Gerard Wakano : Dampak Nyata Multiplier Effect Blok Masela Bagi Petani Nelayan Lokal - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar



Kamis, 27 Agustus 2026

Gerard Wakano : Dampak Nyata Multiplier Effect Blok Masela Bagi Petani Nelayan Lokal


Ambon
, Globaltimurnn.com - Proyek LNG Abadi Blok Masela bukan sekadar infrastruktur energi. 


Dengan nilai investasi mencapai US$ 20,95 miliar (sekitar Rp 352-390 triliun) dan proyeksi penerimaan negara langsung US$ 37,8 miliar, proyek ini adalah salah satu mesin ekonomi terbesar yang pernah masuk ke Indonesia Timur.  


Namun pertanyaannya, akankah uang sebesar itu berputar di Maluku, atau akan melesat kembali ke Jakarta dan luar negeri?Pemerintah memilih skema pengembangan onshore, kilang di darat menciptakan multiplier effect yang nyata bagi daerah. Ungkap Gerard Wakano kepada sejumlah awak media di ambon siang tadi, jumat 28/06/2026


Dikatalan-nya" Kilang di darat berarti lebih banyak interaksi dengan ekonomi lokal, lebih banyak kebutuhan logistik yang harus dipasok dari sekitar, dan lebih banyak tenaga kerja yang terserap.


Angka penyerapan tenaga kerja pun cukup seksi 12.000 tenaga kerja langsung  pada masa konstruksi, dengan efek berganda diperkirakan menciptakan lapangan kerja hingga 36.000 posisi di sektor pendukung. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan menegaskan, Rakyat adalah bagian terpenting dari aset negara ini. 


Tujuan pembangunan kita adalah bagaimana mendorong mereka bisa sejahtera.


Namun di sinilah letak tantangan sesungguhnya, 12.000 Perut, Siapa yang Mengisi? Bayangkan sebuah kota kecil dengan 12.000 penduduk baru yang harus makan setiap hari. 


Itulah realitas yang akan dihadapi Maluku saat konstruksi Blok Masela dimulai. 


Kebutuhan pangan per hari untuk 12.000 pekerja:

Komoditas Kebutuhan per Hari Nilai per Hari (Rp) Nilai 30 Hari (Rp)

Beras 6.000 kg 96.000.000 2.880.000.000

Daging ayam 1.200 kg 38.400.000 1.152.000.000

Daging sapi 600 kg 78.000.000 2.340.000.000

Ikan 900 kg 27.000.000 810.000.000

Sayuran (bayam, kangkung, kacang panjang, kol) 2.400 kg 54.000.000 1.620.000.000

Buah-buahan (pisang, nanas, semangka, jeruk, markisa) 5.400 kg 112.800.000 3.384.000.000

Lainnya (cabai, bawang, tahu, tempe) 1.560 kg 108.000.000 3.240.000.000

Total kebutuhan bahan baku pangan per hari: Rp 514.200.000

Total per bulan: Rp 15.426.000.000

Angka ini hanya untuk bahan baku mentah. Beber Wakano


Lebih lanjut Wakano saat ditemui di salah satu warkop oleh sejumlah awak media menambahkan" Yang dijelaskan Belum termasuk biaya pengolahan, tenaga kerja dapur, logistik, penyimpanan dingin, dan margin keuntungan, Jika kita tambahkan semua komponen operasional katering, nilai kontrak harian bisa mencapai Rp 700-800 juta per hari, atau Rp 21-24 miliar per bulan. Jelasnya


Pasalnya" Rp 24 miliar per bulan hanya untuk makanan. Dalam setahun, hampir Rp 300 miliar berputar di sektor pangan saja.


Pertanyaan selanjutnya, Uang sebesar itu akan membeli pangan dari mana? Maluku, dengan segala kekayaan laut dan tanahnya, seharusnya mampu memasok kebutuhan ini. 


Namun kenyataan pahitnya, rantai pasok pangan di daerah timur Indonesia sering kali belum terintegrasi dengan baik. 


Petani dan nelayan lokal seringkali lebih memilih menjual hasil panen mereka ke tengkulak dengan harga murah karena akses pasar yang terbatas, sementara proyek besar justru mendatangkan bahan pangan dari luar daerah, lebih mahal, namun lebih terjamin pasokannya karena sudah terstandardisasi. Terang Wakano


Wakano mengatakan" Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa telah menyatakan dengan tegas, Kami tidak mau hanya menjadi penonton. 


Maluku harus terlibat secara maksimal dalam setiap tahapan pengembangan, Dan di sinilah peran strategis PT Maluku Energi Abadi (MEA) menjadi krusial, sebagai integrator konten lokal yang menghubungkan permintaan proyek dengan pasokan daerah.


Sebagai BUMD Maluku, PT MEA memiliki posisi tawar Istimewa, mereka adalah pemilik Participating Interest (PI) 10% dan didorong untuk menjadi integrator konten lokal.


Apa artinya?

PT MEA berperan sebagai penghubung antara operator proyek (INPEX, Pertamina, Petronas) dan ekosistem ekonomi lokal, Mereka tidak hanya memasok kebutuhan pangan, tetapi juga mengorganisir, membina, dan memberdayakan petani, nelayan, dan UMKM Maluku agar mampu memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan proyek.


Komitmen penggunaan konten lokal harus diwujudkan melalui keterlibatan aktif perusahaan daerah, pelaku usaha lokal, tenaga kerja asal Maluku, hingga pemanfaatan barang dan jasa lokal.  


Nilai potensi kebutuhan lokal diperkirakan mencapai Rp 97 triliun dari total investasi Rp 360 triliun, Artinya, jika PT MEA sukses menjalankan perannya, Rp 97 triliun akan mengalir ke kantong petani, nelayan, pengusaha transportasi, penyedia jasa, dan tenaga kerja lokal.


Bayangkan skenario ini:

PT MEA membuat kontrak jangka panjang dengan kelompok tani untuk memasok bayam, kangkung, kacang panjang, dan kol. 


Dengan kebutuhan 2.400 kg sayuran per hari, para petani tidak perlu lagi khawatir hasil panennya busuk sebelum laku, Mereka bisa merencanakan siklus tanam dengan pasti, mengakses pembiayaan perbankan, dan meningkatkan kualitas melalui pendampingan teknis dari PT MEA.


Kebutuhan ikan mencapai 900 kg per hari, Dengan permintaan konsisten ini, nelayan tradisional bisa meningkatkan skala tangkapan mereka, bahkan beralih dari sekadar penangkap menjadi pengolah, Armada penangkapan bisa bertambah, cold storage bisa dibangun, dan nilai tambah bisa dinikmati di desa.


Kebutuhan daging ayam potong 1.200 kg per hari dan daging sapi 600 kg per hari adalah angka yang sangat besar untuk skala lokal, PT MEA bisa menjadi katalis bagi pengembangan peternakan terintegrasi di Maluku, menciptakan lapangan kerja baru di sektor hulu peternakan.


Jika PT MEA berhasil mengoptimalkan pasokan lokal, maka setiap rupiah yang dibelanjakan untuk pangan tidak akan langsung menguap keluar daerah. 


Uang akan berputar di tingkat desa, dari petani ke toko pupuk, dari toko ke buruh angkut, dari nelayan ke perbaikan perahu, dan seterusnya. Inilah efek berganda yang sesungguhnya.


Namun narasi indah ini tidak akan terwujud dengan sendirinya, Ada beberapa batu sandungan yang harus diantisipasi: Proyek migas berskala internasional memiliki standar keamanan pangan yang sangat ketat. 


Petani dan nelayan lokal harus dibina agar mampu memenuhi standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dan sertifikasi lainnya. 


Tanpa pendampingan serius, mereka akan tersingkir oleh pemasok dari luar yang sudah mapan.


Proyek membutuhkan pasokan yang stabil setiap hari, Musim panen dan paceklik adalah realitas pertanian, PT MEA harus merancang sistem manajemen risiko yang matang, termasuk kontrak dengan beberapa kelompok tani di lokasi berbeda, penerapan teknologi pertanian modern, dan sistem penyimpanan yang memadai.


Harga bahan pangan fluktuatif. PT MEA harus memiliki mekanisme negosiasi harga yang adil bagi petani namun tetap kompetitif, Kontrak jangka panjang dengan formula harga yang jelas adalah solusi yang umum diterapkan.


Menteri Bahlil telah memperingatkan tegas, "Jangan main KKN, Jangan karena tim sukses terus kalian dorong (untuk proyek), enggak boleh, Harus profesional". 


Potensi penyalahgunaan wewenang dalam penunjukan pemasok adalah ancaman nyata yang harus diantisipasi dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel, Proyek Blok Masela adalah kesempatan emas yang mungkin tidak terulang bagi Maluku. 


Dengan nilai investasi setara setengah APBN dan multiplier effect yang dijanjikan, proyek ini bisa menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi Maluku atau menjadi monumen megah yang hanya meninggalkan debu di jalanan Tanimbar. Tutup Wakano (V374) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT