globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Sabtu, 31 Oktober 2026

Pemkab Halut Datangkan 7 Ton Cabai, Bupati Piet Dorong Stabilitas Harga Pangan di Maluku Utara

Oktober 31, 2026


Halut
, Globaltimurnn.com — Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara (Halut) terus memperkuat upaya pengendalian inflasi dengan mendatangkan 7 ton cabai rawit dari Malang dan Probolinggo, Jawa Timur. Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan kenaikan harga komoditas pangan di wilayah Maluku Utara.


Pasokan sebanyak 235 koli cabai rawit tersebut tiba di Halmahera Utara pada Sabtu (31/10/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,2 ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Halut, sementara sisanya didistribusikan ke sejumlah kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara.


Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, menjelaskan bahwa pengadaan cabai ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.


Menurutnya, dari total 235 koli atau sekitar 7 ton cabai rawit, sebanyak 58 koli atau 1,7 ton dialokasikan ke Kabupaten Halmahera Barat, 107 koli atau 3,2 ton untuk Halmahera Utara, sedangkan 70 koli atau 2,1 ton diperuntukkan bagi wilayah Maluku Utara lainnya.


Upaya pengendalian inflasi tersebut juga akan ditindaklanjuti melalui pertemuan bersama Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, pada Kamis mendatang di Kantor Bank Indonesia (BI) Ternate.


Pertemuan yang difasilitasi Bank Indonesia itu akan melibatkan seluruh Kepala Dinas Ketahanan Pangan kabupaten/kota se-Maluku Utara, organisasi pedagang, Deputi Bank Indonesia serta pihak terkait lainnya. Agenda utama pertemuan membahas perkembangan inflasi sekaligus merumuskan langkah konkret untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok.


Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, turut meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota, pedagang dan instansi terkait agar bersinergi mengambil langkah nyata dalam menekan inflasi. Ia juga mendorong daerah lain mengikuti langkah Pemkab Halut dalam mendatangkan pasokan komoditas dari luar wilayah.


Selain penambahan pasokan, pemerintah daerah juga didorong menggelar pasar murah agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pangan dengan harga terjangkau. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Kota Ternate, sedangkan di Halmahera Utara akan segera dilakukan dengan memanfaatkan pasokan cabai yang telah tiba.


Pemkab Halut juga mengharapkan para pedagang dapat menjual cabai rawit dengan harga yang wajar dan stabil, sehingga tidak memberatkan masyarakat serta tetap menjaga daya beli konsumen.


Langkah mendatangkan cabai langsung dari luar daerah ini menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga pangan. Bupati Piet Hein Babua berharap upaya tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Maluku Utara untuk bersama-sama mengendalikan inflasi, khususnya menjelang Natal dan Tahun Baru. (🅁🄴🄳).

Selengkapnya

Pemkot Minta Tribun Ambon Luruskan Berita Wali Kota Terkait Pembangunan di Sungai Waitomu

Oktober 31, 2026


AMBON
, globaltinurnn.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menyampaikan keberatan, sekaligus meminta klarifikasi kepada Tribun Ambon,  untuk memperjelas  pemberitaan terkait penyataan Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena tentang pembangunan di badan Sungai Waitomu, yang dinilainya tidak mencerminkan fakta dan substansi pernyataan yang pernah disampaikan.


Persoalan ini mencuat, setelah Wali Kota mempertanyakan pemberitaan yang mengaitkan dirinya dengan pernyataan, bahwa ia akan bertanggung jawab atas banjir yang terjadi setelah pembangunan di badan Sungai Waitomu oleh pihak Kodam. 


Menurut Wali Kota, pemberitaan tersebut tidak merepresentasikan secara utuh substansi dan konteks pernyataan yang sebenarnya disampaikan. Bahkan, secara spesifik, pernyataan sebagaimana dikonstruksikan dalam pemberitaan tersebut tidak sesuai dengan konsep ucapkannya. 


Karena itu, pemerintah Kota  memandang perlu adanya klarifikasi untuk memastikan akurasi informasi, mencegah terbentuknya persepsi publik yang keliru, serta menjaga objektivitas dan kredibilitas pemberitaan.

 

Pasalnya, selama ini jika ada bencana banjir, maka Pemkot Ambon yang urus - menanganinya. Untuk itu bagi Wali Kota, pembangunan di atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Waitomu harus mengikuti aturan dan norma-norma yang ada, agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. 


Pernyataan Wali Kota Ambon mencerminkan Komitmen normatif,  tanggung jawab moral, dan keadilan dalam penyelenggaraan pembangunan, bahwa setiap aktivitas pembangunan tidak semata -mata berorientasi pada pemanfaatan ruang, tetapi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan pembangunan, kelestarian lingkungan, dan keselamatan manusia. 


Menanggapi hal itu, Juru Bicara Pemerintah Kota Ambon, Ronald H. Lekransy,  menjelaskan bahwa permintaan klarifkasi  merupakan hak yang dijamin undang - undang dan harus dipahami sebagai upaya meluruskan informasi agar masyarakat memperoleh pemberitaan yang benar, utuh, dan dapat dipertanggungjawabkan.


"Kami menghormati kebebasan pers sebagai bagian penting dari demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan seiring dengan tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan sesuai fakta.  Jangan sampai sebuah pernyataan kehilangan konteksnya, kemudian berkembang menjadi kesimpulan yang berbeda dari apa yang sebenarnya disampaikan," ujar Lekransy .


Menurutnya, kebebasan  tidak seharusnya dijadikan dasar untuk membangun narasi atau kesimpulan yang melampaui fakta, terlebih apabila pemberitaan berpotensi membentuk persepsi publik terhadap seseorang  tanpa didukung informasi yang terverifikasi secara memadai.


Lekransy kemudian merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai landasan dalam menyikapi persoalan tersebut. 


Pasal 6 huruf c menyebutkan bahwa pers nasional berperan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar. Selain itu, Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) mengatur kewajiban pers untuk melayani hak jawab dan hak koreksi.


"Undang-undang memberikan kemerdekaan kepada pers, tetapi pada saat yang sama menempatkan tanggung jawab profesional sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Karena itu, kritik terhadap pemerintah tentu harus dihormati, tetapi setiap informasi yang disampaikan kepada publik perlu memiliki dasar fakta yang jelas," katanya.


Menurutnya, Pemkot Ambon tidak bermaksud mengintervensi kebijakan redaksi maupun mengurangi independensi media. Namun, ketika terdapat informasi yang dinilai tidak sesuai dengan pernyataan sumber, klarifikasi dan koreksi menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas pemberitaan.


Karena itu, Pemerintah Kota Ambon mengharapkan Tribun Ambon dapat memberikan penjelasan mengenai dasar pengutipan pernyataan yang dipersoalkan, dan konteks penyampaiannya. Apabila terdapat kekeliruan faktual, diharapkan dapat dilakukan perbaikan melalui mekanisme sebagaimana diatur.


Lebih jauh, Lekransy mengingatkan, bahwa persoalan pembangunan di Sungai Waitomu menyangkut kepentingan masyarakat, keselamatan lingkungan, dan tanggung jawab pemerintah dalam memastikan setiap pembangunan berjalan sesuai ketentuan hukum.


"Yang paling penting adalah bagaimana persoalan Sungai Waitomu ditangani secara benar demi keselamatan dan kepentingan masyarakat. Jangan sampai substansi persoalan justru bergeser, akibat perbedaan informasi yang belum memperoleh klarifikasi secara utuh," jelasnya.


Menurut Lekransy, hubungan pemerintah dan pers harus tetap dibangun atas dasar saling menghormati fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Pemerintah membutuhkan pers yang kritis dan independen, sementara masyarakat membutuhkan informasi yang dapat dipercaya sebagai dasar membentuk penilaian secara objektif.


"Pers yang merdeka adalah kekuatan demokrasi. Namun, kemerdekaan itu akan semakin bermakna ketika dijalankan dengan kejujuran terhadap fakta, penghormatan terhadap hak setiap orang, dan kesediaan melakukan koreksi apabila ditemukan kekeliruan. Sebab, pada akhirnya yang harus dijaga bersama bukan sekadar sebuah pemberitaan, tetapi kepercayaan masyarakat terhadap kebenaran informasi," tutup Lekransy. 

Selengkapnya

Pemalangan Jalan di Waimital Berhasil Dibuka, Kades Bersama TNI-Polri Redam Ketegangan Antar Pemuda

Oktober 31, 2026


SBB
, globaltimurnn.com - Aksi pemalangan jalan oleh masyarakat Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), yang dipicu insiden bentrokan antar pemuda Waimital dan Waipirit, akhirnya berhasil dibuka setelah dilakukan pendekatan persuasif oleh pemerintah desa bersama aparat TNI-Polri.


Pembukaan pemalangan tersebut dipimpin langsung Kepala Desa Waimital, Drs. Muhammad Amin, didampingi Danramil 1513-03/Kairatu Kapten Inf. Herry Tupamahu, Penmas Humas Polres SBB Ipda Asep Souisa, serta sejumlah personel Koramil Kairatu dan Polsek Kairatu.


Situasi yang sempat memanas sejak sekitar pukul 23.00 WIT itu bermula dari dugaan tindakan pemukulan terhadap seorang pemuda asal Waimital yang hendak berbelanja di salah satu supermarket.


Saat ditemui sejumlah awak media di lokasi setelah pemalangan berhasil dibuka, Kepala Desa Waimital, Muhammad Amin, menjelaskan bahwa persoalan bermula ketika seorang pemuda diduga dihadang dan dipukul oleh sejumlah orang setelah selesai berbelanja.


Korban kemudian pulang dan melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Pihak keluarga sempat berupaya menemui Kepala Pemuda Waipirit dan kepala desa untuk meminta penjelasan terkait insiden tersebut.


Namun, situasi kemudian berkembang setelah dua orang yang menggunakan sepeda motor terlihat membawa parang di sekitar belakang Pasar Gemba dan berteriak-teriak hingga memicu ketegangan.


Menurut Amin, kondisi semakin tidak terkendali ketika kedua orang tersebut melarikan diri, sementara sejumlah pemuda di lokasi telah bersiap menghadapi situasi yang berkembang.


Akibatnya, terjadi aksi kekerasan yang menyebabkan dua orang mengalami luka, masing-masing satu orang terkena panah dan seorang lainnya terkena tombak.


"Orang yang terkena tombak itu sebenarnya tidak mengetahui persoalan. Dia hanya hendak pergi memancing, tetapi dihadang di dekat SPBU. Karena berusaha melindungi wajahnya, dia sampai tengkurap, tetapi tetap terkena tombak di bagian tubuhnya," ungkap Amin.


Meningkatnya ketegangan antar kelompok pemuda kemudian memicu konsentrasi massa hingga berujung pada aksi pemalangan jalan oleh masyarakat Waimital.


Amin menegaskan, aksi tersebut terjadi secara spontan akibat luapan emosi masyarakat, khususnya kalangan pemuda, yang menginginkan persoalan tersebut segera diselesaikan.


Sebagai kepala desa, ia mengaku bertanggung jawab terhadap situasi keamanan dan ketertiban masyarakatnya, tanpa memandang siapa yang benar maupun salah dalam persoalan tersebut.


"Saya sebagai Kepala Desa bertanggung jawab atas kejadian ini. Anak saya, masyarakat saya, salah atau benar, saya tetap harus bertanggung jawab. Terkait pemblokiran jalan, ini terjadi secara spontan. Tidak ada rekayasa. Ini murni spontanitas karena mereka menuntut agar persoalan tersebut diselesaikan," tegasnya.


Ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat menginginkan adanya penyelesaian terhadap persoalan tersebut, sehingga pihak-pihak yang diduga terlibat dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Dalam keterangannya, Amin menyebutkan bahwa sejumlah orang telah diamankan aparat kepolisian untuk kepentingan penanganan kasus tersebut.


Berdasarkan informasi yang diterimanya saat berada di lokasi, terdapat sekitar empat orang yang diduga telah dibawa ke Polsek Kairatu, termasuk seseorang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.


Meski demikian, jumlah dan status hukum pihak-pihak yang diamankan masih perlu dikonfirmasi secara resmi kepada kepolisian.


Amin berharap proses hukum dapat berjalan dengan baik dan transparan sehingga persoalan yang terjadi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.


Di tengah ketegangan yang sempat terjadi, Amin memastikan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di kawasan Pasar Gemba, tetap berlangsung.


Menurutnya, tidak semua masyarakat mengetahui adanya insiden tersebut. Aktivitas jual beli bahkan masih berjalan seperti biasa dan para pedagang tetap menjalankan aktivitas perdagangan mereka.


Ia menegaskan bahwa pemalangan jalan bukan dimaksudkan untuk menciptakan konflik berkepanjangan, melainkan sebagai bentuk tuntutan masyarakat agar persoalan yang terjadi segera mendapatkan penyelesaian.


"Saya tidak ingin situasi semakin meluas. Masyarakat hanya menginginkan persoalan ini diselesaikan. Apalagi, pihak yang diduga terlibat sudah diamankan. Saya juga menyampaikan kepada masyarakat agar mereka memahami bahwa proses penanganan sudah berjalan," jelasnya.


Amin menambahkan, pendekatan kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk mengembalikan kepercayaan dan memastikan warga bersedia membubarkan diri serta tidak lagi melakukan tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum.


Keberhasilan pembukaan pemalangan jalan tersebut menjadi langkah awal untuk memulihkan situasi keamanan dan aktivitas masyarakat di wilayah Waimital.


Ia berharap seluruh elemen masyarakat, terutama para pemuda dari kedua desa, dapat menahan diri, tidak mudah terprovokasi, serta mempercayakan penyelesaian persoalan kepada aparat penegak hukum.


Sebab, menjaga keamanan dan kedamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan komitmen seluruh masyarakat. (Rdks)

Selengkapnya

Berita Menarik,,, Dukung Program Green Policing, Polres SBB Tanam Mangrove Secara Serentak

Oktober 31, 2026


SBB
, globaltimurnn.com – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup, Polres Seram Bagian Barat (SBB) bersama Polsek jajaran melaksanakan penanaman pohon mangrove secara serentak di sejumlah kawasan pesisir Kabupaten Seram Bagian Barat, Jumat (30/10/2026).


Kegiatan yang mengusung program "Green Policing" ini melibatkan pemerintah desa, mahasiswa, pelajar, tokoh masyarakat, serta warga setempat sebagai bentuk kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem pesisir.


Penanaman mangrove dilaksanakan di Kecamatan Kairatu , Kairatu Barat, Taniwel, Kepulauan Manipa, Amalatu, dan Huamual Belakang.


Di Kecamatan Kairatu Barat, Polsek Waisarissa melakukan penanaman mangrove di kawasan muara kali yang menghubungkan Pantai Aru, RT 20 Desa Kamal, serta pesisir Pantai Upe, Desa Nuruwe.


Polsek Taniwel melaksanakan penanaman mangrove di pesisir Pantai Labuang, Desa Hulung. Selanjutnya, Polsek Manipa menanam mangrove di sepanjang pesisir Pantai Desa Luhutuban.



Sementara itu, Polsek Kairatu menanam mangrove di Pantai Dusun Air Buaya, Desa Kairatu, dengan melibatkan mahasiswa KKN Universitas Pattimura (Unpatti) dan siswa-siswi MTs Thursina.


Di Kecamatan Amalatu, Polsek Kairatu Timur menanam mangrove di pesisir Dusun Mange-Mange, Desa Rumahkay, bersama pemerintah desa dan mahasiswa KKN Unpatti.


Adapun Polsek Waesala melaksanakan penanaman mangrove di kawasan pesisir Pantai RT 01, Desa Waesala, Kecamatan Huamual Belakang.


Kapolres Seram Bagian Barat, AKBP REFINDO PRADIKTA RULANDO, S.I.K., M.A.P., C.L.M.A., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata dukungan Polres SBB terhadap program *Green Policing*, kegiatan ini merupakan inisiatif strategis untuk mengintegrasikan tugas kepolisian dengan pelestarian lingkungan guna mengatasi isu deforestasi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kejahatan lingkungan.


Lulusan Akademi Kepolisian Tahun 2008 ini juga berharap kegiatan penanaman mangrove tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pengawasan secara berkelanjutan sehingga bibit yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Ia juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan pesisir, tidak melakukan penebangan mangrove secara sembarangan, serta menghindari tindakan yang dapat merusak lingkungan.


"Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau Polri, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Mari kita tanamkan kepedulian terhadap alam sejak dini, libatkan generasi muda, dan jadikan pelestarian lingkungan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari," pesan Kapolres.


Menurutnya, keberadaan hutan mangrove memiliki peranan penting dalam mencegah abrasi pantai, melindungi kawasan pesisir, menjaga keseimbangan ekosistem laut, serta menjadi habitat berbagai biota laut yang turut menunjang kehidupan masyarakat.



Melalui program "Green Policing", Polres SBB berkomitmen untuk tidak hanya hadir dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam demi masa depan generasi mendatang.


Dengan semangat kebersamaan, Polres SBB mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, karena alam yang lestari merupakan warisan berharga bagi anak cucu kita.

Selengkapnya

Dari Kampung untuk Indonesia, Michael Wattimena Ajak Generasi Muda Maluku Berani Bermimpi, Berpendidikan, dan Menjadi Manusia Bermakna

Oktober 31, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Kesuksesan bukan semata-mata tentang seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih, seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, atau seberapa jauh seseorang melangkah meninggalkan tempat asalnya. Lebih dari itu, kesuksesan sejati adalah tentang bagaimana seseorang mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain, membawa manfaat bagi daerahnya, serta meninggalkan jejak kebaikan bagi generasi berikutnya.


Pesan penuh makna itulah yang disampaikan Dr. Michael Wattimena, SE., SH., MM., Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI sekaligus Komisaris PT Pertamina International Shipping, saat berbagi pengalaman dan motivasi kepada generasi muda Maluku di Gedung Auditorium Universitas Pattimura, Sabtu 31/10/2026.


Di hadapan para mahasiswa dan generasi penerus daerah ini, Michael tidak sekadar berbicara tentang perjalanan karier dan berbagai jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya. Ia mengajak generasi muda untuk melihat masa depan dengan keyakinan, mempersiapkan diri melalui pendidikan, memperluas pengalaman, serta berani mengambil peluang ketika kesempatan datang.


Baginya, tidak ada alasan bagi anak-anak Maluku untuk merasa kecil hanya karena berasal dari kampung, tumbuh dalam keluarga sederhana, atau dibesarkan di tengah keterbatasan.


Sebab, masa depan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh tempat ia dilahirkan, melainkan oleh keberanian untuk bermimpi, kesungguhan dalam berproses, dan kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan diri.


Dalam pandangannya, pendidikan merupakan salah satu investasi terpenting yang harus dipersiapkan sejak dini. Dunia kerja dan berbagai lembaga negara membutuhkan sumber daya manusia dengan kualifikasi serta kompetensi tertentu.


Michael mencontohkan pengalamannya dalam merencanakan pengembangan kapasitas diri, termasuk melalui pendidikan hukum. Ia menyadari bahwa kesempatan untuk berkompetisi dalam berbagai posisi strategis sering kali mensyaratkan latar belakang pendidikan tertentu.


Karena itu, menurutnya, seseorang tidak boleh baru mempersiapkan diri ketika kesempatan sudah berada di depan mata.


"Ketika kesempatan itu datang, kita harus sudah siap. Jangan sampai kita memiliki keinginan untuk berkompetisi, tetapi justru gugur sejak awal karena tidak memenuhi persyaratan administrasi," demikian pesan yang ditekankannya.


Ia juga berbagi pengalaman pernah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Bung Karno dan memiliki rencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 Hukum. Namun, ia memilih untuk tidak sekadar mengejar gelar apabila tidak dapat menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh.


Baginya, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh selembar ijazah, tetapi tentang proses membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, mengasah kemampuan, dan membangun karakter.


Ada tiga prinsip yang menurutnya harus menjadi pegangan setiap generasi muda, yakni menjaga integritas dan etos kerja, berani keluar dari zona nyaman, serta terus belajar sepanjang hayat.


Sebab, gelar akademik dapat menjadi pintu masuk menuju sebuah kesempatan, tetapi integritas, kompetensi, dan kualitas diri yang akan menentukan sejauh mana seseorang mampu bertahan dan berkembang.


Michael kemudian mengajak generasi muda melihat Maluku bukan hanya dari persoalan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, maupun berbagai tantangan pembangunan yang selama ini dihadapi.


Menurutnya, Maluku memiliki kekayaan yang luar biasa, bukan hanya dari sumber daya alam, tetapi juga dari kekuatan sosial dan budaya masyarakatnya.


Ia menyinggung hasil survei kebahagiaan yang menempatkan masyarakat Maluku pada tingkat kebahagiaan yang tinggi. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa masyarakat Maluku memiliki kekuatan sosial dan budaya yang patut dibanggakan.


Musik, tradisi, adat istiadat, keramahan, serta kehidupan sosial masyarakat merupakan kekayaan yang tidak dimiliki semua daerah. Bahkan, melalui lagu-lagu daerah yang sarat makna, Maluku memiliki identitas budaya yang mampu menghadirkan kebahagiaan sekaligus mempererat persaudaraan.


Menurut Michael, kekayaan tersebut harus menjadi modal untuk membangun masa depan yang lebih baik.


Namun, potensi budaya saja tidak cukup. Harus ada generasi yang mampu mengelola, mengembangkan, dan mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.


"Jangan pernah memandang Maluku hanya dari keterbatasannya. Kita harus melihat apa yang kita miliki, lalu mempersiapkan diri untuk mengembangkannya," menjadi semangat yang tercermin dalam pesan-pesannya.


Berbicara tentang masa depan Maluku, Michael menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi besarnya potensi daerah.


Sebagai provinsi kepulauan dengan wilayah laut yang luas, Maluku memiliki peluang besar dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan. Selain itu, sektor pertanian, pariwisata, energi, dan sumber daya mineral juga menyimpan kesempatan yang menjanjikan.


Namun, seluruh potensi tersebut membutuhkan manusia-manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan profesional.


Ia mengingatkan agar generasi muda Maluku tidak hanya menjadi penonton ketika berbagai investasi dan proyek pembangunan berskala besar hadir di daerah sendiri.


Kekayaan alam yang dimiliki harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Untuk itu, anak-anak Maluku harus mempersiapkan diri agar dapat terlibat dalam berbagai sektor strategis, baik sebagai tenaga profesional, tenaga ahli, pelaku usaha, maupun pengambil kebijakan.


Sebab, pembangunan daerah tidak akan berjalan maksimal apabila masyarakat setempat hanya menyaksikan orang lain menikmati peluang yang tumbuh di tanah kelahirannya.


Salah satu perhatian Michael adalah pengembangan proyek Blok Masela yang selama kurang lebih 28 tahun dinantikan masyarakat Maluku.


Ia menyampaikan apresiasi terhadap perhatian Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM terhadap pengembangan sektor energi, khususnya peluang besar yang diharapkan hadir melalui realisasi proyek tersebut.


Dengan nilai investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS atau setara dengan ratusan triliun rupiah, Blok Masela bukan sekadar proyek industri energi. Lebih dari itu, proyek tersebut merupakan peluang strategis yang dapat memberikan dampak besar terhadap perekonomian Maluku, terutama Kabupaten Kepulauan Tanimbar.


Namun, di balik besarnya nilai investasi tersebut, Michael mengajukan sebuah pertanyaan penting yang patut direnungkan bersama.


Apakah ketika proyek sebesar itu berjalan, anak-anak Maluku hanya akan berdiri sebagai penonton? Ataukah mereka akan hadir sebagai bagian dari tenaga kerja profesional yang ikut membangun dan mengembangkan industri tersebut?


Pertanyaan itu menjadi pengingat bahwa kesempatan besar harus diimbangi dengan persiapan yang matang.


Michael juga mengingat kembali momentum peresmian Jembatan Merah Putih oleh Presiden Joko Widodo pada 2016. Dalam kesempatan tersebut, ia mengingat pesan tentang pentingnya pemerintah daerah dan lembaga pendidikan mempersiapkan sumber daya manusia Maluku agar mampu mengambil bagian dalam proyek Blok Masela. Baginya, persiapan tidak boleh dilakukan secara mendadak.


Anak-anak Maluku harus mulai membangun kompetensi dari sekarang. Mereka perlu memperkuat pendidikan, menguasai keterampilan teknis, meningkatkan kemampuan komunikasi, mempelajari teknologi, serta mempersiapkan diri menghadapi standar dunia kerja yang semakin kompetitif.


"Jangan menunggu proyek berjalan baru kita sibuk mempersiapkan diri. Ketika peluang itu terbuka, kita harus sudah memiliki kemampuan untuk mengambil bagian di dalamnya."


Sebuah pesan yang mengandung harapan besar agar kekayaan alam Maluku benar-benar menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakatnya sendiri.


Di tengah berbagai pengalaman yang dibagikan, Michael menyampaikan tiga pesan utama yang menurutnya harus selalu dipegang generasi muda.


Pertama, milikilah mimpi yang besar.

Ia mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh membatasi masa depannya hanya karena kondisi kehidupan saat ini.


Lahir dari keluarga sederhana bukanlah alasan untuk menyerah. Berasal dari kampung bukan berarti seseorang tidak memiliki kesempatan untuk berdiri sejajar dengan orang-orang dari kota besar.


Michael bahkan menghubungkan pesan tersebut dengan perjalanan hidupnya sendiri. Ia mengisahkan bahwa orang tuanya merupakan seorang guru sekolah dasar yang kemudian mengajar di SPG dan PGSD.


Latar belakang keluarga yang sederhana tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang selama mau berusaha, belajar, dan tidak takut menghadapi kegagalan.


Mimpi besar harus disertai kerja keras. Sebab, harapan tanpa tindakan hanya akan menjadi angan-angan, sementara keberanian untuk memulai merupakan langkah pertama menuju perubahan.


Kedua, jangan pernah melupakan dari mana kita berasal. Michael mengingatkan bahwa setiap keberhasilan tidak pernah berdiri sendiri. Ada doa orang tua, pengorbanan keluarga, dukungan sahabat, serta perjalanan panjang yang membentuk seseorang hingga mencapai titik keberhasilannya.


Karena itu, jangan sampai kesuksesan membuat seseorang kehilangan ingatan terhadap akar kehidupannya.


Jabatan boleh berubah, lingkungan pergaulan boleh semakin luas, dan kesempatan boleh membawa seseorang ke berbagai tempat. Namun, nilai-nilai kehidupan, keluarga, serta daerah asal harus tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup.


Menurutnya, semakin tinggi seseorang berdiri, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tetap rendah hati.


Ketiga, jangan hanya menjadi orang sukses, tetapi jadilah orang yang bermakna. Pesan ini menjadi salah satu bagian paling reflektif dari seluruh motivasi yang disampaikannya.


Michael menegaskan bahwa keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari kekayaan, jabatan, maupun pengakuan orang lain. Seseorang bisa saja memiliki kedudukan tinggi, tetapi apabila kehadirannya tidak membawa manfaat bagi orang lain, maka keberhasilan tersebut belum sepenuhnya memiliki arti.


Ia mengajak generasi muda untuk menjadikan setiap kesempatan sebagai ruang pengabdian. Kesuksesan seharusnya membuat seseorang semakin peduli, bukan semakin jauh dari sesama. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin besar pula kesempatan untuk membantu dan memberikan perubahan positif.


Baginya, manusia yang bermakna adalah mereka yang tidak hanya memikirkan bagaimana dirinya bisa berhasil, tetapi juga memikirkan bagaimana keberhasilannya dapat membuka jalan bagi orang lain.


Untuk memperkuat pesannya, Michael menyampaikan sebuah filosofi sederhana namun memiliki makna mendalam tentang kehidupan. Ibarat sebuah kapal memang terlihat paling indah ketika sedang bersandar di dermaga. Badannya bersih, tampilannya menarik, dan terlindungi dari kerasnya gelombang laut. Namun, kapal tidak pernah dibuat hanya untuk berdiam di dermaga.


Kapal diciptakan untuk mengarungi lautan, menghadapi ombak, menerjang badai, dan mencapai tujuan di seberang sana. Begitu pula manusia.


Kita tidak dilahirkan hanya untuk menikmati kenyamanan. Kehidupan mengajarkan setiap orang untuk berani menghadapi tantangan, melewati kesulitan, dan terus bergerak meskipun perjalanan tidak selalu mudah.


Menurut Michael, kualitas seseorang justru akan terlihat ketika ia berhadapan dengan persoalan dan mampu menemukan jalan keluar.


Tidak ada perjalanan besar yang sepenuhnya bebas dari gelombang. Tidak ada keberhasilan yang selalu hadir tanpa perjuangan. Karena itu, jangan takut menghadapi kegagalan. Jangan pula terlalu lama bertahan dalam zona nyaman.


Sebab, keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah meskipun tantangan berada di hadapan kita.


Dalam kesempatan tersebut, Michael juga membagikan pengalaman perjalanan perjuangan pembangunan Jembatan Merah Putih di Kota Ambon.


Ia mengingat kembali proses peletakan batu pertama pembangunan jembatan pada 2011. Saat itu, terdapat harapan agar pembangunan jembatan tersebut dapat diselesaikan sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakhiri masa jabatannya pada 2014.


Berbagai persoalan muncul, termasuk pembahasan mengenai aspek keamanan dan kepentingan strategis militer. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kekhawatiran TNI Angkatan Laut terkait keberadaan jembatan terhadap aktivitas kapal-kapal perang yang melintas di kawasan tersebut.


Perdebatan dan berbagai proses koordinasi berlangsung cukup panjang hingga akhirnya Jembatan Merah Putih diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2016. Michael masih mengingat dengan jelas momentum bersejarah tersebut.


Ia bahkan menceritakan sebuah pengalaman yang tidak pernah dilupakannya ketika Presiden Joko Widodo secara langsung memanggilnya di tengah prosesi peresmian.


Baginya, pengalaman itu bukan sekadar kenangan pribadi, tetapi bagian dari perjalanan panjang memperjuangkan pembangunan infrastruktur yang memiliki arti besar bagi masyarakat Maluku.


Jembatan Merah Putih kemudian menjadi simbol penting konektivitas Kota Ambon sekaligus pengingat bahwa pembangunan besar membutuhkan keberanian, komunikasi, perjuangan, dan kesabaran.


Dari pengalaman tersebut, tersirat satu pelajaran penting: sesuatu yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat sering kali membutuhkan proses panjang dan perjuangan yang tidak sederhana.


Selain pendidikan formal, Michael juga menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam organisasi, baik organisasi internal maupun eksternal kampus.


Ia mengisahkan perjalanan masa mudanya ketika aktif dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang merupakan bagian dari organisasi Cipayung.


Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika mengikuti kongres di Tomohon pada 1992.


Saat itu, ia sempat membayangkan bahwa akan sulit berkomunikasi dan berdebat dengan mahasiswa dari Jawa, Sumatera, maupun Sulawesi.


Namun, setelah berada dalam forum tersebut, ia justru menemukan bahwa kemampuan mahasiswa dari berbagai daerah tidak jauh berbeda.


Pengalaman itu membuka wawasannya bahwa organisasi merupakan ruang pembelajaran yang sangat penting untuk membangun karakter, kepemimpinan, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemampuan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.


Organisasi juga mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, tata kelola, dan kemampuan bekerja dalam sebuah sistem.


Michael mengingat bahwa organisasi Cipayung memiliki pola pendidikan kader yang baik, termasuk tata kelola dan kalender konstitusi organisasi yang tertib.


Dari pengalaman tersebut, ia berpesan agar mahasiswa tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memanfaatkan masa kuliah untuk memperluas pengalaman dan membangun jaringan atau networking.


Sebab, dunia profesional tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga pribadi yang mampu bekerja sama, berkomunikasi, memahami perbedaan, serta membangun hubungan yang sehat dengan banyak pihak.


Ia merasakan sendiri bahwa pengalaman organisasi dan jaringan pergaulan turut memberikan warna dalam perjalanan kariernya hingga dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab di tingkat nasional.


Menurutnya, networking bukan sekadar mengenal banyak orang, melainkan membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan, integritas, dan kemampuan untuk saling memberikan kontribusi.


Perjalanan Michael yang pernah menjadi anggota DPR RI dari Papua Barat, kemudian mengemban berbagai tanggung jawab di tingkat nasional, hingga dipercaya sebagai Tenaga Ahli Menteri ESDM RI dan Komisaris PT Pertamina International Shipping, menjadi bagian dari pengalaman yang ia bagikan kepada generasi muda.


Namun, di balik perjalanan tersebut, pesan yang ingin disampaikan bukanlah tentang kebanggaan terhadap jabatan yang pernah diraih.


Justru ia ingin memperlihatkan bahwa kesempatan dan kepercayaan yang diberikan harus dijawab dengan kapasitas, tanggung jawab, serta kontribusi nyata.


Jabatan bukanlah garis akhir sebuah perjuangan. Jabatan adalah ruang pengabdian yang menghadirkan tanggung jawab lebih besar.


Semakin banyak kesempatan yang diperoleh, semakin besar pula kewajiban untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.


Ia berharap generasi muda Maluku kelak tidak hanya menjadi tenaga kerja dalam pembangunan, tetapi juga mampu menjadi pemimpin, pengusaha, profesional, akademisi, dan pengambil kebijakan yang menentukan arah masa depan daerahnya sendiri.


Pada akhirnya, seluruh pesan yang disampaikan Michael bermuara pada satu harapan besar: lahirnya generasi muda Maluku yang memiliki kualitas pendidikan, integritas, keberanian, dan kepedulian sosial.


Generasi yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Generasi yang tidak kehilangan jati diri ketika berhasil. Generasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional tanpa melupakan tanah kelahirannya.


Maluku membutuhkan anak-anak muda yang berani bermimpi besar, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai kehidupan.


Mereka harus mampu membaca peluang, memanfaatkan perkembangan zaman, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjadikan potensi daerah sebagai kekuatan untuk membangun masa depan.


Sebab, masa depan Maluku tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekayaan alam yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa berkualitas manusia yang mengelolanya.


Ada satu pesan yang patut menjadi renungan bersama dari seluruh pengalaman tersebut: jangan pernah merasa kecil karena berasal dari kampung, jangan pernah berhenti belajar karena merasa sudah cukup pintar, dan jangan pernah merasa berhasil apabila belum mampu memberikan manfaat bagi sesama.


Karena pada akhirnya, ukuran terbesar dari sebuah keberhasilan bukanlah seberapa tinggi seseorang mencapai puncak, melainkan seberapa banyak orang yang dapat ikut merasakan manfaat dari perjalanan dan keberhasilannya.


Maluku memiliki potensi, generasi mudanya memiliki kesempatan, dan masa depan masih terbuka luas.


Kini, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bermimpi, kesungguhan untuk mempersiapkan diri, serta kemauan untuk mengambil bagian dalam membangun daerah sendiri.


Jangan hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Jadilah generasi yang mengambil peran, menciptakan perubahan, dan meninggalkan warisan kebaikan bagi Maluku dan Indonesia. (Za)

Selengkapnya

Jumat, 30 Oktober 2026

Laha Suang, Ketika Tradisi Pesisir Bertemu Harapan Ekonomi Baru di Jembatan Amerika

Oktober 30, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Sebuah negeri tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk menarik perhatian. Terkadang, kekuatan sebuah daerah justru lahir dari tradisi yang terus dijaga, kekayaan alam yang dimiliki, serta kreativitas masyarakat dalam mengolah potensi di sekitarnya.


Gambaran itulah yang terasa di kawasan Jembatan Amerika, Negeri Laha, Kota Ambon, Sabtu (31/10/2026). Melalui Festival UMKM Laha Suang, kawasan yang dikenal dengan kehidupan masyarakat pesisir dan aktivitas nelayannya itu menghadirkan cerita tentang bagaimana potensi lokal dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya ekonomi masyarakat.


Festival yang diselenggarakan Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi Maluku ini bukan sekadar pertemuan pelaku usaha dan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan Negeri Laha, menghidupkan tradisi, serta membuka peluang agar potensi lokal semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi.


Mengusung tema “Menghidupkan Tradisi, Mengembangkan Potensi Negeri, Berdampak untuk Masyarakat”, festival ini membawa pesan bahwa pembangunan ekonomi seharusnya bertumbuh dari kekuatan masyarakat itu sendiri.


Semangat tersebut mendapat apresiasi dari Ketua DPRD Kota Ambon, Morits Librecht Tamaela, S.E. Baginya, apa yang dilakukan PIM Provinsi Maluku bersama Pemerintah Negeri Laha merupakan sebuah langkah kreatif yang patut menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Ambon.


Ia memandang setiap negeri memiliki karakter, kekayaan, dan keunggulan yang berbeda. Potensi tersebut perlu dikenali, dikembangkan, kemudian diperkenalkan kepada masyarakat luas sehingga dapat menjadi identitas sekaligus daya tarik tersendiri.


“Luar biasa, ini sesuatu hal yang bermakna dan berpotensi untuk menjadi daya tarik buat daerah yang lain. Desa-desa di Kota Ambon juga dapat mengkreasikan wilayahnya masing-masing. Apa potensi yang ada di wilayahnya, lalu itu dijadikan ikon dengan mengajak stakeholder terkait,” ungkap Tamaela.


Menurutnya, sebuah potensi tidak akan berkembang hanya dengan mengandalkan kemampuan masyarakat secara mandiri. Diperlukan keterlibatan pemerintah dan berbagai pihak untuk menciptakan ruang, dukungan, serta kesempatan agar potensi tersebut dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi.


Di sinilah Festival UMKM Laha Suang memiliki makna lebih luas. Kolaborasi antara PIM Provinsi Maluku dan Pemerintah Negeri Laha memperlihatkan bahwa ketika gagasan dipertemukan dengan kepedulian dan kerja sama, peluang untuk mengembangkan sebuah negeri semakin terbuka.


Tamaela pun menilai sinergi tersebut sebagai sesuatu yang patut diapresiasi, sebab masyarakat membutuhkan dukungan bersama untuk mengembangkan potensi ekonomi maupun pariwisata yang dimiliki.


“Bahwa masyarakat tidak bisa sendiri mengembangkan potensinya. Kolaborasi antara Pemerintah Negeri Laha dengan PIM patut kita apresiasi,” ujarnya.


Namun, cerita tentang potensi Laha tidak berhenti pada kegiatan festival. Di balik kawasan Jembatan Amerika, terdapat kehidupan pesisir yang menjadi bagian dari daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung.


Aktivitas nelayan, hasil tangkapan laut, hingga sajian ikan segar menjadi kekuatan yang memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas ekonomi sehari-hari. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman yang dapat ditawarkan Negeri Laha kepada siapa saja yang berkunjung.


Salah satu kawasan yang turut mendapat perhatian adalah destinasi wisata Los Kasih. Keberadaannya dinilai memiliki potensi besar untuk terus diperkenalkan sebagai tujuan wisata yang menawarkan suasana khas pesisir sekaligus pengalaman kuliner hasil laut.


Bagi Tamaela, daya tarik Laha justru terlihat dari kebiasaan masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat persinggahan, terutama pada waktu dini hari hingga pagi hari.


Orang-orang yang melintas tidak sekadar melewati kawasan itu, tetapi memilih berhenti untuk menikmati sarapan dan menyaksikan hasil tangkapan nelayan yang baru didaratkan. Ikan segar yang dapat langsung dinikmati menjadi pengalaman tersendiri yang memperkuat daya tarik wisata setempat.


“Ini sekaligus memberikan promosi wisata Los Kasih Desa Laha yang sudah viral, tambah viral lagi. Terbukti, setiap orang yang keluar dini hari pasti mampir ke sini untuk sarapan pagi dan menikmati proses hasil tangkapan yang dibawa ke darat, langsung menikmati ikan segarnya. Ini luar biasa menarik,” jelasnya.


Potensi seperti inilah yang menurut Tamaela perlu terus dikembangkan. Sebab, pariwisata dan UMKM memiliki hubungan yang saling menguatkan. Ketika sebuah kawasan semakin dikenal, aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya juga berpeluang tumbuh.


Pelaku usaha kecil, pedagang kuliner, nelayan, serta masyarakat lokal dapat mengambil bagian dalam perkembangan tersebut. Dengan demikian, manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan oleh sektor tertentu, tetapi dapat menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat secara lebih luas.


Ia berharap, kreativitas yang ditunjukkan melalui Festival UMKM Laha Suang dapat menginspirasi negeri-negeri lain di Kota Ambon untuk melakukan hal serupa.


Setiap negeri, katanya, perlu memiliki keberanian untuk menggali keunggulan wilayahnya sendiri. Tidak harus meniru daerah lain, tetapi mengembangkan sesuatu yang menjadi ciri khas dan kekuatan masing-masing.


Pemerintah juga diharapkan terus membangun kemitraan dengan berbagai stakeholder agar pengembangan UMKM tidak berhenti pada kegiatan sesaat, melainkan menjadi gerakan ekonomi yang berkelanjutan.


“Kami berharap hal-hal serupa bisa terjadi di wilayah lain. Potensi yang dimiliki desa-desa harus dikembangkan. Pemerintah terus bekerja sama dengan seluruh stakeholder untuk mengembangkan potensi UMKM. Ekonomi kerakyatan itu yang harus dikembangkan di wilayah masing-masing,” tegas Tamaela.


Festival UMKM Laha Suang akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda kegiatan di kawasan Jembatan Amerika. Ia membawa pesan bahwa kekuatan ekonomi sebuah negeri dapat tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat: tradisi, hasil laut, kreativitas, usaha kecil, dan kebersamaan.


Dari Negeri Laha, sebuah harapan sedang dibangun. Bahwa potensi lokal tidak boleh hanya menjadi cerita tentang kekayaan sebuah wilayah, tetapi harus mampu menghadirkan kesempatan, membuka lapangan usaha, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Sebab, ketika tradisi tetap hidup, potensi terus dikembangkan, dan kolaborasi berjalan bersama, sebuah negeri tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kemampuan masyarakatnya membangun masa depan dari kekuatan yang mereka miliki sendiri. (Za)

Selengkapnya

Wagub Maluku Buka Sahari Dilahasuang Negeri Laha, Dorong UMKM dan Potensi Lokal Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Oktober 30, 2026


AMBON
, globaltimurnn.com – Wakil Gubernur Maluku menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan Sahari Dilahasuang yang diselenggarakan oleh Perempuan Indonesia Maju (PIM) DPD Provinsi Maluku, dengan mengusung tema “Menghidupkan Tradisi, Mengembangkan Potensi Negeri Berdampak, Mari Kasi Pono dan Kasi Rame”. Kegiatan berlangsung di Jembatan Amerika, Negeri Laha, Sabtu (31/10/2026).


Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong pengembangan potensi lokal, pelestarian tradisi, sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan Nomor Induk Berusaha (NIB) kepada enam kelompok perwakilan masyarakat Negeri Laha. Kepemilikan NIB diharapkan dapat membuka akses bagi pelaku UMKM untuk memperoleh pembinaan, pendampingan, serta berbagai peluang pengembangan usaha.


Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menegaskan bahwa upaya memajukan dan menyejahterakan masyarakat bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, termasuk organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dan berbagai kelompok masyarakat.


Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam mendorong pembangunan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.


“Pemerintah tentu hadir untuk melengkapi berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk membantu pengurusan perizinan usaha. Namun, seluruh organisasi, baik organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan, juga diharapkan mengambil bagian dalam upaya memajukan dan menyejahterakan masyarakat,” ungkapnya.

Wagub juga mengingatkan para pelaku UMKM agar tidak hanya fokus pada kegiatan produksi dan penjualan, tetapi turut memperhatikan pengelolaan administrasi serta pencatatan keuangan usaha secara tertib.


Ia menjelaskan, pencatatan setiap transaksi, mulai dari modal pembelian bahan baku, biaya produksi hingga hasil penjualan, merupakan hal mendasar dalam membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan.


“Kalau berbelanja beras berapa, cabai berapa, semuanya harus dihitung dan dicatat. Begitu juga hasil penjualannya. Ini penting karena ketika pelaku UMKM ingin mengakses pembiayaan atau mengajukan kredit ke perbankan, administrasi usaha harus tersedia dan memenuhi standar yang dibutuhkan,” pesannya.


Selain penguatan UMKM, Wagub turut menyoroti pentingnya menciptakan kenyamanan bagi masyarakat maupun pengunjung yang datang ke Negeri Laha.


Menurutnya, potensi kuliner dan kekayaan tradisi lokal seperti nasi kelapa merupakan daya tarik yang dapat dikembangkan untuk mendatangkan pengunjung sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.


Namun, potensi tersebut harus didukung dengan suasana lingkungan yang aman, tertib, dan nyaman. Dengan demikian, masyarakat dari berbagai daerah dapat datang, menikmati kuliner khas, serta berbelanja produk-produk UMKM Negeri Laha.


“Yang kita harapkan adalah semakin banyak orang datang ke sini dan berbelanja. Potensi kuliner seperti nasi kelapa sudah menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi, yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menciptakan kenyamanan bagi setiap orang yang berkunjung,” ujarnya.


Dalam kesempatan itu, Wagub juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persaudaraan dan merawat harmoni antarumat beragama di Maluku.


Ia menekankan bahwa kepercayaan antara masyarakat Muslim dan non-Muslim harus terus dipelihara sebagai modal sosial dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.


“Orang Islam harus terus percaya kepada saudara-saudara non-Islam, begitu juga sebaliknya. Inilah yang saya sebut sebagai merawat harmoni antarumat beragama di Maluku. Persaudaraan dan rasa saling percaya harus terus kita jaga,” tegasnya.


Menurutnya, keamanan dan kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang aman dan harmonis akan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas, mengembangkan usaha, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.


Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan semangat persaudaraan sebagai gerakan bersama dalam menjaga Maluku tetap aman, damai, dan produktif.


Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan peninjauan stan-stan UMKM yang menampilkan berbagai produk unggulan masyarakat, dilanjutkan dengan makan bersama menikmati nasi kelapa dan ikan bakar colo-colo, kuliner khas Negeri Laha.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI Saadiah Uluputty, Ketua DPW LASQI Provinsi Maluku, Danlanud Pattimura, Anggota DPRD Provinsi Maluku, Wali Kota Ambon, Ketua DPRD Kota Ambon, Sekretaris Kota Ambon, Ketua TP-PKK Kota Ambon, Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Provinsi Maluku, Raja Negeri Laha, pimpinan instansi vertikal, serta masyarakat Negeri Laha.


Melalui kegiatan ini, diharapkan potensi budaya, kuliner, dan UMKM Negeri Laha semakin berkembang, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat dalam mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Provinsi Maluku. (Rdks) 

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT