Laha, Globaltimurnn.com — Minggu pagi, 30 Agustus 2026, Negeri Laha, Kecamatan Teluk Ambon, kembali menunjukkan pesonanya sebagai salah satu kawasan yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga cita rasa kuliner khas yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.
Sejak pukul 06.00 WIT, suasana di sejumlah titik kuliner di Negeri Laha mulai dipadati pengunjung. Warga datang silih berganti, sebagian bahkan rela menempuh perjalanan dari berbagai daerah demi menikmati sajian yang sudah lama dikenal sebagai salah satu daya tarik kuliner Laha.
Di antara beragam makanan dan camilan yang tersedia, ada dua menu yang seolah menjadi “bintang utama” yang paling dinantikan, yakni nasi kelapa dan ikan bakar dengan sambal colo-colo.
Nasi kelapa bukan sekadar makanan bagi masyarakat Maluku. Hidangan sederhana yang kaya cita rasa ini telah menjadi bagian dari kebiasaan kuliner masyarakat dan terus memiliki tempat tersendiri di hati para penikmatnya.
Di Negeri Laha, pengalaman menikmati nasi kelapa terasa semakin istimewa. Ikan segar yang menjadi pilihan pembeli dibakar langsung di tempat. Aroma ikan yang dipanggang di atas bara kemudian berpadu dengan nasi kelapa dan sambal colo-colo, menciptakan sajian yang sederhana namun menggugah selera.
Bagi pengunjung, proses pembakaran ikan secara langsung justru menjadi bagian dari daya tarik. Mereka tidak hanya datang untuk membeli makanan, tetapi juga menikmati suasana, melihat proses pengolahan, hingga menyantap hidangan dalam kondisi masih hangat.
Perpaduan ikan bakar, nasi kelapa dan colo-colo menjadi salah satu alasan mengapa kawasan kuliner di Laha terus memiliki peminat. Rasanya yang khas membuat banyak pengunjung memilih kembali datang, bahkan menjadikan kuliner tersebut sebagai tujuan saat akhir pekan.
Menariknya, antusiasme masyarakat tidak begitu saja surut meski kondisi cuaca terkadang kurang bersahabat. Keinginan untuk menikmati kuliner khas Laha menjadi alasan tersendiri bagi pengunjung untuk tetap datang.
Bagi sebagian orang, perjalanan menuju Laha bukan sekadar perjalanan mencari makanan. Ada pengalaman yang ingin ditemukan—mulai dari suasana pagi, keramaian warga, aroma ikan yang dibakar, hingga sepiring nasi kelapa yang disantap bersama sambal colo-colo.
Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kuliner dapat menjadi bagian penting dari identitas sebuah negeri. Laha tidak hanya dikenal karena letaknya dan keindahan kawasan pesisirnya, tetapi juga karena sajian kuliner yang tumbuh dan dipertahankan dari generasi ke generasi.
Tak heran jika Negeri Laha kerap mendapat julukan sebagai “negeri kuliner”. Sebutan itu bukan tanpa alasan. Dari pagi hari, denyut aktivitas masyarakat dan para pelaku usaha kuliner sudah terlihat, menghadirkan pengalaman tersendiri bagi siapa saja yang datang.
Pada akhirnya, cerita tentang Negeri Laha bukan hanya tentang nasi kelapa dan ikan bakar colo-colo. Lebih dari itu, ada cerita tentang masyarakat, tradisi, rasa dan sebuah negeri yang mampu menjadikan makanan sebagai cara untuk memperkenalkan identitasnya.
Dari sebuah sajian sederhana di pagi hari, Negeri Laha menunjukkan bahwa kuliner lokal masih memiliki kekuatan untuk mempertemukan banyak orang—datang, menikmati, kemudian pulang membawa cerita tentang rasa dari sebuah negeri. (Za)











