globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Sabtu, 05 September 2026

Gerak Jalan Inda Amboina, Warisan Kebersamaan, Berpotensi Jadi Ikon Nasional Kota Ambon

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Derap langkah kembali memenuhi jalan-jalan utama Kota Ambon, Sabtu (05/09/2026). Ribuan peserta tampil dengan beragam kostum dan formasi, menghadirkan warna tersendiri di tengah suasana kota yang dipenuhi masyarakat.


Di antara barisan yang berjalan teratur, ada semangat yang jauh lebih besar dari sekadar mengejar kemenangan. Ada kebersamaan, kreativitas, disiplin, sekaligus tradisi yang terus dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Semangat itulah yang kembali terlihat dalam Lomba Gerak Jalan Inda Amboina 2026.


Bagi anggota Komisi III DPRD Kota Ambon, Lucky Leonard Upulatu Nikijuluw, kegiatan tersebut merupakan salah satu tradisi masyarakat yang memiliki nilai sosial dan budaya cukup kuat. Menurutnya, Gerak Jalan Inda Amboina tidak seharusnya hanya dipandang sebagai perlombaan tahunan.


Ia memberikan apresiasi kepada Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Kota Ambon yang dinilai konsisten mempertahankan kegiatan tersebut.


“Sebagai wakil rakyat, kami memberikan apresiasi kepada Angkatan Muda Gereja Maluku (AMGPM) Daerah Kota Ambon yang terus mempertahankan kegiatan ini,” ujar Lucky.


Menurut Lucky, keberadaan Gerak Jalan Inda Amboina yang telah berlangsung sejak era 1980-an menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah melekat dalam kehidupan masyarakat Kota Ambon.


Waktu boleh berubah. Generasi terus berganti. Namun, nilai yang dibawa melalui kegiatan itu tetap memiliki relevansi.


Gerak jalan mengajarkan peserta tentang kekompakan, kedisiplinan dan tanggung jawab. Setiap anggota barisan harus mampu menyesuaikan langkah dengan anggota lainnya. Tidak ada ruang bagi kepentingan pribadi ketika seluruh barisan harus bergerak dalam satu irama.


Dari proses sederhana tersebut, menurut Lucky, tumbuh nilai persaudaraan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ambon.


“Di satu sisi, kreativitas dan keterampilan baris-berbaris menjadi dasar bagi warga Kota Ambon untuk terus meningkatkan kemampuan dan partisipasi mereka,” katanya.


Lucky menilai Gerak Jalan Inda Amboina dapat terus dikembangkan agar semakin banyak lapisan masyarakat yang terlibat.


Ia mendorong agar kategori peserta dapat diperluas, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga berbagai komunitas yang ada di Kota Ambon.


Dengan semakin banyak kelompok yang berpartisipasi, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang bersama bagi masyarakat untuk berkreasi.


“Harapan kami masyarakat Kota Ambon harus menyambut dan menjaga momentum ini dengan baik, supaya ke depan LGJ ini terus berlangsung dengan baik,” ungkapnya.


Bagi Lucky, keberlanjutan kegiatan tidak hanya bergantung kepada pemerintah dan panitia. Dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar tradisi tersebut tetap hidup.


Sebab, ketika masyarakat ikut menjaga dan meramaikan sebuah kegiatan, maka kegiatan itu akan memiliki umur yang lebih panjang.


Di balik kemeriahan Gerak Jalan Inda Amboina, terdapat manfaat lain yang turut dirasakan masyarakat, yakni pergerakan ekonomi.


Ribuan peserta dan penonton yang memadati kawasan pelaksanaan kegiatan menciptakan peluang bagi pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, penyedia jasa transportasi serta berbagai usaha kecil lainnya.


Aktivitas ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kegiatan publik seperti Gerak Jalan Inda Amboina perlu terus mendapatkan perhatian.


“Perputaran uang itu terjadi di Kota Ambon. Belum lagi UMKM yang turut terlibat di dalamnya,” ujar Lucky.


Karena itu, menurutnya, sebuah kegiatan tidak semestinya hanya dihitung berdasarkan besaran anggaran yang dikeluarkan. Dampak yang muncul setelah kegiatan berlangsung juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan.


Ada masyarakat yang mendapatkan penghasilan. Ada UMKM yang memperoleh pelanggan. Ada ruang publik yang kembali dipenuhi aktivitas warga.


Semua itu menjadi bagian dari manfaat yang lahir dari sebuah kegiatan masyarakat.


Melihat sejarah dan antusiasme masyarakat yang terus terjaga, Lucky menilai Gerak Jalan Inda Amboina memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi agenda yang lebih besar.


Ia bahkan berharap kegiatan tersebut suatu saat dapat memiliki gaung hingga tingkat nasional dan menjadi salah satu identitas khas Kota Ambon.


Namun, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan pengelolaan yang konsisten, inovasi serta keterlibatan berbagai pihak.


Menurutnya, pemerintah, panitia, peserta, komunitas dan masyarakat harus memiliki semangat yang sama untuk menjaga kualitas kegiatan.


Selain kreativitas peserta, faktor sportivitas juga menjadi perhatian.


Lucky mengingatkan panitia dan para juri agar menjalankan tugas secara profesional dan objektif. Penilaian yang transparan akan menjaga kepercayaan peserta sekaligus memberikan legitimasi terhadap hasil perlombaan.


“Harapan kami panitia bisa menjaga netralitas, terutama para juri, supaya hasilnya membawa output yang positif,” katanya.


Pada akhirnya, Gerak Jalan Inda Amboina bukan hanya soal barisan yang paling rapi atau peserta yang keluar sebagai juara.


Di balik setiap langkah terdapat cerita tentang masyarakat yang berkumpul, generasi muda yang menunjukkan kreativitas, komunitas yang ikut mengambil bagian, serta pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk menggerakkan roda ekonomi.


Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk merawat semangat orang basudara di tengah dinamika Kota Ambon yang terus berkembang.


Derap langkah yang terdengar di jalan-jalan kota menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi dapat tetap hidup ketika masyarakat mau menjaganya bersama.


Dan jika dikelola secara berkelanjutan, Gerak Jalan Inda Amboina bukan tidak mungkin tumbuh dari sebuah tradisi lokal menjadi agenda khas Kota Ambon yang dikenal hingga panggung nasional. (Za)

Selengkapnya

Dari Jejak Tsunami 1950, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Lewat EWS dan Tugu Peringatan

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Tujuh puluh enam tahun telah berlalu sejak gelombang tsunami menerjang kawasan Galala dan Hative Kecil pada 8 Oktober 1950. Namun, jejak peristiwa itu tidak dibiarkan hilang ditelan waktu.


Di kawasan yang pernah menjadi saksi bencana tersebut, kini berdiri sebuah tugu peringatan. Tidak jauh dari sana, sebuah sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir dipasang untuk memberikan tanda kepada masyarakat ketika ancaman mulai meningkat.


Keduanya menjadi simbol bahwa pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran untuk menghadapi masa depan.


Tugu Peringatan Tsunami Ambon 1950 dan EWS banjir tersebut secara resmi diresmikan oleh Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., bersama perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA), Kyoto University Jepang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pattimura (Unpatti), serta sejumlah pihak yang terlibat dalam penguatan pengurangan risiko bencana di Kota Ambon, Sabtu (05/09/2026.


Peresmian itu menjadi lebih dari sekadar seremoni pembangunan infrastruktur. Pemerintah Kota Ambon ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang untuk mengingat sejarah sekaligus mengajarkan masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan.


Bodewin menegaskan, tugu yang dibangun tidak boleh hanya dipandang sebagai bangunan fisik.


“Tugu ini mesti dipandang bukan sekadar monumen batu beton yang berdiri begitu saja. Tugu ini adalah pengingat,” tegasnya.


Menurut Bodewin, generasi saat ini perlu mengetahui bahwa Ambon pernah mengalami bencana tsunami. Pengetahuan tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa ancaman bencana bukan sesuatu yang hanya ada dalam cerita, tetapi pernah benar-benar terjadi dan dapat kembali terjadi.


Karena itu, sejarah harus ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan kebencanaan.


Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui kapan sebuah bencana pernah terjadi. Mereka juga harus memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana datang, bagaimana menyelamatkan diri, serta ke mana harus bergerak ketika kondisi darurat terjadi.


Kota Ambon sendiri merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi ancaman bencana. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem menjadi tantangan yang harus diantisipasi pemerintah dan masyarakat.


Bodewin mengatakan, berbagai peristiwa bencana yang terjadi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi.


“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita kurangi,” ujarnya.


Pengurangan risiko tersebut, kata dia, harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan infrastruktur, regulasi dan sistem peringatan. Sementara masyarakat memiliki peran penting dalam memahami informasi, mengikuti prosedur keselamatan dan menjaga fasilitas yang telah disediakan.


Salah satu upaya yang terus didorong Pemkot Ambon adalah penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana di tingkat desa dan negeri.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat edukasi kebencanaan sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.


Jika tugu menjadi pengingat masa lalu, maka EWS menjadi bagian dari persiapan menghadapi ancaman di masa depan.


Perangkat EWS yang dipasang di kawasan Galala dan Hative Kecil dirancang untuk memantau kondisi air dan memberikan indikasi peringatan sesuai tingkat ancaman.


Sistem tersebut menggunakan beberapa tingkatan status. Ketika kondisi masih normal, masyarakat berada dalam keadaan aman. Namun, ketika permukaan air mulai mengalami peningkatan, status kewaspadaan akan berubah.


Pada tingkat oranye, masyarakat diminta mulai bersiap. Sedangkan ketika indikator mencapai merah, masyarakat harus segera melakukan evakuasi.


Peringatan tersebut menjadi penting karena dalam situasi bencana, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Beberapa menit tambahan untuk mengetahui adanya ancaman dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyelamatkan anak-anak, orang lanjut usia, keluarga maupun warga yang membutuhkan bantuan.


Bodewin juga mengingatkan kondisi banjir yang pernah terjadi di kawasan Galala dan Hative Kecil. Ketika debit air meningkat, genangan bahkan dapat mencapai kawasan jembatan.


Karena itu, keberadaan EWS diharapkan tidak hanya menjadi alat yang berdiri di tengah lingkungan masyarakat, tetapi benar-benar dipahami dan dimanfaatkan.


Jangan Rusak Alat yang Dibangun untuk Keselamatan


Di balik pembangunan fasilitas tersebut, Bodewin menitipkan pesan kepada Raja Negeri, pemerintah setempat dan seluruh masyarakat.


“Saya titip pesan buat Bapak Raja dan semua warga. Ingat, alat ini penting. Kita cukup menjaganya saja. Jangan dijahili, jangan dirusak,” pintanya.


Pesan tersebut disampaikan karena fasilitas publik yang dibangun pemerintah pada akhirnya kembali kepada masyarakat untuk digunakan dan dirawat bersama.


Bodewin bahkan mengingatkan masih adanya fasilitas publik di Kota Ambon yang mengalami kerusakan atau kehilangan bagian setelah dibangun.


Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi terhadap perangkat EWS yang memiliki fungsi jauh lebih penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.


Menurutnya, pembangunan kota yang modern tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang baik, tetapi juga masyarakat yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap fasilitas bersama.

Peresmian tugu dan EWS tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan kolaborasi.


Pemerintah Kota Ambon tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan JICA, Kyoto University, ITB, Unpatti dan berbagai pihak lainnya menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas Kota Ambon menghadapi ancaman bencana.


Kerja sama tersebut tidak berhenti pada pemasangan perangkat. Pengetahuan, riset, pemetaan risiko, edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan.


Dengan demikian, pembangunan sistem peringatan dini harus berjalan beriringan dengan pembangunan kesadaran masyarakat.


Sebab alat secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal jika masyarakat tidak memahami arti peringatan yang diberikan.


Di Galala dan Hative Kecil, dua simbol kini berdiri berdampingan.


Tugu menghadap ke masa lalu, mengingatkan generasi sekarang tentang tsunami yang pernah terjadi pada 8 Oktober 1950.


Sementara EWS menghadap ke masa depan, memberikan peringatan ketika ancaman banjir mulai meningkat.


Keduanya membawa pesan yang sama: jangan melupakan sejarah dan jangan mengabaikan peringatan.


Bodewin berharap masyarakat tidak memandang pembangunan tersebut sekadar sebagai proyek pemerintah. Lebih dari itu, tugu dan EWS merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk melindungi masyarakat.


“Kalau kejadian itu terjadi, kita tidak bisa menghindarinya. Tetapi paling tidak kita bisa menyelamatkan diri,” tutur Bodewin.


Pesan itu menjadi inti dari seluruh upaya tersebut. Bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi korban dan dampaknya dapat ditekan melalui pengetahuan, kesiapsiagaan dan tindakan yang cepat.


Kini, ketika masyarakat melintas di Galala dan Hative Kecil, sebuah tugu mengingatkan tentang apa yang pernah terjadi.


Dan ketika air mulai naik, sebuah sistem peringatan dini diharapkan memberi tanda agar masyarakat tidak terlambat mengambil langkah.


"Mengingat sejarah. Membaca peringatan. Menyelamatkan kehidupan." (Rdks) 

Selengkapnya

Ribuan Warga Semarakkan Gerak Jalan Indah Amboina 2026, Wali Kota Tekankan Sportivitas dan Kebersihan

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Suasana Kota Ambon semakin semarak dalam rangkaian perayaan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-91. Kemeriahan tersebut ditandai dengan digelarnya Lomba Gerak Jalan Indah Amboina 2026, Sabtu (05/09/2026).


Sejak pagi, antusiasme masyarakat terlihat di sepanjang ruas jalan yang menjadi jalur perlombaan. Warga dari berbagai kalangan hadir menyaksikan peserta yang tampil dengan beragam seragam, formasi barisan, gerakan dan kreativitas masing-masing.


Sorak-sorai penonton pun mengiringi langkah para peserta yang berusaha memberikan penampilan terbaik dalam ajang yang menjadi salah satu agenda kemeriahan HUT Kota Ambon dan HUT GPM tahun ini.


Lomba tersebut secara resmi dibuka oleh Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si. Pembukaan ditandai dengan pemotongan pita dan pelepasan balon gas sebagai simbol dimulainya perlombaan.

Dalam sambutannya, Bodewin mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk menjadikan Gerak Jalan Indah Amboina bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang mempererat tali persaudaraan.


Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi bagian penting dalam setiap rangkaian perayaan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91.


“Laksanakan lomba ini dengan baik, jujur dan sportif. Persaingan tetap ada, tetapi yang kita butuhkan adalah persaingan yang sehat,” pesan Bodewin kepada seluruh peserta.


Ia berharap setiap kelompok dapat menunjukkan kemampuan terbaik tanpa mengabaikan nilai-nilai sportivitas. Menang atau kalah, kata dia, bukan satu-satunya tujuan dari sebuah perlombaan.


Lebih jauh, Wali Kota juga meminta panitia dan dewan juri bekerja secara profesional dengan memberikan penilaian yang adil dan objektif.


“Panitia dan dewan juri, lakukan tugas penyelenggaraan dengan baik. Berikan penilaian yang benar dan objektif, sehingga seluruh peserta dapat mengikuti lomba ini dengan baik,” ujarnya.


Di tengah kemeriahan perlombaan, Bodewin turut mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.


Ia mempersilakan warga yang datang menonton untuk membawa makanan maupun berbagai kebutuhan selama berada di lokasi. Namun, sampah yang dihasilkan diminta tidak dibuang sembarangan.


“Untuk para penonton, silakan membawa apa saja yang dibutuhkan, tetapi saya minta tetap menjaga kebersihan lingkungan. Jangan membuang sampah sembarangan,” tegasnya.


Menurutnya, perayaan HUT Kota Ambon dan HUT GPM harus mampu menghadirkan suasana yang meriah sekaligus menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.


Ambon, kata dia, harus tetap menjadi kota yang bersih, aman, nyaman dan menyenangkan bagi seluruh masyarakat.


Pesan tersebut menjadi bagian dari semangat yang ingin dibangun Pemerintah Kota Ambon dalam setiap kegiatan masyarakat. Kemeriahan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab untuk menjaga ruang publik.


Ketika barisan peserta mulai bergerak, suasana di sepanjang jalur perlombaan semakin hidup. Berbagai kelompok tampil dengan ciri khas masing-masing, mulai dari keseragaman barisan hingga gerakan yang telah dipersiapkan. 


Bagi masyarakat, Gerak Jalan Indah Amboina bukan sekadar tontonan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang perjumpaan warga sekaligus memperlihatkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Ambon.


Momentum ini juga memperlihatkan bagaimana olahraga, kreativitas dan budaya dapat berpadu dalam sebuah perayaan kota.


Di tengah langkah kaki para peserta dan riuh dukungan warga, pesan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91 kembali digaungkan: membangun kota tidak hanya membutuhkan pemerintah, tetapi juga partisipasi dan kepedulian seluruh masyarakat.


Menutup sambutannya, Bodewin secara resmi membuka perlombaan sekaligus menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Kota Ambon.


Atas nama Pemerintah Kota Ambon, saya menyampaikan selamat berlomba. Lomba Gerak Jalan Indah Amboina Tahun 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka.


Ia kemudian mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum perayaan tersebut sebagai kesempatan untuk terus merawat persaudaraan dan kebersamaan.


“Selamat pagi warga Kota Ambon. Selamat merayakan HUT Kota Ambon ke-451 dan HUT GPM ke-91. Mari kita jaga Ambon tetap bersih, aman, nyaman dan menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya. (Za)

Selengkapnya

Camat Teluk Ambon Sampaikan Ucapan Selamat HUT GPM ke-91 dan Kota Ambon ke-451

September 05, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Camat Teluk Ambon, Idrus Buamona, S.STP., M.I.Kom., menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-91 sekaligus HUT Kota Ambon ke-451.


Dalam momentum penuh sukacita tersebut, Idrus menyampaikan harapan agar peringatan kedua hari bersejarah ini menjadi momentum untuk terus memperkuat kebersamaan, persaudaraan, serta semangat membangun Kota Ambon.


“Selamat ulang tahun Gereja Protestan Maluku ke-91 dan Kota Ambon ke-451. Kiranya momentum ini semakin mempererat persaudaraan, menjaga keharmonisan dalam keberagaman, serta mendorong kita bersama membangun Ambon yang lebih baik,” ungkap Idrus.


Ia juga berharap nilai-nilai kebersamaan dan semangat hidup orang basudara terus menjadi kekuatan dalam menjaga kedamaian serta persatuan masyarakat di Kota Ambon.


Menurutnya, perjalanan panjang GPM selama 91 tahun dan Kota Ambon selama 451 tahun merupakan bagian penting dari sejarah dan kehidupan masyarakat Maluku yang harus terus dirawat bersama.


“Bersama merawat iman, budaya dan masa depan Ambon yang lebih baik,” menjadi pesan yang disampaikan Idrus dalam ucapan peringatan tersebut.


Idrus Buamona juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan momentum HUT GPM ke-91 dan HUT Kota Ambon ke-451 sebagai kesempatan memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta terus berkarya bagi kemajuan Kota Ambon. (Za)

Selengkapnya

Jumat, 04 September 2026

12 Raja Seram Utara Pegunungan Temui Gubernur Maluku dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku

September 04, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Tapal batas Taman Nasional Manusela masih berlanjut, hingga kini kedua belas Raja Pegunungan Seram utara bertemu kembali dengan gubernur Maluku guna membahas tapal batas taman Manusela. 


Pertemuan ini di pimpin langsung oleh Asisten II Provinsi Maluku, turut hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, Kepala BPKH wilayah Maluku, Kepala balai konservasi Hutan provinsi Maluku, Ketua DPRD Maluku Tengah, asisten 1 Setda Maluku Tengah, Kepala TNM Masohi, Kabag Tata Pemerintahan Kab. Maluku Tengah dan juga ke 12 belas Raja Negeri.


Dalam pertemuan tersebut ada banyak hal yang di sampaikan oleh pemerintah provinsi dalam kewenangannya, BPKH dalam kewenangannya, TNM dengan kewenangannya, para Raja juga datang dengan Tuntutan dan pernyataan sikap, sehingga terjadi dialog yang seru, ada beberapa hal yang di hasilkan dalam pertemuan tersebut di antaranya : 

1. Pembentukan tim pelaksana Lapangan untuk melihat langsung batas TNM 

2.  Melakukan Rekonstruksi ulang di kawasan TNM guna memastikan Tuntutan dan pernyataan sikap dari ke 13 Negeri Penyangga.


Dari hasil pertemuan ini pemerintah provinsi, dan pemerintah Kabupaten akan melakukan tindakan cepat untuk mengatasi berbagai konflik dengan TNM sehingga yang menjadi tuntutan dan pernyataan sikap dari masyarakat bisa terjawab dengan baik. 


Pembahasan itu pun muncul berbagai adu argumen hingga suasana rapat pun jadi tegang, menurut para Raja bahwa pihaknya datang dan hadir bersama dalam pertemuan bukan untuk bernegosiasi namun datang dengan tuntutan untuk segera mencabut secara totalitas TNM di wilayah hukum negeri adat negeri penyangga. Ujar salah satu Raja negeri adat yang ikut dalam pertemuan tersebut  (Adrian) 

Selengkapnya

Dandim 1513/SBB Turun Lansung Di Dusun Tatinang, Huamual, Tinjau Lokasi, Pastikan Sumber Air Bersih Bagi Warga

September 04, 2026


SBB
, globaltimurnn.com — Persoalan akses air bersih yang dihadapi masyarakat Dusun Tatinang, Desa Waisala, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), mendapat perhatian Komandan Kodim (Dandim) 1513/SBB Letkol Arh Jaka Putra Dinda, S.H., M.Han.


Dandim turun langsung ke Dusun Tatinang untuk meninjau lokasi yang menjadi rencana pengembangan jaringan air bersih, Peninjauan tersebut dilakukan bersama Kepala Dusun Tatinang guna melihat kondisi lapangan dan kebutuhan infrastruktur yang diperlukan.


Dalam kunjungan tersebut, Dandim melihat secara langsung lokasi sumber air hingga titik yang direncanakan menjadi lokasi pelayanan bagi masyarakat, Berdasarkan hasil peninjauan, jarak dari sumber air ke lokasi yang akan dialiri diperkirakan mencapai sekitar 500 meter.


Untuk mengalirkan air dari sumber menuju kawasan masyarakat, diperlukan pembangunan jaringan pipa sepanjang kurang lebih jarak tersebut, Selain jaringan pipa, kebutuhan jaringan kabel listrik juga menjadi salah satu komponen pendukung yang perlu disiapkan.


Kondisi medan dan jarak antara sumber air dengan lokasi pelayanan menjadi pertimbangan dalam penyusunan rencana pembangunan, Karena itu, peninjauan lapangan dilakukan untuk memastikan kebutuhan tersebut dapat diidentifikasi secara langsung sebelum masuk pada tahap tindak lanjut.


Dandim 1513/SBB, Letkol Arh Jaka Putra Dinda, menyampaikan bahwa hasil peninjauan tersebut akan menjadi catatan untuk diusulkan kepada pihak terkait.


Usulan tersebut nantinya diharapkan dapat dibahas bersama pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk mendukung pembangunan jaringan air bersih di Dusun Tatinang.


Dengan demikian, hasil kunjungan tidak berhenti pada peninjauan lokasi, tetapi menjadi bahan awal untuk menyusun usulan berdasarkan kondisi riil di lapangan, termasuk kebutuhan jaringan pipa dan dukungan listrik.


Kepala Dusun Tatinang turut mendampingi peninjauan dan memberikan gambaran mengenai kondisi serta kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.


Bagi warga, tersedianya akses air bersih melalui jaringan yang lebih dekat dan terjangkau akan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, Namun, realisasi pembangunan tetap membutuhkan proses usulan, koordinasi, serta dukungan dari pihak terkait.


Hasil peninjauan Dandim selanjutnya akan menjadi bahan koordinasi untuk mendorong usulan pembangunan tersebut agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan ketersediaan dukungan anggaran.


Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk memastikan persoalan yang disampaikan masyarakat Dusun Tatinang dapat terdokumentasi berdasarkan kondisi lapangan dan selanjutnya diperjuangkan melalui mekanisme yang ada. (***) 

Selengkapnya

Kanwil Ditjenpas Maluku Percepat Reformasi Layanan Publik Lewat Penguatan Quick Wins

September 04, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Upaya meningkatkan kualitas pelayanan pemasyarakatan terus dilakukan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Maluku. Salah satu langkah yang diperkuat yakni implementasi Quick Wins sebagai strategi mempercepat pembenahan tata kelola pelayanan publik.


Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Penguatan Implementasi Quick Wins Perbaikan Tata Kelola Pelayanan Publik Bidang Pemasyarakatan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan secara virtual, Kamis (03/09/2026).


Kegiatan tersebut diikuti langsung Kepala Kanwil Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, bersama jajaran pejabat administrator dan seluruh petugas Kanwil Ditjenpas Maluku.


Keterlibatan seluruh jajaran menunjukkan bahwa implementasi Quick Wins tidak ditempatkan sebatas sebagai pemenuhan administrasi, tetapi diarahkan menjadi bagian dari perubahan budaya kerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.


Melalui program tersebut, jajaran Pemasyarakatan Maluku didorong menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, mudah, transparan, profesional dan bebas dari berbagai bentuk penyimpangan.


Langkah ini sekaligus menjadi tindak lanjut atas arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam memperkuat hasil evaluasi serta mendorong perbaikan tata kelola pelayanan publik di lingkungan pemasyarakatan.


Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, dalam arahannya menegaskan bahwa Quick Wins harus menghasilkan perubahan nyata dan dapat dirasakan masyarakat.


Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya dibuktikan melalui dokumen atau laporan administrasi, tetapi harus terlihat dari meningkatnya kualitas pelayanan serta kepercayaan masyarakat terhadap institusi.


Quick wins bukan sekadar pemenuhan administrasi, tetapi harus memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan kepercayaan masyarakat, tegas Mashudi.


Ia juga mendorong seluruh jajaran Pemasyarakatan untuk menerjemahkan setiap kebijakan tersebut ke dalam pelaksanaan tugas sehari-hari secara konsisten.


Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Kanwil Ditjenpas Maluku Ricky Dwi Biantoro meminta seluruh jajarannya memiliki pemahaman dan komitmen yang sama dalam menjalankan standar pelayanan.


Menurut Ricky, kualitas pelayanan menjadi salah satu indikator yang secara langsung membentuk penilaian masyarakat terhadap institusi Pemasyarakatan.


Pelayanan publik adalah wajah institusi yang langsung dilihat dan dirasakan masyarakat, ujar Ricky.


Ia meminta setiap petugas memastikan seluruh standar pelayanan dilaksanakan secara konsisten, sekaligus menjadikan implementasi Quick Wins sebagai momentum untuk menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.


Ricky juga memberikan perhatian terhadap aspek integritas. Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi praktik pungutan liar, penyimpangan maupun tindakan lain yang bertentangan dengan ketentuan.


Jangan berikan ruang terhadap pungutan liar, penyimpangan, maupun praktik-praktik yang tidak sesuai ketentuan, tegasnya.


Menurutnya, pelayanan publik yang berkualitas hanya dapat diwujudkan apabila dibangun di atas kedisiplinan, profesionalitas, transparansi dan kepastian pelayanan.


Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Ditjenpas Maluku, Sarwono, menekankan bahwa keberhasilan implementasi Quick Wins merupakan tanggung jawab seluruh pegawai, bukan hanya pejabat atau unit tertentu.


Setiap pegawai memiliki peran dalam memastikan pelayanan berjalan dengan baik, kata Sarwono.


Karena itu, ia mendorong jajaran untuk meningkatkan kedisiplinan, memberikan respons secara cepat terhadap kebutuhan masyarakat, membuka akses informasi secara transparan serta memastikan pelayanan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.


Penguatan koordinasi, monitoring dan evaluasi juga dinilai penting agar berbagai perbaikan yang telah dilakukan dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.


Kanwil Ditjenpas Maluku selanjutnya berkomitmen menjadikan Quick Wins sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar program yang dilaksanakan dalam waktu tertentu.


Orientasinya adalah membangun pelayanan pemasyarakatan yang lebih humanis, responsif, transparan dan berintegritas.


Ricky menegaskan, keberhasilan pembenahan pelayanan harus diukur dari dampaknya bagi masyarakat.


Ukuran keberhasilan kita bukan hanya dari laporan yang selesai, tetapi dari perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat, ujarnya.


Dengan komitmen tersebut, Kanwil Ditjenpas Maluku terus mendorong transformasi pelayanan agar semakin mudah diakses, cepat dalam merespons kebutuhan masyarakat dan tetap mengedepankan prinsip integritas.


Langkah ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas tata kelola internal, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan Pemasyarakatan di Maluku. (Za)

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT