Ambon, Globaltimurnn.com — Festival Marawai “Harmoni Nada dan Cinta Par Negeri” di Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan hiburan. Festival tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk kembali menghidupkan warisan budaya yang nyaris terlupakan.
Salah satu yang menjadi perhatian dalam Festival Marawai adalah ditampilkannya kembali Tarian Cakaiba, sebuah tarian tradisional Negeri Hatalai yang disebut telah hampir 40 tahun tidak dipentaskan dalam berbagai kegiatan budaya maupun adat di negeri tersebut.
Kembalinya Tarian Cakaiba menjadi salah satu bagian istimewa dalam festival yang digagas anak-anak Negeri Hatalai tersebut. Kehadirannya sekaligus menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali kekayaan seni dan budaya lokal kepada generasi muda maupun masyarakat luas.
Ketua Panitia Festival Marawai, Jonathan Kainama, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginan anak-anak Negeri Hatalai untuk mengumpulkan sekaligus mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki negeri.
Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya berada pada sektor seni dan budaya, tetapi juga musik, tarian, kuliner hingga ekonomi kreatif masyarakat.
“Festival ini bukan hanya untuk mendapatkan dukungan bagi pelaksanaan Sidang Klasis ke-15. Lebih dari itu, kami ingin momentum ini menjadi ruang untuk menggerakkan dan mengonsolidasikan seluruh potensi anak negeri agar dapat menyatu dan memberikan dampak bagi negeri, jemaat, serta masa depan anak-anak Negeri Hatalai,” ujar Jonathan, Selasa (25/08/2026).
Ia menjelaskan, Festival Marawai merupakan bagian dari rangkaian persiapan pelaksanaan Sidang Klasis ke-15 Klasis Pulau Ambon Timur. Namun, dalam proses persiapannya, panitia melihat kegiatan tersebut memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk dikembangkan sebagai agenda budaya tahunan.
Menurut Jonathan, Negeri Hatalai memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang perlu diperkenalkan secara lebih luas. Berbagai tradisi, tarian, musik hingga kuliner khas negeri dinilai memiliki nilai yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.
“Kami ingin memperkenalkan Hatalai sebagai salah satu negeri adat di Jazirah Leitimur Selatan yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah. Tari-tariannya perlu dinikmati, musik dan lagunya perlu didengar, dan berbagai kulinernya juga perlu dicicipi,” katanya.
Ia menilai seni dan budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas sebuah negeri. Karena itu, Festival Marawai diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat Hatalai untuk menunjukkan sekaligus memperkenalkan kekayaan yang dimiliki kepada masyarakat luar.
“Festival Marawai adalah kebanggaan kami untuk memperkenalkan apa yang kami miliki kepada orang lain. Kami berharap kegiatan ini dapat dinikmati seluruh masyarakat dan para undangan,” ujarnya.
Nama Marawai sendiri diambil dari Puncak Marawai, salah satu kawasan yang memiliki nilai historis dalam perjalanan dan perkembangan Negeri Hatalai.
Pemilihan nama tersebut bukan sekadar menjadi identitas festival, tetapi juga bagian dari upaya menghubungkan kegiatan dengan sejarah serta akar budaya masyarakat Hatalai.
Festival Marawai menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya tradisional sejak pembukaan hingga rangkaian acara menjelang penutupan. Sejumlah artis lokal juga turut dijadwalkan memeriahkan kegiatan tersebut.
Bagi panitia, kehadiran kembali Tarian Cakaiba menjadi simbol bahwa warisan budaya yang hampir hilang masih dapat dihidupkan apabila mendapat perhatian dan kemauan dari generasi penerus.
Jonathan menyebut terdapat sejumlah harapan besar yang ingin dicapai melalui Festival Marawai.
Pertama, festival tersebut diharapkan menjadi awal dari semangat baru dalam melestarikan seni dan budaya serta dapat berkembang menjadi agenda tahunan Negeri Hatalai.
Kedua, Festival Marawai diharapkan mampu mempersatukan seluruh potensi anak negeri, baik yang berada di Hatalai maupun yang berdomisili di Ambon dan daerah sekitarnya, untuk bersama-sama membangun negeri.
Ketiga, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Negeri Hatalai sebagai bagian dari kekayaan budaya Maluku dan Kota Ambon, khususnya dalam menjaga keberadaan negeri-negeri adat.
Keempat, Festival Marawai diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus membantu mendukung pelaksanaan Sidang Klasis ke-15 Klasis Pulau Ambon Timur.
“Kami percaya harapan-harapan ini dapat diwujudkan. Kami melihat Gereja Protestan Maluku selalu hadir dan memiliki peran dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat di Maluku dan Kota Ambon, termasuk di Negeri Hatalai,” kata Jonathan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, para tamu undangan, sponsor serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Festival Marawai.
Jonathan berharap dukungan tersebut dapat terus diberikan sehingga festival tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi dapat tumbuh menjadi agenda budaya tahunan yang memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi mereka.
Festival Marawai, kata dia, diharapkan menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali sejarah, menjaga warisan budaya, mengembangkan kreativitas anak negeri sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat.
Dengan memadukan sejarah, seni, musik, tarian, kuliner dan kreativitas masyarakat, Festival Marawai “Harmoni Nada dan Cinta Par Negeri” diharapkan mampu membawa wajah budaya Negeri Hatalai semakin dikenal dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Maluku yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (Za)
