Dobo, Globaltimurnn.com — Pendidikan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan. Tidak sekadar memenuhi hak untuk memperoleh pendidikan, kegiatan belajar juga menjadi ruang untuk membuka kesempatan baru bagi mereka dalam mengembangkan kemampuan dasar sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Komitmen tersebut terus dijalankan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Dobo melalui pembelajaran kelas dasar bagi warga binaan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari asesmen diagnostik membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) yang sebelumnya telah dilaksanakan di Lapas Dobo.
Berdasarkan hasil asesmen, sebanyak empat orang warga binaan diketahui membutuhkan pembelajaran pada tingkat dasar. Proses belajar kemudian dilanjutkan pada Kamis (17/09/2026), dengan materi awal berupa pengenalan huruf sebagai fondasi sebelum memasuki tahapan membaca, menulis, dan berhitung.
Pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan awal masing-masing peserta. Materi diberikan secara bertahap dan berulang, terutama dalam mengenali serta membedakan huruf vokal dan konsonan.
Pendekatan tersebut dilakukan agar setiap warga binaan dapat mengikuti proses belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing, tanpa terbebani oleh materi yang belum mereka kuasai.
Dalam pelaksanaannya, para peserta magang turut berperan memberikan pendampingan secara langsung. Metode yang digunakan mengedepankan pendekatan sederhana, personal, dan penuh kesabaran sehingga peserta memiliki ruang yang cukup untuk memahami setiap materi.
Bagi empat warga binaan tersebut, pengenalan huruf menjadi langkah awal yang penting. Dari kemampuan mengenali huruf, mereka secara bertahap akan diarahkan menuju kemampuan membaca dan menulis, sebelum kemudian memasuki materi berhitung dasar.
Proses tersebut tidak dilakukan secara terburu-buru. Setiap tahapan akan dilanjutkan setelah peserta dinilai memiliki pemahaman yang cukup terhadap materi sebelumnya.
Dengan pola pembelajaran bertahap, Lapas Dobo berupaya memastikan proses pendidikan dapat menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan peserta. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Lapas Kelas III Dobo, Pieter Jan Lessy, menyampaikan bahwa pendidikan bagi warga binaan membutuhkan ketekunan, kesabaran, serta pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, setiap perkembangan yang dicapai warga binaan, termasuk kemajuan kecil dalam mengenali huruf, merupakan bagian penting dari proses pembinaan.
Pendidikan, kata dia, bukan hanya tentang pencapaian hasil akhir, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada setiap warga binaan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Melalui kelas dasar tersebut, Lapas Dobo berharap warga binaan dapat memperoleh kemampuan literasi dasar yang menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan peserta magang dalam kegiatan ini juga memberikan dukungan terhadap keberlangsungan program pendidikan di lingkungan Lapas. Pendampingan yang dilakukan secara langsung memungkinkan proses belajar berlangsung lebih terarah dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Dari mengenal satu demi satu huruf, perjalanan pendidikan itu perlahan dimulai. Setiap huruf yang berhasil dikenali menjadi sebuah kemajuan, sementara setiap tahapan yang dilalui menjadi pijakan menuju kemampuan yang lebih baik.
Lapas Kelas III Dobo pun terus berupaya memastikan bahwa proses pembinaan tidak hanya berorientasi pada kehidupan selama berada di dalam Lapas, tetapi juga memberikan bekal yang dapat membantu warga binaan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat. (Za)








