
Foto : Keindahan Berbeda Agama Yang Membawa Kedamaian dan Toleransi Yang Sangat Kuat Menjadi Contoh Nyata
Ambon, Globaltimurnn.com – Hangatnya suasana Halal Bihalal yang digelar Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Kei (PB AMKAY) Provinsi Maluku tak sekadar menjadi tradisi pasca-Idulfitri. Lebih dari itu, kegiatan ini menjelma menjadi cermin hidupnya nilai persaudaraan lintas iman yang telah lama berakar kuat di tengah masyarakat Kei di Maluku.
Ketua PB AMKAY Maluku, Mayor Derek Rahangiar, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan ruang perjumpaan yang mempererat tali kekeluargaan, khususnya bagi masyarakat Kei yang tersebar di Pulau Ambon dan sekitarnya.
“Ini bukan sekadar seremoni, tapi momentum untuk menyatukan kembali rasa persaudaraan dalam bingkai kebersamaan,” ujarnya usai kegiatan, Senin (27/04/2026).
Mengusung tema “Sucikan Hati dalam Merajut Silaturahmi dalam Kebersamaan,” acara ini menjadi refleksi spiritual sekaligus sosial. Setelah menjalani Ramadan dan merayakan Idulfitri, masyarakat diajak kembali pada nilai dasar: saling memaafkan, merangkul perbedaan, dan menjaga harmoni.
Yang menarik, Halal Bihalal ini tidak hanya melibatkan umat Muslim. Warga Kristen turut ambil bagian aktif, bahkan menjadi panitia pelaksana. Sebaliknya, saat perayaan Natal, umat Muslim juga berperan serupa. Pola ini bukan hal baru, melainkan tradisi yang terus dijaga.
“Di sini, toleransi bukan sekadar wacana. Kami hidupkan dalam tindakan nyata,” tegas Derek.
Ia menyebut PB AMKAY sebagai ruang persaudaraan yang unik tempat di mana sekat agama melebur dalam nilai kebersamaan. Semangat ini juga menjangkau berbagai wilayah di Pulau Ambon, termasuk kawasan administratif di Kabupaten Maluku Tengah seperti Leihitu dan Salahutu.
“Dalam setiap situasi, baik suka maupun duka, kami hadir bersama. Itulah makna persaudaraan bagi kami,” tambahnya.
Senada dengan itu, Sekretaris PB AMKAY, Muhamat Borut, menilai bahwa nilai toleransi masyarakat Kei bukanlah sesuatu yang baru dibangun, melainkan warisan leluhur yang terus dijaga dan kini dikembangkan dalam skala yang lebih luas.
Menurutnya, kekuatan utama terletak pada praktik langsung di lapangan di mana umat berbeda agama saling mendukung dalam setiap kegiatan keagamaan.
“Ini bukan sekadar konsep, tapi budaya hidup yang terus kami rawat,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan refleksi menarik tentang posisi masyarakat Kei dalam konteks toleransi.
“Kalau dunia ingin belajar rekonsiliasi, lihat Indonesia. Jika Indonesia bicara toleransi, datang ke Maluku. Dan kalau Maluku ingin menunjukkan contoh terbaik, belajarlah dari masyarakat Kei,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, PB AMKAY terus menghidupkan filosofi Ain Ni Ain sebuah nilai luhur yang menegaskan bahwa semua orang bersaudara. Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, semangat ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kedamaian.
“Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, justru menjadi kekuatan untuk hidup berdampingan. Karena pada akhirnya, damai itu indah,” tutup Muhamat. (Za)


