Ambon, Globaltimurnn.com — Empat puluh tahun belum genap, tetapi perjalanan Politeknik Negeri Ambon (Polnam) telah meninggalkan jejak panjang dalam pembangunan sumber daya manusia di Maluku.
Memasuki usia ke-39 tahun, Polnam tidak hanya merayakan perjalanan sebuah institusi pendidikan vokasi, tetapi juga menegaskan kembali perannya untuk menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Semangat itu terasa dalam perayaan Dies Natalis ke-39 Politeknik Negeri Ambon yang digelar pada Senin, 5 Oktober 2026, di lingkungan Kampus Politeknik Negeri Ambon. Tahun ini, Polnam mengusung tema “Politeknik Negeri Ambon Bersinergi, Berdampak, dan Berdaya Saing.”
Dalam momentum tersebut, Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., atas nama Pemerintah Kota Ambon, menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan terima kasih kepada seluruh civitas akademika Polnam yang selama ini telah mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
Menurut Bodewin, perjalanan sebuah lembaga pendidikan tinggi selama 39 tahun bukanlah waktu yang singkat. Karena itu, Dies Natalis harus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh sekaligus mempersiapkan langkah yang lebih besar di masa mendatang.
“Peringatan Dies Natalis ke-39 ini bukan sekadar memperingati usia 39 tahun, tetapi harus menjadi momentum untuk merefleksikan secara utuh perjalanan Polnam. Apa yang sudah ditempuh, apa yang sudah dibuat, dan tanggung jawab apa yang masih harus dilakukan ke depan,” ujar Bodewin dalam sambutannya, Politeknik Negeri Ambon resmi hadir sebagai institusi perguruan tinggi pada 5 Oktober 1987. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan vokasi di Maluku.
Sebagai perguruan tinggi vokasi pertama di Maluku, Polnam memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan kemampuan praktis yang dibutuhkan dunia kerja, Bagi Bodewin, usia 39 tahun merupakan usia yang sangat produktif, Ia mengibaratkan perjalanan Polnam saat ini seperti manusia yang memasuki usia produktif, ketika energi, pengalaman dan kemampuan seharusnya dapat dikonversikan menjadi karya-karya terbaik.
Karena itu, momentum Dies Natalis tidak boleh berhenti pada seremoni. Usia 39 tahun harus menjadi titik untuk menunjukkan bahwa Polnam mampu memberikan sesuatu yang lebih besar bagi Maluku dan Indonesia, Bukan Sekadar Bersinergi, Tetapi Harus Berdampa, Tema Dies Natalis tahun ini menjadi penting karena dunia terus mengalami perubahan.
Transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, perubahan iklim, hingga dinamika sosial dan ekonomi menuntut perguruan tinggi untuk bergerak lebih cepat, Polkam kata Bodewin, harus mampu memastikan para lulusannya dapat segera masuk ke dunia kerja, bertahan, berkembang dan memiliki daya saing, Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan dalam satu kesatuan.
Pendidikan harus menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi. Penelitian harus melahirkan teknologi serta inovasi yang berguna. Sementara pengabdian kepada masyarakat harus memastikan ilmu, keterampilan dan teknologi yang dimiliki perguruan tinggi benar-benar hadir menjawab kebutuhan masyarakat, Pendidikan menjadi hal yang utama, penelitian juga menjadi hal yang utama, tetapi tanggung jawab kepada masyarakat melalui pengabdian juga tidak kalah penting,” tegasnya.
Salah satu contoh konkret kolaborasi yang kini tengah didorong Pemerintah Kota Ambon bersama Polnam adalah inovasi mesin pengolah sampah, Persoalan sampah selama ini menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi Kota Ambon.
Bagi pemerintah, sampah mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana. Namun jika tidak dikelola sejak dari sumbernya, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi masalah lingkungan, kesehatan dan sosial yang jauh lebih besar, Karena itu, Pemkot Ambon membutuhkan dukungan perguruan tinggi untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bodewin mengungkapkan, Pemkot Ambon bersama Polnam dan salah satu perguruan tinggi swasta di Ambon tengah mengupayakan pengembangan mesin pengolah sampah yang dapat digunakan dalam skala lingkungan kecil, Konsepnya sederhana, tetapi diharapkan memiliki dampak besar, Satu mesin ditargetkan dapat melayani sekitar 20 rumah, sehingga sampah tidak lagi seluruhnya dibawa dan menumpuk di tempat pembuangan, tetapi dapat dikelola sejak dari sumbernya.
Jika inovasi tersebut berhasil diwujudkan, Bodewin berharap mesin itu tidak sekadar menjadi proyek kerja sama, melainkan menjadi legacy Politeknik Negeri Ambon, Kalau ini bisa dilakukan, saya kira ini akan menjadi legacy Polnam yang pada waktunya bisa direplikasi oleh banyak pihak. Orang akan menyebutnya sebagai mesin Politeknik Negeri Ambon,” ujarnya.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, inovasi seperti itu dapat menjadi bukti bahwa perguruan tinggi vokasi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi yang menyelesaikan persoalan masyarakat, Dengan demikian, nama Politeknik Negeri Ambon tidak hanya dikenal karena lulusan yang dihasilkan, tetapi juga karena karya dan inovasi yang ditinggalkan.
Memasuki usia ke-39, Bodewin berharap Polnam mulai memikirkan karya apa yang kelak akan dikenang ketika institusi tersebut mencapai usia 100 tahun, Ia ingin setiap generasi yang berada di dalam Polnam meninggalkan sesuatu yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya, Pada usia ke-39 tahun ini, kita berharap Politeknik Negeri Ambon dapat menghasilkan sesuatu yang akan dikenang pada usia 100 tahun dan seterusnya,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan nama “Negeri Ambon” dalam nama Politeknik Negeri Ambon sendiri menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kota Ambon, Karena itu, keberhasilan Polnam juga menjadi kebanggaan pemerintah dan masyarakat Kota Ambon, Bodewin menegaskan bahwa Pemerintah Kota Ambon memandang Polnam sebagai salah satu mitra strategis dalam pembangunan daerah, Kerja sama antara Pemkot Ambon dan Polnam sebelumnya telah dilakukan dalam berbagai kegiatan, termasuk di sejumlah desa seperti Tawiri dan Rutong.
Ke depan, ruang kolaborasi tersebut diharapkan semakin luas, Tidak hanya antara Pemkot Ambon dan Polnam, tetapi juga melibatkan perguruan tinggi lainnya di Kota Ambon seperti Universitas Pattimura, UKIM dan berbagai institusi pendidikan tinggi lainnya, Menurut Bodewin, masing-masing perguruan tinggi memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat saling melengkapi, Karena itu, ia mendorong agar lebih banyak laboratorium kolaborasi dibangun untuk menyelesaikan persoalan kota secara bersama-sama.
Mulai dari persoalan sampah dan lingkungan hidup, kemacetan, banjir dan longsor, keterbatasan akses air bersih, penataan kawasan kumuh, transformasi digital menuju Ambon Smart City, penguatan UMKM, hingga peningkatan kompetensi dan kesempatan kerja bagi generasi muda, “Pemerintah kota membutuhkan peran perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan kota ini,” katanya.
Perayaan Dies Natalis ke-39 akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah institusi, Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ajakan agar Polnam semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat, semakin kuat berkolaborasi dengan pemerintah dan dunia usaha, serta semakin berani menghasilkan inovasi yang memiliki dampak nyata.
Usia 39 tahun menjadi fase ketika pengalaman panjang harus bertemu dengan keberanian berinovasi, Dari ruang kelas dan laboratorium, karya harus bergerak menuju masyarakat, Dari penelitian, teknologi harus lahir, Dari pendidikan, sumber daya manusia unggul harus tumbuh, Dan dari sinergi, harus muncul dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
Atas nama pribadi dan seluruh jajaran Pemerintah Kota Ambon, Wali Kota Bodewin menyampaikan selamat memperingati Dies Natalis ke-39 Politeknik Negeri Ambon kepada Direktur, para Wakil Direktur, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni dan seluruh civitas akademika Polnam.
Ia berharap perjalanan panjang Polnam tidak berhenti pada pencapaian hari ini, tetapi terus berlanjut menjadi karya-karya besar yang membawa nama Ambon dan Maluku semakin dikenal, Polkam bersinergi, Polnam memberi dampak, dan Polnam semakin berdaya saing, Dari Ambon, karya itu diharapkan terus tumbuh dan meninggalkan jejak hingga jauh melampaui usia 39 tahun. (Za)


















