
Foto : 2 WNA Singapura Diduga Meninggal, 1 WNI Hilang Akibat Erupsi Gunung Api Dukono
Tobelo, Globaltimurnn.com – Sebuah tragedi menimpa rombongan pendaki saat Gunung Api Dukono meletus pada Jumat pagi, 8 Mei 2026. Peristiwa bermula sekitar pukul 07.54 WIT, rombongan yang sedang mendekati puncak gunung tiba-tiba dihujani material batu dan abu vulkanik akibat letusan hebat. Sebanyak 20 orang yang terdiri dari 9 Warga Negara Asing (WNA) asal Singapura dan 11 pendaki lokal terpaksa menyelamatkan diri dan tercerai-berai.
Letusan Gunung Api Dukono dengan tinggi kolom abu teramati ± 10.000 m di atas puncak (± 11.087 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maximum 34 mm dan durasi 967.56 Detik.
Berdasarkan laporan di lapangan, dua orang WNA yakni Wen Qiang Timothy Heng dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid diketahui tertimpa material besar dan diduga meninggal dunia. Tubuh kedua korban hingga kini masih tertinggal di lokasi puncak dan belum berhasil dievakuasi karena kendala jarak tempuh yang jauh, medan yang berat, serta aktivitas gunung yang masih memuntahkan material vulkanik secara terus-menerus.
Koordinator pemandu wisata, Reza Selang, sempat berusaha menolong korban namun terpaksa mundur karena hujan batu masih terus terjadi. Selain itu, satu orang pendaki lokal bernama Engel (Pegawai Pertamina DPPU Babullah Ternate) dilaporkan hilang dan belum ditemukan keberadaannya.
Sementara itu, 17 orang lainnya berhasil diselamatkan oleh Tim SAR gabungan yang terdiri dari personil TNI, Polri, BNPB, dan relawan masyarakat sebanyak kurang lebih 60 orang. Tujuh WNA lainnya mengalami berbagai tingkat luka, mulai dari ringan hingga berat, dan telah dibawa ke RSUD Tobelo untuk mendapatkan perawatan intensif.
Kronologi kejadian menunjukkan bahwa rombongan sebenarnya telah berangkat dari Desa Mamuya sejak Kamis, 7 Mei 2026, dan bermalam di Pos 5 sebelum melanjutkan pendakian ke puncak.
Upaya evakuasi yang dilakukan pada hari ini terpaksa dihentikan pukul 17.43 WIT dan tim kembali ke pos pengamatan di Desa Mamuya. Selain ancaman letusan yang masih berlangsung, medan yang berat serta jarak tempuh sekitar 7 km dari pemukiman memakan waktu perjalanan cukup lama. Operasi pencarian dan evakuasi direncanakan akan dilanjutkan kembali besok, Sabtu 9 Mei 2026.
Pihak pengamat gunung api menegaskan bahwa rombongan ini tidak memiliki izin resmi untuk mendaki. Padahal, Pemerintah Daerah telah mengeluarkan surat edaran pada 17 April 2026 yang melarang segala aktivitas pendakian di kawasan tersebut mengingat status aktivitas vulkanik yang masih tinggi. 𝐆𝐈𝐎).













