Back to Root, Mini Pagelaran Hotel Santika Premiere Ambon Ajak Menyelami Akar Budaya Maluku dan Indonesia - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar



Senin, 17 Agustus 2026

Back to Root, Mini Pagelaran Hotel Santika Premiere Ambon Ajak Menyelami Akar Budaya Maluku dan Indonesia


Ambon
, Globaltimurnn.com – Kekayaan budaya Maluku dan semangat persatuan Indonesia dikemas secara apik dalam sebuah pertunjukan seni bertajuk “Back to Root” yang digelar Hotel Santika Premiere Ambon dalam rangka pembukaan General Staff Meeting (GSM) 2nd Quarter 2026, Jumat (14/08/2026).


Mini Pagelaran yang berlangsung di The Ballroom Santika, Lantai 5 Hotel Santika Premiere Ambon, tersebut memadukan musik tradisional, tari, narasi, drama, animasi, multimedia, hingga nilai-nilai kebangsaan dalam sebuah pertunjukan yang sarat makna.


Mengusung tema “Back to Root”, pertunjukan ini merupakan kolaborasi Sales & Marketing Department dan Food & Beverage Service Department Hotel Santika Premiere Ambon.


Konsep pertunjukan tidak sekadar dirancang sebagai hiburan pembuka GSM, tetapi sebagai sebuah perjalanan emosional dan reflektif untuk mengajak penonton kembali menyadari dari mana mereka berasal, nilai apa yang diwariskan, serta bagaimana akar budaya dapat menjadi kekuatan untuk menatap masa depan.


Perjalanan tersebut dimulai dari kekayaan identitas Maluku, bergerak menuju semangat persatuan Indonesia, dan kemudian kembali pada nilai persaudaraan yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Maluku, yakni Gandong.


Pertunjukan diawali melalui segmen “The Mystical of Maluku”. Suasana Ballroom perlahan dibawa memasuki atmosfer budaya Maluku melalui bunyi Tahuri, Totobuang, dan Hio-Hio yang sarat simbol dan identitas.


Bunyi Tahuri menjadi salah satu pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan budaya Maluku. Melalui narasi yang mengiringi pertunjukan, penonton diajak memahami bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang tetap hidup dan relevan hingga saat ini.


Nuansa budaya kemudian semakin kuat melalui penampilan Kapata Henamasawaya, Cakalele, dan Tari Pata Cengkeh.


Gerak para penari, irama musik tradisional, serta dukungan visual membawa penonton menyelami kekayaan sejarah dan budaya Maluku sebagai bagian penting dari perjalanan panjang Nusantara.


Perjalanan kemudian bergerak dari Maluku menuju Indonesia melalui segmen “The Wonderland Indonesia”.


Video visual tentang Indonesia, tarian, narasi kebangsaan, hingga kehadiran Bendera Merah Putih membawa pesan bahwa keberagaman budaya bukanlah alasan untuk terpisah, tetapi justru menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa.


Salah satu momen emosional terjadi ketika Merah Putih dikibarkan, dilanjutkan dengan pembacaan Proklamasi. Seluruh penampil kemudian menundukkan kepala dalam suasana hening sebelum pertunjukan ditutup dengan seruan bersama: “Indonesia Merdeka!” Seruan tersebut disambut antusias oleh seluruh audiens.


Pesan itu terasa semakin relevan dengan momentum bulan Agustus, ketika masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.


Melalui “Back to Root”, penonton diingatkan bahwa kemerdekaan yang dirayakan hari ini tidak terlepas dari perjalanan panjang, identitas, perjuangan, serta keberagaman yang membentuk Indonesia.


Perjalanan pertunjukan mencapai puncaknya melalui segmen “Harmony in Gandong”.


Para penampil kemudian membentuk lingkaran besar bersama audiens. Doa Islam dan Kristen dihadirkan sebagai simbol keberagaman sekaligus keharmonisan yang hidup dalam masyarakat Maluku.


Pertunjukan ditutup dengan bernyanyi bersama antara seluruh penampil dan audiens dalam suasana penuh kehangatan.


Nilai Gandong, yang menggambarkan ikatan persaudaraan dan rasa memiliki sebagai satu keluarga, menjadi pesan terakhir yang ingin disampaikan kepada seluruh penonton.


Bentuk lingkaran yang menjadi bagian dari penutup pertunjukan juga memiliki makna tersendiri. Lingkaran menjadi simbol bahwa perjalanan untuk kembali kepada akar pada akhirnya membawa manusia kepada sesuatu yang paling mendasar, yakni kebersamaan.


Mini Pagelaran “Back to Root” merupakan hasil kolaborasi lintas talenta dari Sales & Marketing Department serta Food & Beverage Service Department Hotel Santika Premiere Ambon.


Pertunjukan tersebut dikembangkan oleh tim kreatif yang terdiri dari:

- Audra Pattiasina – Konseptor & Art  

  Director

- Cindy Sabarlele – Co-Director

- Prima Lulu – Music Arranger

- Jean Manuputty – Multimedia

- Clara Leleury – Videographer


Kolaborasi tersebut memadukan berbagai elemen seni pertunjukan, mulai dari musik tradisional Maluku, koreografi, narasi, tata cahaya, multimedia, hingga visual storytelling sehingga menghasilkan sebuah pengalaman pertunjukan yang utuh.


Audra Pattiasina selaku Konseptor dan Art Director Mini Pagelaran “Back to Root” mengatakan, konsep tersebut lahir dari keinginan untuk mengangkat budaya bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki hubungan emosional dengan kehidupan setiap orang.


“Back to Root bagi saya adalah sebuah perjalanan untuk kembali mengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang membuat kita tetap menjadi satu. Kita boleh tumbuh, berkembang, dan bergerak jauh ke depan, tetapi jangan pernah kehilangan akar yang membentuk identitas kita. Karena akar bukan sesuatu yang menahan kita untuk maju, justru akar yang kuat membuat kita mampu berdiri lebih kokoh,” ujar Audra.


Ia menambahkan, Maluku memiliki kekayaan budaya dan nilai persaudaraan yang sangat kuat untuk disampaikan kepada generasi masa kini.


“Kami ingin membawa penonton merasakan perjalanan dari Maluku, melihat keberagaman Indonesia, kemudian kembali kepada Gandong. Karena pada akhirnya, setelah semua perbedaan budaya, agama, dan latar belakang yang kita miliki, kita tetap memiliki satu kebutuhan yang sama—untuk hidup berdampingan, saling menghargai, dan menjadi satu keluarga. Itulah pesan yang ingin kami tinggalkan melalui Back to Root,” tambahnya.


Konsep pertunjukan yang dibangun secara bertahap berhasil menciptakan suasana yang dinamis.


Audiens diajak berpindah dari suasana misterius dan sakral pada awal pertunjukan, menikmati energi tarian tradisional, merasakan semangat kebangsaan saat Merah Putih dikibarkan, hingga akhirnya masuk dalam suasana reflektif dan penuh kehangatan pada bagian “Harmony in Gandong”.


Antusiasme audiens semakin terasa ketika seluruh penampil mengajak mereka terlibat langsung dalam bagian akhir pertunjukan.


Suasana Ballroom pun berubah menjadi ruang kebersamaan ketika penampil dan audiens bernyanyi bersama.


Bagi seluruh tim kreatif, respons tersebut menjadi salah satu bagian paling bermakna dari pertunjukan. Pada saat itu, batas antara penampil dan penonton seolah menghilang dan seluruh orang di dalam ruangan menjadi bagian dari cerita yang sama.


Melalui Mini Pagelaran “Back to Root”, Hotel Santika Premiere Ambon menunjukkan bahwa kegiatan internal perusahaan juga dapat menjadi ruang untuk merawat budaya, memperkuat identitas, sekaligus membangun rasa bangga terhadap warisan Maluku dan Indonesia.


Lebih dari sekadar pertunjukan, “Back to Root” menjadi sebuah pengingat bahwa untuk melangkah lebih jauh, terkadang manusia perlu kembali sejenak kepada akarnya—kepada budaya, nilai, persaudaraan, dan rumah yang membentuk siapa dirinya hari ini. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT