globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Minggu, 06 September 2026

Asrena Kodaeral IX Hadiri HUT ke-451 Kota Ambon, Perkuat Sinergi TNI AL dan Pemda

September 06, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah Maluku.


Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kodaeral IX, Kolonel Laut (P) Stanley Lekahena, mewakili Komandan Kodaeral IX Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon di Lapangan Merdeka, Sirimau, Kota Ambon, Senin (7/9/2026).


Mengusung tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju”, peringatan HUT Kota Ambon tahun ini menjadi momentum untuk mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kepedulian terhadap kebersihan, kesehatan, persatuan, dan keberlanjutan pembangunan kota.


Upacara dipimpin Walikota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena selaku inspektur upacara dan diikuti sekitar 1.000 peserta dari unsur TNI-Polri, ASN, pemerintah daerah, BUMN/BUMD, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat.


Turut hadir Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Wakil Gubernur Maluku H. Abdullah Vanath, Sekda Provinsi Maluku Ir. Sadali Ie, jajaran pimpinan TNI-Polri, Ketua DPRD Kota Ambon Morits Tamaela, serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat.


Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa perjalanan 451 tahun Kota Ambon merupakan sejarah panjang yang harus menjadi pijakan untuk membangun masa depan.


Menurutnya, pesan yang terkandung dalam tema HUT tahun ini menempatkan kebersihan dan kesehatan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.


Senada dengan hal tersebut, Walikota Ambon Bodewin M. Wattimena mengajak masyarakat menjadikan momentum HUT ke-451 sebagai gerakan bersama untuk menjaga kebersihan, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang publik.

Ia juga menekankan pentingnya merawat warisan sejarah dan budaya Kota Ambon, termasuk Benteng Victoria, serta menjaga persatuan sebagai kekuatan utama pembangunan.


Bagi Kodaeral IX, kehadiran dalam momentum tersebut bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi, koordinasi, dan hubungan kelembagaan dengan pemerintah daerah serta seluruh komponen masyarakat.


Sinergi TNI AL dan pemerintah daerah diharapkan terus terpelihara guna mendukung terciptanya wilayah Maluku, khususnya Kota Ambon, yang aman, kondusif, sehat, dan semakin maju. (Rdks) 

Selengkapnya

Dari Balik Jeruji, Keripik Pisang Rutan Ambon Tumbuhkan Semangat Mandiri Warga Binaan

September 06, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Pisang mungkin terlihat sederhana. Namun di tangan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, buah tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar camilan.


Ia menjadi keripik pisang, dikemas, dipasarkan dan menghasilkan uang. Lebih jauh lagi, proses itu menjadi ruang belajar bagi warga binaan untuk mengenal keterampilan, tanggung jawab, kerja sama hingga bagaimana membangun sebuah usaha.


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian Rutan Kelas IIA Ambon, yang terus dikembangkan untuk memberikan bekal keterampilan bagi warga binaan sebelum nantinya kembali ke tengah masyarakat.


Pada Senin (07/09/2026), aktivitas produksi keripik pisang kembali dilakukan. Warga binaan terlibat langsung sejak proses menyiapkan bahan, mengolah pisang, menggoreng, mengemas hingga memasarkan produk.


Bahan yang sederhana itu kemudian diolah menjadi keripik dengan tekstur renyah dan dua pilihan rasa, yakni original dan cokelat.


Yang menarik, hasil produksinya mulai mendapatkan respons positif. Dalam penjualan terbaru, sebanyak 30 bungkus keripik pisang berhasil terjual.


Sebanyak 14 bungkus varian cokelat dijual dengan harga Rp10.000 per bungkus, menghasilkan Rp140.000. Sementara 16 bungkus varian original dengan harga Rp5.000 per bungkus menghasilkan Rp80.000.


Dengan demikian, total penjualan mencapai Rp220.000 dari 30 bungkus keripik pisang.


Angka tersebut mungkin belum besar. Namun bagi warga binaan yang terlibat, setiap bungkus yang terjual memiliki arti tersendiri. Ada rasa bangga karena sesuatu yang mereka kerjakan dengan tangan sendiri mendapat apresiasi dari masyarakat.


Kasubsi Bimbingan Kerja Rutan Kelas IIA Ambon, Ode Ena, mengatakan pembuatan keripik pisang tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk.


Di balik kegiatan tersebut terdapat proses pembelajaran yang lebih luas. Warga binaan diajak memahami bagaimana sebuah produk dibuat dengan memperhatikan kualitas, kemudian dikemas dan memiliki nilai jual.


“Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar membuat keripik pisang, tetapi juga belajar bagaimana menjaga kualitas produk, mengemas dengan baik, menentukan harga, serta memasarkannya,” jelas Ode Ena.


Menurutnya, keterampilan sederhana yang diperoleh selama berada di Rutan dapat menjadi modal penting ketika warga binaan nantinya kembali ke masyarakat.


“Hal-hal sederhana seperti ini penting sebagai bekal mereka untuk bisa lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.


Di titik inilah pembinaan kemandirian menemukan maknanya. Warga binaan tidak hanya menghabiskan waktu menjalani masa pidana, tetapi juga diberi kesempatan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas.


Bagi salah seorang warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut, Clifort, pengalaman membuat keripik pisang memberikan sesuatu yang baru.


Ia mengaku senang karena dapat terlibat langsung dalam seluruh proses produksi. Mulai dari menyiapkan pisang hingga melihat produk yang dibuatnya terjual kepada masyarakat.


“Awalnya kami belajar dari proses sederhana, mulai dari menyiapkan pisang, mengolahnya, sampai menjadi keripik dan mengemasnya. Saya senang karena hasil yang kami buat ternyata disukai dan dibeli oleh masyarakat,” ujar Clifort.


Bagi Clifort, keberhasilan menjual produk tersebut menjadi penyemangat untuk terus belajar.


Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman membuat makanan, tetapi juga belajar mengenai kerja sama, menjaga kualitas dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.


Pengalaman itu bahkan membuatnya mulai membayangkan kehidupan setelah kembali ke luar Rutan.


“Saya berharap keterampilan yang saya dapat di sini bisa menjadi bekal ketika nanti kembali ke luar. Kalau ada kesempatan, saya ingin bisa membuat usaha sendiri dan menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari selama mengikuti pembinaan,” katanya.


Harapan tersebut menjadi salah satu tujuan penting dari pembinaan kemandirian: menghadirkan bekal yang dapat dibawa warga binaan ketika masa pidana telah selesai.


Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan.


Menurutnya, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman yang dapat membantu mereka beradaptasi ketika kembali ke tengah masyarakat.


“Pembinaan kemandirian menjadi salah satu upaya kami untuk memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan. Melalui pembuatan keripik pisang ini, mereka dapat belajar mengolah produk, bekerja secara bersama-sama, sekaligus memahami proses produksi hingga pemasaran,” ujar Meta Putra.


Ia menilai hasil penjualan produk menjadi salah satu bentuk motivasi bagi warga binaan untuk terus berkarya.


Dukungan masyarakat terhadap produk hasil pembinaan juga dinilai penting. Ketika masyarakat membeli dan memberikan apresiasi terhadap produk tersebut, secara tidak langsung mereka ikut memberikan ruang bagi warga binaan untuk tumbuh dan membangun kepercayaan diri.


Ke depan, Rutan Kelas IIA Ambon berkomitmen mengembangkan berbagai program pembinaan yang produktif sesuai dengan potensi warga binaan.


Keripik pisang menjadi salah satu produk yang diharapkan dapat terus dikembangkan, baik dari sisi rasa, variasi produk, kemasan maupun strategi pemasaran.


Sebab, perjalanan sebuah produk tidak berhenti ketika keripik selesai digoreng dan dimasukkan ke dalam kemasan. Ada proses panjang yang harus dipelajari: bagaimana menjaga kualitas, menghitung biaya, menentukan harga, memasarkan dan mempertahankan kepercayaan konsumen.


Di balik proses sederhana itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang dibangun.


Keripik pisang Rutan Ambon akhirnya bukan hanya tentang 30 bungkus yang terjual dan pendapatan Rp220.000. Ia menjadi cerita tentang warga binaan yang diberi kesempatan untuk belajar, bekerja, menghasilkan sesuatu dan kembali menatap masa depan.


Dari sebuah pisang yang sederhana, tumbuh harapan bahwa ketika waktunya kembali ke masyarakat tiba, mereka tidak hanya membawa cerita tentang masa lalu, tetapi juga membawa keterampilan, pengalaman dan keberanian untuk memulai kehidupan yang lebih mandiri.


Melalui pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan, Rutan Kelas IIA Ambon terus berupaya menjadikan proses pemasyarakatan bukan sekadar tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang mempersiapkan manusia untuk kembali, diterima dan mampu berkarya di tengah masyarakat. (Za)

Selengkapnya

Peringati HUT ke-451 Kota Ambon, Gubernur Maluku Ajak Warga Wujudkan Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju

September 06, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kebersihan, kesehatan, kedamaian, dan keberlanjutan kota. Pesan tersebut disampaikan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa saat memimpin upacara peringatan HUT ke-451 Kota Ambon di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (7/9/2026).


Mengusung tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju”, peringatan HUT Kota Ambon tahun ini tidak hanya menjadi perayaan perjalanan panjang sejarah kota, tetapi juga momentum untuk mengajak seluruh masyarakat mengambil bagian dalam menghadirkan Ambon yang lebih bersih, sehat, aman, nyaman, dan berdaya saing.


Dalam amanatnya, Gubernur Hendrik menegaskan bahwa kebersihan kota tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah maupun petugas kebersihan. Menurutnya, Ambon yang bersih harus lahir dari kesadaran dan tanggung jawab bersama seluruh warga.


“Saya ingin melihat Ambon yang bersih ‘luar-dalam’. Bersih secara fisik di jalanan, sungai, hingga pantai, serta bersih secara mental yang dimulai dari kesadaran setiap individu untuk membuang sampah pada tempatnya dan tertib aturan,” ujar Hendrik.


Ia menambahkan, kebersihan lingkungan di Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku merupakan bagian penting dari wajah Maluku secara keseluruhan. Sebagai gerbang utama Maluku, Ambon menjadi tempat pertama yang memberikan kesan kepada masyarakat dari luar daerah maupun para wisatawan yang datang berkunjung.


Karena itu, menurut Gubernur, membangun Ambon yang bersih, aman, dan ramah bukan hanya untuk kepentingan warga kota, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun citra positif Provinsi Maluku.

“Dari Ambon yang bersih, kita berharap lahir Maluku yang sehat lingkungannya, masyarakatnya, hingga pikiran dan hubungan sosialnya. Jika Ambon bersih dan Maluku sehat, maka kita telah memberikan kontribusi nyata untuk cita-cita besar Indonesia Maju,” tegasnya.


Gubernur juga mengajak seluruh unsur masyarakat untuk menjadikan momentum HUT ke-451 sebagai kesempatan memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong. Jajaran Pemerintah Kota Ambon, Forkopimda, TNI-Polri, pelaku usaha, tokoh agama, tokoh adat, hingga generasi muda diharapkan terus bergandengan tangan dalam menjaga dan memajukan kota yang menjadi rumah bersama seluruh masyarakat.


Turut menghadiri peringatan HUT ke-451 Kota Ambon, FORKOPIMDA Provinsi Maluku, Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Maluku, Wakil Gubernur Maluku dan Ibu Ani Vanath, Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, Walikota Ambon dan Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kota Ambon, Wakil Walikota Ambon dan suami, FORKOPIMDA Kota Ambon, Ketua dan Anggota DPRD Kota Ambon, para mantan Walikota dan Wakil Walikota Ambon yang berkesempatan hadir, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku dan pimpinan OPD Provinsi Maluku, Sekretaris Daerah Kota Ambon, pimpinan OPD Kota Ambon dan seluruh ASN Kota Ambon, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh agama, BUMN, BUMD, insan pers, serta para undangan lainnya.


Mengakhiri amanatnya, Gubernur Hendrik Lewerissa menyampaikan ucapan selamat hari jadi ke-451 kepada seluruh warga Kota Ambon, baik yang menetap di Kota Ambon maupun yang berada di tanah rantau.


Menurutnya, usia 451 tahun bukan sekadar angka, tetapi perjalanan panjang yang menyimpan sejarah, perjuangan, dan harapan yang harus terus dilanjutkan oleh generasi saat ini.


“Di usia ke-451 tahun ini, hadiah terbaik untuk Kota Ambon bukan sekadar pesta perayaan, melainkan janji dan komitmen kita untuk mewariskan kota yang lebih baik, damai, dan penuh harapan bagi anak cucu kita kelak. Mari katong terus baku gandeng, baku jaga, dan baku sayang. Beta par Ambon, Ambon par samua!” tutup Gubernur. (Rdks) 

Selengkapnya

​​Gubernur Lewerissa di HUT ke-91 GPM Tegaskan Gereja Harus Hadir Menjawab Tantangan Zaman

September 06, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Suasana penuh sukacita dan syukur mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM) yang berlangsung di Gedung Baileo Oikumene Ambon, Minggu (6/9/2026).


Dalam resepsi tersebut, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengajak seluruh warga GPM untuk menjadikan perjalanan 91 tahun GPM bukan sekadar catatan sejarah, tetapi momentum untuk terus menghadirkan gereja di tengah kehidupan masyarakat dan menjawab berbagai tantangan zaman.


“Atas nama pribadi, keluarga, Pemerintah Daerah serta seluruh rakyat Maluku, saya mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-91 kepada seluruh pimpinan dan warga GPM di Maluku dan Maluku Utara,” ujar Lewerissa.


Menurutnya, GPM memiliki peran penting dalam perjalanan peradaban Maluku. Bagi Lewerissa yang juga merupakan warga GPM, gereja tidak hanya menjadi pilar kehidupan spiritual, tetapi telah menjadi rumah bersama yang ikut membentuk jiwa, identitas, dan karakter manusia Maluku.


Ia kemudian menggarisbawahi tema HUT ke-91 GPM, “Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Menaruh Takut akan Allah.” Tema tersebut, kata Lewerissa, memiliki pesan teologis yang kuat sekaligus relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.


Lewerissa mengajak warga GPM untuk memaknai rasa syukur secara lebih mendalam. Bersyukur, katanya, bukan berarti perjalanan kehidupan selalu berlangsung mudah, melainkan kemampuan untuk melihat penyertaan Tuhan bahkan ketika menghadapi berbagai kesulitan.


“Pada usia 91 tahun ini, marilah kita mengatakan dengan rendah hati: Eben-Haezer, sampai di sini Tuhan telah menolong kita,” tuturnya.

Namun, rasa syukur tidak boleh membuat gereja berhenti bergerak. Lewerissa menilai gereja dipanggil untuk terus bermisi dan menghadirkan Kristus di tengah dunia yang mengalami perubahan begitu cepat.


Ia menyinggung perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta media sosial yang telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi. Di balik kemajuan tersebut, menurutnya, terdapat tantangan yang tidak kalah besar, mulai dari kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, narkoba, kerusakan lingkungan, krisis keluarga, intoleransi hingga melemahnya karakter dan nilai-nilai kehidupan.


“Manusia semakin terhubung secara digital, tetapi cenderung semakin jauh secara emosional dan spiritual. Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan,” katanya.


Karena itu, Lewerissa berharap GPM terus menjadi gereja yang hadir secara nyata. Gereja, menurutnya, harus mampu menyapa mereka yang kehilangan harapan, menguatkan keluarga yang sedang bergumul, membela martabat manusia, menjaga lingkungan, membangun generasi muda, serta menghadirkan pelayanan yang membebaskan.


Pesan tersebut kemudian diikat dengan satu fondasi penting, yakni takut akan Allah. Bagi Lewerissa, rasa takut akan Allah merupakan kesadaran bahwa setiap tindakan, kebijakan, maupun pelayanan manusia harus senantiasa berpijak pada nilai keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab moral.


Dalam konteks pembangunan Maluku, Lewerissa menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak akan memiliki arti apabila tidak diikuti dengan pembangunan manusia yang memiliki karakter dan integritas.


“Maluku tidak hanya membutuhkan infrastruktur beton dan baja, tetapi Maluku membutuhkan jiwa-jiwa yang kokoh dan berintegritas,” tegasnya.

Menurutnya, gereja dan pemerintah memiliki ruang pengabdian yang dapat berjalan berdampingan. Pemerintah berupaya menghadirkan kesejahteraan material, sementara gereja berperan memperkuat kedewasaan spiritual dan karakter masyarakat.


Ia mencontohkan upaya menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, menjaga perdamaian dan persaudaraan sebagai agenda yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan bagian dari panggilan bersama seluruh elemen masyarakat.


Pada kesempatan itu, Gubernur juga meminta dukungan doa dari pimpinan, para pelayan, dan seluruh warga GPM terhadap sejumlah agenda strategis pembangunan Maluku.


Agenda tersebut antara lain pembangunan Blok Masela, pengembangan Maluku Integrated Port atau Maluku Integrated Lumbung Ikan Nasional, penyelesaian Bendungan Wae Apu, hilirisasi sektor pertanian, kelapa dan pala, hilirisasi migas di Buru Selatan, pengembangan Koperasi Kelapa Unggulan Daerah Putih, program bedah rumah, pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Tipe B, serta perjuangan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan.


Lewerissa menegaskan, berbagai agenda tersebut bukan semata-mata agenda pemerintah, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk mengubah kekayaan dan posisi strategis Maluku menjadi konektivitas, ketahanan pangan, investasi, lapangan kerja, serta keadilan pembangunan bagi masyarakat.


“Saya percaya doa gereja adalah kekuatan moral bagi setiap perjuangan yang baik. Karena itu, mari kita satukan kerja pemerintah, doa gereja, dan kekuatan rakyat,” ajaknya.


Memasuki perjalanan menuju satu abad GPM, Lewerissa mengingatkan agar perjalanan panjang 91 tahun tidak membuat gereja terjebak dalam romantisme masa lalu.


“91 tahun adalah bukti penyertaan Tuhan bagi GPM. Namun masa depan tidak menanti gereja yang terpukau pada romantisme masa lalu, sebab masa depan adalah milik mereka yang berani melangkah dengan syukur dan tekun mengerjakannya,” ujarnya.


Ia pun mengajak warga GPM untuk terus bermisi di berbagai ruang kehidupan, mulai dari sekolah, pasar, rumah sakit, kantor, toko, rumah tangga, laut hingga kebun.


“Selagi matahari masih terbit di timur dan gelombang masih memukul pantai-pantai pulau kita, percaya dan yakinlah, Tuhan tidak pernah meninggalkan Maluku,” katanya.


Mengakhiri sambutannya, Lewerissa mengajak GPM untuk tetap menjadi garam yang memberi rasa kebenaran dan terang yang membuka jalan di tengah kegelapan, sehingga kasih, keadilan, dan pengharapan terus hidup di Maluku.


Perayaan HUT ke-91 GPM tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode GPM beserta jajaran, Ketua DPRD Provinsi Maluku selaku Ketua Panitia HUT ke-91 Sinode GPM, jajaran Forkopimda Provinsi Maluku atau yang mewakili, Wali Kota Ambon beserta jajaran Forkopimda Kota Ambon, Tenaga Ahli Menteri ESDM, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, para Ketua Majelis Pekerja Klasis dari 34 Klasis GPM, serta pimpinan perguruan tinggi se-Maluku.


Hadir pula Rektor Universitas Pattimura, Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku, Rektor Universitas Islam Negeri Ambon, Rektor IAKN Ambon, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, pimpinan OPD Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon, para mantan Ketua Sinode GPM.


Selain itu, hadir Ketua Perwakilan Warga GPM se-Jabodetabek, perwakilan tokoh-tokoh agama, termasuk perwakilan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku, Ketua Walubi, Ketua PHDI Indonesia, pimpinan gereja dari berbagai denominasi, serta para ketua majelis jemaat, pendeta, penatua, diaken, tua-tua agama, dan para pelayan GPM.


Momentum HUT ke-91 ini menjadi pengingat bahwa perjalanan GPM bukan hanya tentang usia yang terus bertambah, tetapi tentang panggilan untuk terus hadir, melayani, dan membawa harapan. Dari gereja hingga ruang-ruang kehidupan masyarakat, dari pesisir hingga pelosok pulau, semangat bersyukur dan tekun bermisi diharapkan terus menjadi energi bagi GPM dalam menyongsong satu abad pelayanannya di Maluku.(DISKOMINFO MALUKU)


AMBON — Suasana penuh sukacita dan syukur mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM) yang berlangsung di Gedung Baileo Oikumene Ambon, Minggu (6/9/2026).


Dalam resepsi tersebut, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengajak seluruh warga GPM untuk menjadikan perjalanan 91 tahun GPM bukan sekadar catatan sejarah, tetapi momentum untuk terus menghadirkan gereja di tengah kehidupan masyarakat dan menjawab berbagai tantangan zaman.


“Atas nama pribadi, keluarga, Pemerintah Daerah serta seluruh rakyat Maluku, saya mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-91 kepada seluruh pimpinan dan warga GPM di Maluku dan Maluku Utara,” ujar Lewerissa.


Menurutnya, GPM memiliki peran penting dalam perjalanan peradaban Maluku. Bagi Lewerissa yang juga merupakan warga GPM, gereja tidak hanya menjadi pilar kehidupan spiritual, tetapi telah menjadi rumah bersama yang ikut membentuk jiwa, identitas, dan karakter manusia Maluku.


Ia kemudian menggarisbawahi tema HUT ke-91 GPM, “Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Menaruh Takut akan Allah.” Tema tersebut, kata Lewerissa, memiliki pesan teologis yang kuat sekaligus relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.


Lewerissa mengajak warga GPM untuk memaknai rasa syukur secara lebih mendalam. Bersyukur, katanya, bukan berarti perjalanan kehidupan selalu berlangsung mudah, melainkan kemampuan untuk melihat penyertaan Tuhan bahkan ketika menghadapi berbagai kesulitan.


“Pada usia 91 tahun ini, marilah kita mengatakan dengan rendah hati: Eben-Haezer, sampai di sini Tuhan telah menolong kita,” tuturnya.


Namun, rasa syukur tidak boleh membuat gereja berhenti bergerak. Lewerissa menilai gereja dipanggil untuk terus bermisi dan menghadirkan Kristus di tengah dunia yang mengalami perubahan begitu cepat.


Ia menyinggung perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta media sosial yang telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi. Di balik kemajuan tersebut, menurutnya, terdapat tantangan yang tidak kalah besar, mulai dari kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, narkoba, kerusakan lingkungan, krisis keluarga, intoleransi hingga melemahnya karakter dan nilai-nilai kehidupan.


“Manusia semakin terhubung secara digital, tetapi cenderung semakin jauh secara emosional dan spiritual. Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan,” katanya.


Karena itu, Lewerissa berharap GPM terus menjadi gereja yang hadir secara nyata. Gereja, menurutnya, harus mampu menyapa mereka yang kehilangan harapan, menguatkan keluarga yang sedang bergumul, membela martabat manusia, menjaga lingkungan, membangun generasi muda, serta menghadirkan pelayanan yang membebaskan.


Pesan tersebut kemudian diikat dengan satu fondasi penting, yakni takut akan Allah. Bagi Lewerissa, rasa takut akan Allah merupakan kesadaran bahwa setiap tindakan, kebijakan, maupun pelayanan manusia harus senantiasa berpijak pada nilai keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab moral.


Dalam konteks pembangunan Maluku, Lewerissa menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak akan memiliki arti apabila tidak diikuti dengan pembangunan manusia yang memiliki karakter dan integritas.


“Maluku tidak hanya membutuhkan infrastruktur beton dan baja, tetapi Maluku membutuhkan jiwa-jiwa yang kokoh dan berintegritas,” tegasnya.


Menurutnya, gereja dan pemerintah memiliki ruang pengabdian yang dapat berjalan berdampingan. Pemerintah berupaya menghadirkan kesejahteraan material, sementara gereja berperan memperkuat kedewasaan spiritual dan karakter masyarakat.

Ia mencontohkan upaya menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, menjaga perdamaian dan persaudaraan sebagai agenda yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan bagian dari panggilan bersama seluruh elemen masyarakat.


Pada kesempatan itu, Gubernur juga meminta dukungan doa dari pimpinan, para pelayan, dan seluruh warga GPM terhadap sejumlah agenda strategis pembangunan Maluku.


Agenda tersebut antara lain pembangunan Blok Masela, pengembangan Maluku Integrated Port atau Maluku Integrated Lumbung Ikan Nasional, penyelesaian Bendungan Wae Apu, hilirisasi sektor pertanian, kelapa dan pala, hilirisasi migas di Buru Selatan, pengembangan Koperasi Kelapa Unggulan Daerah Putih, program bedah rumah, pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Tipe B, serta perjuangan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan.


Lewerissa menegaskan, berbagai agenda tersebut bukan semata-mata agenda pemerintah, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk mengubah kekayaan dan posisi strategis Maluku menjadi konektivitas, ketahanan pangan, investasi, lapangan kerja, serta keadilan pembangunan bagi masyarakat.


“Saya percaya doa gereja adalah kekuatan moral bagi setiap perjuangan yang baik. Karena itu, mari kita satukan kerja pemerintah, doa gereja, dan kekuatan rakyat,” ajaknya.


Memasuki perjalanan menuju satu abad GPM, Lewerissa mengingatkan agar perjalanan panjang 91 tahun tidak membuat gereja terjebak dalam romantisme masa lalu.


“91 tahun adalah bukti penyertaan Tuhan bagi GPM. Namun masa depan tidak menanti gereja yang terpukau pada romantisme masa lalu, sebab masa depan adalah milik mereka yang berani melangkah dengan syukur dan tekun mengerjakannya,” ujarnya.


Ia pun mengajak warga GPM untuk terus bermisi di berbagai ruang kehidupan, mulai dari sekolah, pasar, rumah sakit, kantor, toko, rumah tangga, laut hingga kebun.


“Selagi matahari masih terbit di timur dan gelombang masih memukul pantai-pantai pulau kita, percaya dan yakinlah, Tuhan tidak pernah meninggalkan Maluku,” katanya.


Mengakhiri sambutannya, Lewerissa mengajak GPM untuk tetap menjadi garam yang memberi rasa kebenaran dan terang yang membuka jalan di tengah kegelapan, sehingga kasih, keadilan, dan pengharapan terus hidup di Maluku.


Perayaan HUT ke-91 GPM tersebut turut dihadiri Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode GPM beserta jajaran, Ketua DPRD Provinsi Maluku selaku Ketua Panitia HUT ke-91 Sinode GPM, jajaran Forkopimda Provinsi Maluku atau yang mewakili, Wali Kota Ambon beserta jajaran Forkopimda Kota Ambon, Tenaga Ahli Menteri ESDM, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, para Ketua Majelis Pekerja Klasis dari 34 Klasis GPM, serta pimpinan perguruan tinggi se-Maluku.


Hadir pula Rektor Universitas Pattimura, Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku, Rektor Universitas Islam Negeri Ambon, Rektor IAKN Ambon, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, pimpinan OPD Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon, para mantan Ketua Sinode GPM.


Selain itu, hadir Ketua Perwakilan Warga GPM se-Jabodetabek, perwakilan tokoh-tokoh agama, termasuk perwakilan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku, Ketua Walubi, Ketua PHDI Indonesia, pimpinan gereja dari berbagai denominasi, serta para ketua majelis jemaat, pendeta, penatua, diaken, tua-tua agama, dan para pelayan GPM.


Momentum HUT ke-91 ini menjadi pengingat bahwa perjalanan GPM bukan hanya tentang usia yang terus bertambah, tetapi tentang panggilan untuk terus hadir, melayani, dan membawa harapan. Dari gereja hingga ruang-ruang kehidupan masyarakat, dari pesisir hingga pelosok pulau, semangat bersyukur dan tekun bermisi diharapkan terus menjadi energi bagi GPM dalam menyongsong satu abad pelayanannya di Maluku. (Rdks) 

Selengkapnya

451 Tahun Ambon, Michael Wattimena: Keharmonisan Harus Dijaga, Ambon Bersih Harus Diwujudkan

September 06, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Peringatan 451 tahun Kota Ambon bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik usia yang telah melewati empat setengah abad, terdapat perjalanan panjang sebuah kota yang tumbuh dari keberagaman, melewati berbagai tantangan, hingga terus berbenah menuju masa depan.


Momentum itu terasa dalam upacara peringatan HUT ke-451 Kota Ambon yang berlangsung pada Senin, 7 September 2026. Tahun ini, perayaan mengusung tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju.”


Tema tersebut tidak hanya berbicara tentang kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ajakan untuk membangun kota melalui kebersamaan, kepedulian dan kerja nyata.


Pesan itu disampaikan Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Michael Wattimena, yang turut menghadiri upacara HUT ke-451 Kota Ambon.


Mengawali pernyataannya, Michael menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Kota Ambon yang telah memasuki usia 451 tahun.


“Yang pertama, kita mau menyampaikan dirgahayu Kota Ambon yang ke-451,” ujarnya.


Menurut Michael, usia panjang Kota Ambon menunjukkan bahwa kota ini memiliki perjalanan sejarah yang tidak singkat. Lebih dari itu, Ambon dengan masyarakatnya yang beragam dapat menjadi gambaran kecil dari Indonesia.


Ia menyebut Kota Ambon sebagai salah satu miniatur Indonesia. Karena itu, keharmonisan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk terus dirawat.


“Kita tahu bahwa Kota Ambon adalah miniatur Indonesia. Sehingga yang harus dijaga adalah keharmonisan,” katanya.


Pesan tersebut tidak lepas dari perjalanan sejarah Ambon yang pernah melewati situasi kemanusiaan yang berat. Pengalaman masa lalu, menurutnya, harus menjadi pelajaran agar masyarakat tidak kembali terjebak dalam kondisi yang sama.


“Karena kita pernah mengalami sebuah situasi kemanusiaan yang membuat kita sangat terpuruk. Kalau bisa, jangan sampai kita kembali ke situ,” ujarnya.


Bagi Michael, menjaga keharmonisan tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata. Keharmonisan harus menjadi energi untuk bekerja bersama membangun Kota Ambon.


Ia menilai pembangunan kota membutuhkan komitmen seluruh pihak, bukan hanya pemerintah.


Yang terpenting, kata dia, adalah bagaimana masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat bersama-sama memajukan Kota Ambon secara berkelanjutan.


“Yang paling penting adalah kita secara bersama-sama memajukan kota ini dalam keberlanjutannya. Itu adalah bagian daripada komitmen. Jadi bukan saja hanya retorika, tetapi itu harus diwujudkan dengan sebuah karya dan kerja yang nyata,” tegasnya.


Menurut Michael, setiap orang yang memiliki kesempatan untuk berkontribusi harus dapat memberikan sesuatu bagi kemajuan kota.


“Kalau kita produktif, kita bisa berbuat yang lebih banyak bagi kota ini,” katanya.


Ia kemudian mencontohkan bentuk kepeduliannya terhadap Maluku dan Kota Ambon. Kendati dirinya merupakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Papua Barat, Michael mengatakan perhatian terhadap Maluku tetap besar.


Ia menyebut pembangunan Jembatan Merah Putih sebagai salah satu contoh pembangunan yang kini telah menjadi ikon Kota Ambon.


Semangat untuk berkontribusi tersebut kembali diwujudkan dalam momentum HUT ke-451 Kota Ambon.


Michael mengungkapkan bahwa dirinya mendapat informasi beberapa hari sebelum pelaksanaan HUT mengenai rencana kehadirannya dalam perayaan tersebut. Dari komunikasi itu kemudian muncul gagasan agar kehadirannya tidak hanya sebatas menghadiri upacara, tetapi juga membawa bentuk dukungan konkret bagi Kota Ambon.


Melalui CSR Pertamina Peduli, bantuan kemudian diberikan kepada Pemerintah Kota Ambon dan diserahkan secara simbolis kepada Wali Kota Ambon.


Bantuan tersebut berupa sarana pendukung kebersihan kota, termasuk tempat atau wadah sampah beroda yang diharapkan dapat membantu pengelolaan sampah.


Bagi Michael, bantuan itu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar sebuah fasilitas.


Bantuan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan tema HUT ke-451, “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju.”


“Bukan saja retorika, tetapi harus ada bentuk-bentuk partisipasi dan komitmen untuk membangun kota ini,” ujarnya.


Menurutnya, kebersihan merupakan bagian penting dalam wajah sebuah kota. Kota yang bersih akan memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik Ambon sebagai destinasi wisata.


“Kota ini harus kita rawat, kita harus jaga kebersihannya, supaya menjadi indah, menjadi bagus, sehingga menjadi destinasi wisata bagi berbagai masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.


Usia 451 tahun akhirnya bukan hanya tentang menghitung perjalanan waktu. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali apa yang telah dilewati dan menentukan apa yang harus dilakukan ke depan.


Bagi Michael Wattimena, Ambon memiliki modal besar berupa keberagaman dan sejarah panjang. Namun, modal itu harus dirawat melalui keharmonisan dan diterjemahkan ke dalam kerja nyata.


Tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju” pun menjadi semakin relevan. Sebab, kota yang maju tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan masyarakat yang hidup harmonis, lingkungan yang terawat, serta kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan.


Dari Ambon yang telah berusia 451 tahun, pesan yang disampaikan Michael sederhana: merawat kota adalah tanggung jawab bersama, dan membangun masa depan tidak boleh berhenti pada retorika.


Harapan itu kini menjadi bagian dari perjalanan Ambon menuju usia berikutny sebuah kota yang tetap menjaga persaudaraan, semakin bersih dan sehat, serta mampu menempatkan dirinya sebagai bagian penting dari kemajuan Indonesia. (Za)

Selengkapnya

Bank Maluku Malut Dukung Ambon 451 Tahun: Dari Digitalisasi hingga Penguatan Ekonomi Masyarakat

September 06, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Di usia ke-451 tahun, Kota Ambon tidak hanya merayakan perjalanan panjang sejarahnya, tetapi juga menatap masa depan dengan semangat transformasi. Digitalisasi pelayanan, penguatan ekonomi masyarakat, hingga kolaborasi antarlembaga menjadi bagian penting dari perjalanan Ambon menuju kota yang semakin maju dan sejahtera.


Bagi PT Bank Pembangunan Daerah Maluku dan Maluku Utara (Bank Maluku Malut), perjalanan tersebut merupakan ruang untuk terus memperkuat kolaborasi bersama Pemerintah Kota Ambon.


Direktur Utama Bank Maluku Malut, Syahrisal Imbar, menyampaikan ucapan selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-451 Kota Ambon. Ia menilai, di bawah kepemimpinan Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, perkembangan kota menunjukkan arah yang semakin positif, khususnya dalam pemanfaatan teknologi digital.


“Atas nama Bank Maluku Malut, kami mengucapkan selamat HUT Kota Ambon yang ke-451 tahun. Saya melihat Kota Ambon di bawah kepemimpinan Bapak Wali Kota Bodewin Wattimena semakin maju, semakin digital, dan rakyatnya semakin sejahtera,” ujar Syahrisal.


Menurutnya, berbagai kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Ambon tidak hanya mendorong pembangunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat dari berbagai latar belakang.


Bank Maluku Malut, kata Syahrisal, siap mengambil bagian dalam proses tersebut melalui berbagai bentuk dukungan dan kerja sama.


“Kami dari Bank Maluku Malut pasti siap untuk mensupport, terutama dari semua sisi, baik dari sisi keuangan melalui kerja sama pemberian kredit, kemudian juga support dari sisi digital,” katanya.


Dukungan digitalisasi tersebut antara lain dilakukan melalui penyediaan alat perekam pajak, dukungan terhadap digitalisasi pasar, serta berbagai program lainnya yang diarahkan untuk memperkuat sistem transaksi dan pelayanan publik.


Tidak hanya melalui dukungan finansial dan teknologi, Bank Maluku Malut juga menyatakan komitmennya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).


Bagi Syahrisal, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya bersama untuk memastikan transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan teknologi, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.


“Kami dukung juga dari sisi CSR. Kami yakin ke depan Kota Ambon makin maju dan makin digital,” ujarnya.


Transformasi digital juga menjadi bagian dari program literasi keuangan yang dijalankan Bank Maluku Malut.


Syahrisal menjelaskan, pihaknya terus mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai layanan perbankan sekaligus memperluas penggunaan transaksi non-tunai.


Langkah tersebut dilakukan untuk membangun cashless society, di mana masyarakat semakin terbiasa menggunakan layanan perbankan digital dan mengurangi ketergantungan terhadap uang tunai, 

Salah satu sasaran penting dalam program literasi tersebut adalah kalangan pelajar.


Bank Maluku Malut mendorong peningkatan kepemilikan rekening bagi pelajar sekaligus memberikan pemahaman mengenai cara menggunakan layanan perbankan, termasuk kartu dan ATM.


“Kami melakukan kegiatan literasi dengan tujuan agar masyarakat bisa mengenal bank dan tentu dalam bertransaksi menggunakan kartu dan ATM,” jelasnya.


Menurut Syahrisal, semakin luas masyarakat menggunakan transaksi digital, maka penggunaan uang tunai dapat ditekan. Pada saat yang sama, aktivitas masyarakat di teller perbankan juga dapat dikurangi sehingga transaksi menjadi lebih praktis dan efisien.


“Sehingga penggunaan uang tunai makin berkurang dan tentu aktivitas di teller-teller bank tidak terlalu padat. Saya kira kami melakukan switching untuk transaksi keuangan menjadi digital,” katanya.


Di tengah percepatan digitalisasi, Bank Maluku Malut juga menaruh perhatian besar pada aspek keamanan sistem.


Syahrisal menegaskan, pengembangan layanan digital harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem keamanan untuk menghadapi berbagai potensi ancaman siber.


Karena itu, bank terus melakukan penguatan dan menjaga keamanan sistem agar semakin tangguh serta mampu menghadapi serangan-serangan siber.


“Dalam kerja sama digitalisasi dan lain-lain, kami menjaga security sistem kami agar lebih kuat dan lebih resilient terhadap serangan-serangan cyber,” tegasnya.


Kolaborasi juga terus dibangun dengan berbagai pihak, termasuk para pemegang saham, dalam rangka memperkuat likuiditas maupun pengembangan layanan digital.


Bagi Bank Maluku Malut, momentum HUT ke-451 Kota Ambon menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak dapat dilakukan sendiri. Pemerintah, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat harus berjalan bersama.


Di usia 451 tahun, Ambon pun tidak sekadar merayakan bertambahnya usia. Kota ini sedang meneguhkan langkah menuju masa depan yang lebih terkoneksi, inklusif, dan digital—sebuah perjalanan yang membutuhkan kolaborasi dari semua pihak.


Dan Bank Maluku Malut memastikan diri tetap berada di dalam perjalanan tersebut: mendukung Ambon untuk terus maju, semakin digital, dan semakin sejahtera. (Za)

Selengkapnya

Kapolres SBB Tegaskan Bahaya Penambang Ilegal, Pasca Ditemukan Dua Penambang Ilegal Ditemukan Tewas Ditambang Sinabar Luhu

September 06, 2026


Piru
, globaltimurnn.com - Dua orang laki-laki ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tertimbun di dalam lubang bekas galian tambang di kawasan Tambang Luhu, tepatnya di sekitar daerah Tiang Listrik 2, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Minggu (6/9/2026).


Kapolres Seram Bagian Barat menjelaskan, informasi mengenai penemuan kedua jenazah tersebut diperoleh pihak kepolisian pada Minggu pagi. Korban pertama ditemukan sekitar pukul 05.00 WIT.


“Korban pertama diduga merupakan warga Desa Wakasihu dan berdasarkan informasi masyarakat biasa dipanggil Onco. Namun, identitas lengkap korban masih dalam proses pendalaman,” jelas Kapolres.


Selanjutnya, sekitar pukul 11.00 WIT, kembali ditemukan seorang laki-laki dalam kondisi tertimbun di lubang bekas galian tambang di lokasi yang sama. Korban kedua diduga merupakan warga Desa Wakal dan berdasarkan informasi awal diketahui bernama Ismail Nakul.


Kapolres mengatakan, kedua korban kemudian dievakuasi oleh warga setempat dan dipulangkan kepada keluarga masing-masing untuk proses pemakaman.


“Untuk identitas lengkap kedua korban maupun penyebab pasti kejadian masih dalam proses penyelidikan dan pendalaman,” ujarnya.


Kapolres menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena terdapat banyak lubang bekas aktivitas pertambangan yang tidak ditata dan tidak memiliki pengamanan yang memadai.


Menurutnya, kondisi lubang bekas galian dapat sewaktu-waktu mengalami longsor atau runtuh sehingga sangat membahayakan keselamatan orang yang berada di sekitar lokasi.


“Kita perlu menyadari bahwa aktivitas penambangan di kawasan tersebut merupakan kegiatan ilegal. Selain tidak memiliki legalitas, aktivitas penambangan seperti ini juga memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan jiwa,” tegas Kapolres.


Kapolres mengingatkan masyarakat maupun para penambang untuk tidak mengabaikan faktor keselamatan. Lubang-lubang bekas galian yang tidak diamankan dapat menjadi ancaman serius, baik bagi penambang maupun masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.


“Saya mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas penambangan ilegal. Jangan sampai keuntungan yang ingin diperoleh justru harus dibayar dengan kehilangan nyawa. Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian utama,” ujarnya.


Kapolres juga menyampaikan bahwa pihak kepolisian terus melakukan pengumpulan bahan keterangan dan monitoring terhadap perkembangan situasi pascakejadian. Proses pendalaman di lapangan masih dilakukan untuk mengetahui secara pasti rangkaian peristiwa yang menyebabkan kedua korban meninggal dunia.


Kapolres menambahkan, pihaknya juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati ataupun melakukan aktivitas di sekitar lubang-lubang bekas galian tambang yang rawan longsor dan tertimbun.


“Kami tidak ingin ada lagi korban jiwa akibat aktivitas penambangan ilegal maupun karena masyarakat berada di sekitar lubang bekas galian yang tidak aman. Karena itu, kami meminta semua pihak untuk mengutamakan keselamatan dan tidak melakukan aktivitas di lokasi yang membahayakan,” pungkasnya. (Rdks) 

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT