliki terhadap kota yang kita cintai,” tambahnya. 


Ajakan untuk mengikuti Goyang Wayase membuat suasana menjadi semakin cair. Tamu dan staf bergerak bersama, menciptakan momen spontan yang dipenuhi tawa dan energi positif.


Tidak ada panggung besar, Tidak ada jarak, Hanya ada musik, tarian, budaya, dan kebersamaan, Sebuah Ucapan untuk Kota yang Terus Bertumbuh. 


Bagi Hotel Santika Premiere Ambon, perayaan HUT ke-451 Kota Ambon menjadi bagian dari cara mereka untuk terus hadir dalam berbagai momentum penting kota ini.


Perayaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa identitas Ambon dapat dihadirkan dalam berbagai ruang, termasuk di tengah aktivitas hospitality.


Musik Ambon yang mengalun di ruang sarapan, Baju Cele yang dikenakan para staf, hingga Goyang Wayase yang dilakukan bersama tamu menjadi sebuah cerita kecil tentang Ambon.


Cerita tentang kota yang tidak hanya memiliki usia panjang, tetapi juga memiliki budaya yang terus hidup dan diwariskan melalui generasi.


Pagi itu, para tamu mungkin datang ke Gandaria Restaurant untuk menikmati sarapan, Namun mereka pulang dengan sesuatu yang lebih.


Sebuah pengalaman tentang Ambon—tentang musiknya, budayanya, keramahannya, dan cara orang-orangnya merayakan kebersamaan. 


Ambon Beyond 451 Merayakan perjalanan, merangkul identitas, bersama membentuk masa depan. (Za)

Selengkapnya

Minggu, 06 September 2026

Asrena Kodaeral IX Hadiri HUT ke-451 Kota Ambon, Perkuat Sinergi TNI AL dan Pemda

September 06, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah Maluku.


Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kodaeral IX, Kolonel Laut (P) Stanley Lekahena, mewakili Komandan Kodaeral IX Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon di Lapangan Merdeka, Sirimau, Kota Ambon, Senin (7/9/2026).


Mengusung tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju”, peringatan HUT Kota Ambon tahun ini menjadi momentum untuk mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kepedulian terhadap kebersihan, kesehatan, persatuan, dan keberlanjutan pembangunan kota.


Upacara dipimpin Walikota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena selaku inspektur upacara dan diikuti sekitar 1.000 peserta dari unsur TNI-Polri, ASN, pemerintah daerah, BUMN/BUMD, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.


Turut hadir Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Wakil Gubernur Maluku H. Abdullah Vanath, Sekda Provinsi Maluku Ir. Sadali Ie, jajaran pimpinan TNI-Polri, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat.


Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa perjalanan 451 tahun Kota Ambon merupakan sejarah panjang yang harus menjadi pijakan untuk membangun masa depan.


Menurutnya, pesan yang terkandung dalam tema HUT tahun ini menempatkan kebersihan dan kesehatan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.


Senada dengan hal tersebut, Walikota Ambon Bodewin M. Wattimena mengajak masyarakat menjadikan momentum HUT ke-451 sebagai gerakan bersama untuk menjaga kebersihan, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik.

Ia juga menekankan pentingnya merawat warisan sejarah dan budaya Kota Ambon, termasuk Benteng Victoria, serta menjaga persatuan sebagai kekuatan utama pembangunan.


Bagi Kodaeral IX, kehadiran dalam momentum tersebut bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi, koordinasi, dan hubungan kelembagaan dengan pemerintah daerah serta seluruh komponen masyarakat.


Sinergi TNI AL dan pemerintah daerah diharapkan terus terpelihara guna mendukung terciptanya wilayah Maluku, khususnya Kota Ambon, yang aman, kondusif, sehat, dan semakin maju. (Rdks) 

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT