globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Sabtu, 19 September 2026

Korban Kebakaran Patahuwe & Lisabata Terus Dibanjiri Bantuan, Kali Ini Datang Dari GMNI Komisariat Unidjar Kelas Kairatu

September 19, 2026


Taniwel
, globaltimurnn.com - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Universitas Darussalam Ambon (Unidjar) Kelas Kairatu menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat di Negeri Lisabata dan Negeri Patahuwe, Kecamatan Kairatu, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak konflik di kedua negeri tersebut.


Penyaluran bantuan yang dilaksanakan di dua negeri tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan penggalangan dana yang sebelumnya dilakukan oleh kader-kader GMNI Komisariat Unidjar Kelas Kairatu di sejumlah titik di wilayah Kecamatan Kairatu.


Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kemanusiaan sekaligus wujud nyata semangat gotong royong untuk membantu masyarakat yang terdampak situasi konflik. 


Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban masyarakat serta menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun kembali rasa persaudaraan dan kepedulian antarsesama.


Ketua Komisariat GMNI Unidjar Kelas Kairatu, Ary Sanditawan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.


“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian kami kepada sesama. Harapan kami, semoga permasalahan yang terjadi di kedua negeri dapat diselesaikan dengan baik,” ujar Ary.


Menurutnya, GMNI tidak hadir untuk menghakimi atau menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam konflik yang terjadi. 


Kehadiran kader-kader GMNI di Negeri Patahuwe dan Negeri Lisabata semata-mata didorong oleh semangat kemanusiaan dan solidaritas terhadap masyarakat.


“Kami tidak ingin melihat ke belakang dan mempertanyakan siapa yang benar dan siapa yang salah, Itu bukan tugas kami untuk menjustifikasi, Kami datang sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat di dua negeri,” tegasnya.


Ary juga mengimbau kepada seluruh pihak agar bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif dan tidak memperkeruh keadaan melalui provokasi maupun komentar-komentar yang dapat menyudutkan masyarakat, baik di Negeri Patahuwe maupun Negeri Lisabata.


“Kami mengajak semua pihak untuk berhenti memprovokasi dan memperkeruh keadaan dengan komentar-komentar yang menyudutkan masyarakat di Patahuwe maupun di Lisabata. 


Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan adalah ketenangan, kepedulian, dan upaya bersama untuk mencari jalan keluar,” katanya.


GMNI Komisariat Unidjar Kelas Kairatu berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di kedua negeri. 


Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi pesan bahwa semangat gotong royong dan solidaritas kemanusiaan harus tetap dijaga di tengah situasi yang sulit.


GMNI Komisariat Unidjar Kelas Kairatu juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan persaudaraan, menahan diri, serta mendukung terciptanya penyelesaian masalah secara damai demi terciptanya kehidupan masyarakat yang aman dan harmonis di Negeri Patahuwe maupun Negeri Lisabata. (Tim/Red) 


Selengkapnya

Kunjungi Kaum Bapak Katolik Santo Petrus Paroki Santa Theresia Piru, Kapolres SBB dapat sambutan hangat

September 19, 2026


Piru
, Globaltimurnn.com - Upaya mempererat hubungan dengan tokoh agama dan masyarakat terus dilakukan Kapolres Seram Bagian Barat (SBB) AKBP Ref​​indo Pradikta Rulando, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A. Hal tersebut diwujudkan melalui kunjungan dan silaturahmi bersama Kelompok Kaum Bapak Katolik Santo Petrus Paroki Santa Theresia Piru, Sabtu (19/9/2026).


Bertempat di Panti Asuhan Katolik Yayasan Rumah Kasih Yakobus Abadi, Kompleks Gua Maria Henaputi, Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Kedatangan Kapolres SBB pada pukul 16.30 WIT disambut langsung oleh Pastor Paroki Santa Theresia Piru RD. Gorys Matly bersama pengurus panti asuhan dan anak-anak.


Dalam pertemuan tersebut, Pastor Paroki RD. Gorys Matly menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan Kapolres SBB. Pertemuan itu juga bertepatan dengan kegiatan rekoleksi dan katekese dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional yang dilaksanakan oleh Kaum Bapak Katolik Santo Petrus.


Kapolres SBB AKBP Ref​​indo Pradikta Rulando menyampaikan harapannya agar silaturahmi tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara Polri, tokoh agama, serta masyarakat di Kabupaten SBB.


“Kami berharap dapat menorehkan kebahagiaan bersama dan tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Kami juga memohon untuk diterima sebagai saudara dan keluarga, khususnya oleh kaum bapak dan pemuda Katolik,” ujar Kapolres.


Ia menegaskan komitmennya untuk bersama-sama menyatukan dan merekatkan kembali hubungan kekeluargaan di tengah masyarakat. Kapolres juga membuka ruang komunikasi dan meminta masukan maupun saran selama dirinya bersama jajaran melaksanakan tugas di Kabupaten SBB.


“Pintu kami selalu terbuka bagi Pastor dan juga pengurus panti asuhan. Kami sangat mengharapkan masukan dan saran selama kami bertugas di Kabupaten Seram Bagian Barat,” tambahnya.


Sementara itu, perwakilan Kaum Bapak Katolik Santo Petrus, Wem Bahy, menyampaikan rasa terima kasih dan bahagia atas kunjungan Kapolres SBB. Ia juga menyarankan agar personel Polri yang beragama Katolik dapat turut mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh gereja.


Ketua Kaum Bapak Katolik Santo Petrus Paroki Santa Theresia Piru, Tridowarno Rahanubun, turut menyampaikan ucapan selamat datang dan selamat bertugas kepada Kapolres SBB.


“Semoga Bapak Kapolres senantiasa dapat melayani masyarakat dengan kasih,” ungkapnya.


Silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi serta membangun kebersamaan antara Polri, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Kabupaten Seram Bagian Barat. (Rdks) 

Selengkapnya

Dankodaeral IX Tutup Piala Panglima TNI Cup 2026 di Ambon, Perkuat Sinergitas Antarlembaga

September 19, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Dankodaeral) IX, Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., menghadiri sekaligus menutup secara resmi Pertandingan Tenis Lapangan Piala Panglima TNI Cup Tahun 2026 di Lapangan Tenis Tapal Kuda, Kediaman Pangdam XV/Pattimura, Kota Ambon, Sabtu (19/9/2026).


Pertandingan yang berlangsung selama dua hari, 18–19 September 2026, tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI. Selain menjadi ajang kompetisi olahraga, kegiatan ini juga menjadi wadah mempererat kebersamaan, soliditas, sinergitas, dan silaturahmi antarpersonel TNI-Polri, pemerintah daerah, serta instansi terkait di wilayah Maluku.


Pada hasil akhir pertandingan, Juara I diraih Kodam C, Juara II Kejaksaan Tinggi, sedangkan Juara III bersama diraih Kodaeral IX dan Kodam B.


Rangkaian acara penutupan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan Dankodaeral IX sekaligus penutupan resmi pertandingan, pengumuman hasil pertandingan, penyerahan hadiah kepada para pemenang, foto bersama, pembacaan doa, dan diakhiri dengan penutup.


Dalam sambutannya, Dankodaeral IX menyampaikan bahwa pertandingan tenis lapangan tersebut tidak semata-mata menjadi ajang untuk meraih prestasi, tetapi juga sarana efektif dalam membangun kebersamaan dan memperkuat sinergitas antarlembaga melalui olahraga.


Dankodaeral IX juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia serta seluruh peserta yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya pertandingan sehingga dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.


Ia berharap semangat sportivitas, kebersamaan, dan persaudaraan yang terbangun selama pertandingan dapat terus dipelihara. Selain mendorong lahirnya atlet-atlet tenis berprestasi, kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperkuat sinergitas dan soliditas TNI-Polri bersama pemerintah daerah serta instansi terkait di Maluku.


Turut hadir Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Ir. Sadali Ie, Kasdam XV/Pattimura Brigjen TNI Wawan Pujiatmoko, Kadispers Lanud Pattimura Letkol Adm Dita Dwi Purnama, Plh. KBO Binda Maluku Mohammad Hikmatullah Siknun, Anggota DPRD Provinsi Maluku Ir. Rimaniar Julindra Hetharia, para PJU Kodam XV/Pattimura, para PJU Kodaeral IX, perwakilan Polda Maluku, perwakilan Kejati Maluku serta para atlet dan undangan lainnya (Rdks) 

Selengkapnya

Wagub Maluku Apresiasi Perjuangan Kafilah MTQ, Tegaskan Komitmen Pembinaan Generasi Qurani

September 19, 2026


Semarang
, globaltimurnn.com – Wakil Gubernur Maluku menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh kafilah Maluku yang telah berjuang membawa nama daerah pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional. 


Meski belum berhasil meraih juara, capaian yang diperoleh dinilai menunjukkan peningkatan dan menjadi modal penting untuk pembinaan prestasi ke depan.


Hal tersebut disampaikan Wagub Maluku saat melakukan pertemuan bersama kafilah Maluku di Restoran Rodjo, Kota Semarang, Sabtu (19/9/2026). Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua DPW LASQI Nusantara Jaya Provinsi Maluku Hj. Rohani Vanath, Plt. Ketua LPTQ Maluku beserta jajaran, para pelatih, pendamping, serta seluruh anggota kafilah.


Dalam arahannya, Wagub menyampaikan rasa syukur atas kesehatan dan perjuangan seluruh peserta yang telah menjalankan tugas sebagai perwakilan Provinsi Maluku.


“Anak-anakku, kalian telah berjuang dengan keras. Walaupun belum menjadi juara, tetapi prestasi kalian mengalami peningkatan. Pemerintah Provinsi Maluku menyampaikan terima kasih kepada seluruh kafilah, para pelatih, pendamping, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini,” ujar Wagub.


Menurutnya, menjadi bagian dari kafilah MTQ merupakan sebuah kehormatan karena membawa identitas Maluku sekaligus menjadi bagian dari upaya menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an.


“Kalian adalah anak-anak yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an, memiliki mental yang kuat, dan menjadi generasi yang membawa nilai kebaikan. Beruntung orang tua yang sejak kecil telah mendidik anak-anaknya dengan agama, karena agama menjadi benteng bagi generasi muda,” ungkapnya.


Wagub juga mengingatkan agar para peserta terus meningkatkan kemampuan diri. Menurutnya, MTQ bukan hanya ajang perlombaan, tetapi bagian dari syiar Islam yang memiliki nilai pembinaan karakter dan spiritual.


“Berdasarkan arahan Menteri Agama, MTQ Nasional akan terus dilaksanakan setiap tahun. Karena itu, kita harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Pada dasarnya MTQ adalah bagian dari syiar Islam yang harus kita dukung,” katanya.


Lebih lanjut, Wagub menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku memiliki komitmen untuk terus meningkatkan prestasi kafilah Maluku di tingkat nasional. Namun, upaya tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah dan kebijakan efisiensi anggaran yang sedang berjalan.


“Bapak Gubernur dan saya sama-sama memiliki keinginan agar kafilah Maluku dapat meraih prestasi lebih baik lagi. Namun, saat ini kita juga harus menyesuaikan dengan kondisi anggaran daerah,” jelasnya.


Sebagai bentuk apresiasi, Wagub meminta kepada Plt. Ketua LPTQ Maluku bersama jajaran agar dapat memberikan penghargaan kepada para peserta yang berhasil menunjukkan prestasi. Hal tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi para qari, qariah, hafiz, dan hafizah Maluku untuk terus berkembang.


“Penghargaan ini penting sebagai bentuk perhatian dan penyemangat agar anak-anak kita terus berprestasi serta membawa nama baik Maluku,” tambahnya.


Menutup arahannya, Wagub berharap kondisi pembangunan dan perekonomian Maluku terus mengalami perbaikan sehingga pembinaan keagamaan dan pengembangan prestasi generasi muda dapat dilakukan secara lebih optimal.


“Semoga ke depan kondisi Maluku semakin baik, keuangan daerah semakin sehat, sehingga LPTQ dapat merancang program pembinaan yang lebih besar dan menghasilkan prestasi yang lebih baik lagi,” ujar Wagub.


Dalam kesempatan tersebut, H. Abdullah Vanath menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya jajaran Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Tengah selaku LO, atas pelayanan yang diberikan selama pelaksanaan MTQ Nasional.


“Pemerintah Provinsi Maluku mengapresiasi perhatian serta pelayanan yang diberikan kepada kontingen Maluku. Hal ini menjadi wujud kebersamaan dan persaudaraan antarprovinsi dalam menyukseskan MTQ Nasional XXXI,” tutup Wagub Maluku. (Rdks) 

Selengkapnya

Kodaeral IX Gelar Pelatihan BHD, Bekali 425 Peserta Keterampilan Pertolongan Darurat

September 19, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) secara serentak jajaran TNI melalui video conference (vicon) dalam rangka memperingati HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Gedung Leimena, Mako Kodaeral IX, Halong, Kota Ambon, Sabtu (19/9/2026).


Kegiatan tersebut dihadiri Komandan Kodaeral IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., bersama sejumlah Pejabat Utama Kodaeral IX, Perwira Diskes Kodaeral IX dan Rumkital dr. F.X. Soehardjo, Pengurus Jalasenastri Daerah Kodaeral IX, para guru pendamping, serta sekitar 425 peserta yang terdiri atas masyarakat umum, pelajar SMA Sekolah Rakyat Ambon dan Jalasenastri Kodaeral lX. 


Mengusung tema HUT ke-81 TNI, “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, pelatihan BHD menjadi sarana edukasi untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan, khususnya ketika menghadapi korban henti jantung dan henti napas.


Materi pelatihan disampaikan Lettu Laut (K/W) dr. Gina Melawati Agustina. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai konsep dan tahapan BHD, yang kemudian dilanjutkan dengan peragaan serta praktik secara langsung menggunakan alat peraga.


Pelaksanaan kegiatan juga terhubung secara vicon dengan Mabes TNI dan dipimpin Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayor Jenderal TNI dr. Hadi Juanda, Sp.PD., M.A.R.S., CFrA., didampingi Direktur Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).


Di Kodaeral IX, para pejabat bersama Pengurus Jalasenastri Daerah Kodaeral IX turut meninjau pelaksanaan praktik BHD yang dilakukan para peserta. 


Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik BHD secara massal yang diikuti seluruh peserta secara bersama-sama.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan kesehatan dalam rangka HUT ke-81 TNI. 


Kegiatan serupa di jajaran TNI juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam memberikan pertolongan awal sebelum korban memperoleh penanganan tenaga medis.


Melalui kegiatan ini, Kodaeral IX turut memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat sekaligus mendorong terbentuknya kemampuan dasar menghadapi kondisi kegawatdaruratan.


Bagi pelajar dan masyarakat, keterampilan BHD diharapkan dapat menjadi bekal praktis yang dapat diterapkan ketika menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar.


Kegiatan tersebut sekaligus menjadi wujud kepedulian dan pengabdian TNI kepada masyarakat melalui edukasi kesehatan, sejalan dengan semangat HUT ke-81 TNI untuk memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat. (Rdks) 

Selengkapnya

Semesta Raya Sastra 1.0 di Ambon: Ketika Membaca Menjadi Cara Merawat Ingatan

September 19, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Di sebuah ruang di Auditorium George de Fretes RRI Ambon, Sabtu (19/09/2026), sastra tidak sekadar dibicarakan sebagai kumpulan kata di atas kertas.


Ia hadir sebagai ruang untuk mengingat sejarah, membaca pengalaman manusia, memahami luka masa lalu, hingga menemukan kembali cara melihat kehidupan melalui kata-kata.


Suasana itulah yang terasa dalam Semesta Raya Sastra 1.0 yang digelar Komunitas Timur Menulis dengan mengangkat tema “Sastra dan Budaya Timur Indonesia”.


Kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026 tersebut mempertemukan penulis, penyair, akademisi, jurnalis, mahasiswa, pelajar, pegiat literasi, dan masyarakat dalam satu ruang dialog.


Bagi Ketua Komunitas Timur Menulis, Soleman Pelu, nama Semesta Raya Sastra memiliki makna tersendiri.


“Semesta” menggambarkan ruang sastra yang luas tanpa batas, tempat narasi dan karya dari Timur dapat tumbuh. “Raya” menjadi simbol perayaan yang terbuka bagi masyarakat, sementara “Sastra” dipandang sebagai jembatan untuk merawat memori sejarah, merekam kehidupan sosial, dan menjaga kearifan lokal.


Sedangkan “1.0” menjadi pijakan awal dari sebuah gerakan literasi yang diharapkan dapat terus berlanjut.


Salah satu bagian utama kegiatan adalah bedah novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.


Diskusi menghadirkan Dr. Falantino Eryk Latupapua dan jurnalis senior sekaligus pekerja perdamaian Maluku, Embong Salampessy.


Bagi Falantino, sastra memiliki kekuatan untuk membawa pembaca mendekati sejarah melalui pengalaman manusia.


Ia menilai Laut Bercerita mampu menghadirkan persoalan sejarah melalui bahasa yang relatif sederhana, intim, dan puitis. Tokoh Biru Laut menjadi pintu bagi pembaca untuk melihat pengalaman manusia di tengah situasi sosial dan politik menjelang Reformasi 1998.


Namun, membaca karya sastra berlatar sejarah, menurutnya, tidak cukup hanya dengan menikmati cerita.


Generasi muda perlu didorong untuk membaca secara kritis, mencari sumber lain, dan memahami berbagai perspektif agar sejarah tidak diterima hanya dari satu sudut pandang.


Lebih jauh, sastra dapat menjadi ruang untuk menjaga pengalaman manusia yang traumatis agar tidak hilang.


Sastra bukan hanya untuk menunjukkan bahwa ada sejarah seperti ini yang direpresentasikan dalam karya sastra. Tetapi lebih dari itu, untuk memastikan bahwa pengalaman-pengalaman manusia, terutama yang traumatis dan menunjukkan bahwa kemanusiaan kita tercabik-cabik, tidak boleh dilupakan begitu saja, kata Falantino.


Pandangan tersebut kemudian bertemu dengan perspektif Embong Salampessy yang melihat hubungan erat antara sastra dan jurnalisme.


Menurut Embong, jurnalisme merupakan salah satu cara manusia mencatat peristiwa, sementara sastra dapat membantu menghadirkan pengalaman manusia yang terkadang tidak tercatat dalam sejarah resmi.


Pembahasan Laut Bercerita kemudian dibawa ke pengalaman Maluku, terutama tragedi kemanusiaan 1999.


Bagi Embong, pengalaman konflik juga meninggalkan trauma kolektif yang perlu dirawat melalui dokumentasi, jurnalistik, sastra, dan kesenian.


Ia menilai suara korban, perempuan, anak-anak, pengungsi, dan kelompok masyarakat yang selama ini kurang terdengar perlu mendapatkan ruang.


Yang penting adalah bagaimana kita memberi ruang dan kesempatan bagi suara-suara itu untuk terdengar. Setidaknya terdengar dulu, ujarnya.


Di titik inilah sastra dan jurnalisme bertemu: sama-sama berusaha menjaga agar manusia dan pengalamannya tidak hilang dari ingatan.


Jika sesi pertama membawa peserta menyusuri sejarah dan ingatan, sesi berikutnya mengajak mereka kembali ke proses paling dasar dalam dunia kepenulisan: membaca.


Melalui diskusi puisi bertajuk “Perjalanan Pulang-Pergi Antara Membaca dan Menulis Puisi”, penyair Wesly Johannes mengajak peserta melihat hubungan erat antara membaca dan menulis.


Menurutnya, seorang penulis tidak bisa hanya mengandalkan keinginan untuk menulis. Sebelum menghasilkan karya, seorang penulis perlu membangun kebiasaan membaca.


Menulis itu adalah langkah kedua seorang penulis. Langkah pertamanya adalah membaca. Seorang penulis punya dua kaki, satu kaki membaca dan kaki lainnya menulis.


Pesan tersebut terasa semakin relevan di tengah kehidupan digital yang membuat orang terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya dengan cepat.


Bagi Wesly, membaca karya sastra membutuhkan sesuatu yang berbeda: waktu, perhatian, dan kemampuan untuk bertahan dalam satu alur pemikiran.


Karena itu, teknologi tidak harus dijauhi. Namun, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat perlu diimbangi dengan kemampuan membaca secara mendalam.


Ia juga mengajak peserta menemukan ide dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. Daun yang gugur, benda di rumah, perubahan langit, suara lingkungan, hingga pengalaman sehari-hari dapat menjadi awal sebuah tulisan.


Menulis, dengan demikian, bukan hanya tentang mencari kata-kata indah. Ia juga tentang kepekaan melihat sesuatu yang sering dilewati orang lain.


Semesta Raya Sastra 1.0 kemudian ditutup dengan musikalisasi puisi oleh SMA Negeri 1 Ambon, memperlihatkan bahwa sastra dapat hadir dalam berbagai bentuk dibaca, ditulis, dibicarakan, bahkan dipentaskan.


Kegiatan ini menjadi bagian awal dari rangkaian Semesta Raya Sastra 1.0 yang dijadwalkan berlangsung pada 19, 25, dan 29 September 2026, dengan agenda diskusi, wisata sejarah menelusuri jejak perjuangan Dr. Johannes Leimena, hingga kegiatan yang menyasar mahasiswa Universitas Pattimura.


Lebih dari sekadar kegiatan literasi, Semesta Raya Sastra 1.0 mencoba membuka ruang agar masyarakat Timur tidak hanya menjadi pembaca sejarah, tetapi juga menjadi pencerita atas sejarah dan pengalaman mereka sendiri.


Di Ambon, kota yang menyimpan begitu banyak cerita tentang sejarah, konflik, budaya, dan kehidupan masyarakat, sastra menemukan ruangnya.


Dari buku, percakapan, puisi, dan pengalaman orang-orang yang hadir hari itu, satu hal menjadi jelas: membaca bukan sekadar memahami kata, sementara menulis bukan sekadar menyusun kalimat. Keduanya bisa menjadi cara untuk mengingat, memahami, dan mewariskan cerita.


"Dan dari Timur Indonesia, cerita-cerita itu masih terus ditulis."(Za)

Selengkapnya

Sengketa Tanah di Waimital Memanas, Saksi Tergugat Tak Bisa Pastikan Riwayat Jual Beli dan Dasar Kepemilikan

September 19, 2026


Piru
, globaltimurnn.com - Persidangan perkara sengketa kepemilikan tanah yang objek sengketanya terletak di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), kembali digelar di Pengadilan Negeri Dataran Hunipopu, Piru, Kamis (17/9/2026).


Sidang kali ini memasuki agenda pemeriksaan Saksi Tergugat, Pemeriksaan berlangsung intensif ketika Kuasa Hukum Penggugat, DJ.C. Batmomolin, S.H., M.H. dan Edi Renyaan, S.H., menggali keterangan saksi mengenai asal-usul tanah, riwayat penguasaan, jual beli dan pengalihan hak, hubungan keluarga, serta dokumen administrasi pertanahan.


Dari pemeriksaan tersebut, muncul sejumlah keterangan yang menurut Kuasa Hukum Penggugat masih menyisakan pertanyaan mengenai dasar kepemilikan dan riwayat peralihan objek sengketa.


Riwayat Jual Beli Dipertanyakan

Dalam persidangan, saksi menerangkan mengenai sejumlah nama yang dikaitkan dengan riwayat jual beli dan pengalihan tanah di Desa Waimital.


Namun, ketika diperiksa lebih mendalam, saksi tidak selalu dapat memastikan kapan transaksi dilakukan, siapa yang melakukan transaksi secara langsung, serta dokumen apa yang menjadi dasar terjadinya pengalihan.


Sebagian informasi yang disampaikan saksi juga disebut berasal dari pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat, Kuasa Hukum Penggugat kemudian menguji apakah informasi tersebut benar-benar berasal dari apa yang dilihat, didengar dan dialami sendiri oleh saksi, atau hanya berdasarkan cerita dari pihak lain.


Transaksi Setelah Pemilik Awal Meninggal?

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam pemeriksaan adalah mengenai waktu terjadinya transaksi.


Saksi menerangkan bahwa pengalihan tanah terjadi setelah Pak Ahmad Karjo meninggal dunia dan tanpa melibatkan Pak Toekidi sebagai anak sekaligus ahli waris tunggal. 


Keterangan ini menjadi penting karena keabsahan dan akibat hukum pengalihan tersebut terhadap hak ahli waris menjadi persoalan yang harus dibuktikan dan dinilai oleh Majelis Hakim.

Namun, saksi tidak dapat memastikan seluruh waktu transaksi secara tepat.


Kondisi tersebut kemudian didalami Kuasa Hukum Penggugat, terutama mengenai siapa yang melakukan penjualan setelah pemilik awal meninggal dunia dan atas dasar kewenangan apa tanah tersebut dialihkan.


Status serta hubungan para ahli waris juga menjadi bagian dari pemeriksaan.


Sertifikat dan Pengukuran BPN Tidak Dapat Dipastikan

Kuasa Hukum Penggugat selanjutnya menguji pengetahuan saksi mengenai administrasi pertanahan.


Saksi menyatakan tidak pernah melihat secara langsung sertifikat tertentu yang dikaitkan dengan objek sengketa dan tidak mengetahui secara pasti apakah pengukuran resmi oleh BPN telah dilakukan.


Saksi lebih banyak mengenali lokasi dan batas tanah berdasarkan kondisi fisik di lapangan serta pengetahuan masyarakat setempat.


Padahal, identitas objek menjadi salah satu hal penting dalam perkara sengketa kepemilikan tanah.


Batas dan Luas Objek Sengketa Ikut Dipertanyakan

Pemeriksaan juga menyentuh ukuran dan batas objek sengketa. 

Saksi tidak dapat menerangkan seluruh ukuran objek secara pasti. Demikian pula batas-batas objek tidak seluruhnya dapat dijelaskan berdasarkan dokumen pertanahan.


Selain itu, kondisi fisik lokasi telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu, termasuk adanya pembangunan, pembongkaran dan perubahan bangunan.


Karena itu, Kuasa Hukum Penggugat mempertanyakan apakah kondisi fisik yang diketahui saksi saat ini dapat secara pasti menunjukkan batas dan keadaan objek pada saat transaksi atau peristiwa hukum yang menjadi dasar sengketa.


Kuasa Hukum Penggugat: “Mana Dasar Haknya?”

Pemeriksaan silang kemudian diarahkan pada persoalan mendasar mengenai dasar kepemilikan.


Bagi Kuasa Hukum Penggugat, persoalan dalam perkara ini bukan hanya mengenai siapa yang pernah menguasai atau menempati tanah di Desa Waimital.


Yang menjadi perhatian adalah dasar hak, kewenangan melakukan pengalihan, status ahli waris, dokumen transaksi, serta kepastian identitas objek sengketa.


“Yang kami uji bukan sekadar siapa yang pernah menguasai tanah, Yang kami uji adalah apa dasar haknya, siapa yang berwenang mengalihkan, kapan transaksi dilakukan, apa dokumennya, dan apakah objek yang diterangkan saksi benar-benar identik dengan objek sengketa dalam perkara ini,” demikian pokok keterangan Kuasa Hukum Penggugat.


Keterangan Saksi Dinilai Belum Menguatkan Dalil Tergugat Berdasarkan pemeriksaan tersebut, Kuasa Hukum Penggugat menilai keterangan Saksi Tergugat belum cukup menguatkan dalil Tergugat mengenai kepemilikan objek sengketa di Desa Waimital.


Menurut Kuasa Hukum Penggugat, masih terdapat sejumlah hal yang belum dapat diterangkan secara pasti, antara lain:

- Riwayat kepemilikan objek sengketa;

- Waktu dan proses jual beli;

- Pihak yang mempunyai kewenangan menjual;

- status para ahli waris;

- Dokumen yang menjadi dasar pengalihan;

- Keberadaan dan dasar sertifikat;

- Pengukuran resmi BPN; 

- Serta luas dan batas pasti objek sengketa.


Kuasa Hukum Penggugat berpandangan bahwa keterangan yang bersumber dari pengetahuan masyarakat perlu dibedakan dari keterangan mengenai peristiwa yang dilihat dan dialami sendiri oleh saksi.


Perkara sengketa kepemilikan tanah tersebut masih dalam proses pemeriksaan di Pengadilan Negeri Dataran Hunipopu, Piru. (Tim) 


Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT