
Foto : Ide Besar AKBP (Purn) Ir. Untung Sangadji, Rekonfigurasi Pelabuhan Ke Ambon Justru Menguntungkan SBB
Ambon, Globaltimurnn.com - Pagi itu, suara telepon berderak bukan sekadar membawa kabar sapaan, Ia membawa sebuah mimpi besar yang dingin, terukur, dan penuh perhitungan.
Di ujung saluran, suara AKBP (Purn) Ir. Untung Sangadji, seorang anak bangsa dari Kabupaten Seram Bagian Barat, bukan sebagai perwira polisi dengan atribut kebanggaan, melainkan sebagai seorang problem solver.
Beliau bukanlah tipikal pensiunan yang beristirahat di teras rumah. Ia adalah kombinasi langka antara seorang pendekar (silat, kungfu, samurai), penembak jitu, pemanah, dan insinyur.
Tapi di luar semua kehebatan fisik itu, ada satu senjata paling mematikannya yaitu ilmu terapan, Beliau mampu mengalirkan listrik dari derasnya sungai, menghadirkan air minum berstandar SNI dari bahan sederhana, dan menyulap limbah lokal menjadi kerajinan bernilai ekonomi.
Ada salah satu episode yang telah membuktikan kapasitasnya terjadi di Merauke, Di tanah dengan pH air yang sangat rendah yang lazimnya membunuh biota air tawar, beliau justru berhasil menaikkan kualitas air hingga layak untuk budidaya.
Puluhan ribu ekor bandeng dan bawal tumbuh subur. Itu bukan sulap itu sains dan pengalaman lapangan yang mendarah daging. Padahal beliau seorang anggota Polisi, seorang Kapolres saat itu.
Hari ini, beliau memfokuskan detak jantung terakhir pengabdiannya pada tanah kelahiran, Kabupaten SBB, Maluku, Bukan tanpa alasan, Data maritim yang beliau kumpulkan sendiri didukung kajian pakar kelautan menunjukkan bahwa SBB memiliki potensi tekanan air (debit andalan) yang luar biasa.
Cukup untuk menggerakkan 10.000 hektare tambak dan keramba.
Bayangkan, Sepuluh ribu hektare, Angka yang bukan hanya mengubah peta ekonomi SBB, tapi berpotensi menjadikan SBB sebagai sentra produksi perikanan nasional, bahkan pesaing utama Asia Tenggara.
Selama ini, Maluku lebih dikenal sebagai pemasok ikan tangkap. Namun musim paceklik dan overfishing adalah ancaman nyata, Maka, budidaya adalah jawabannya.
Dan inilah titik bedanya, Pak Untung tidak hanya berteori, Beliau telah menguji langsung kualitas air di SBB, Hasilnya? Layak, Bahkan dengan rekayasanya, air dengan pH marginal bisa dinaikkan menjadi produktif, Teknologi yang dulu ia buktikan di Merauke, kini siap di-replikasi di kampung halaman.
Dalam diskusi terbatas pagi itu, beliau menyebut satu nama, seorang konglomerat nasional yang telah menyatakan minat serius untuk berinvestasi di sektor perikanan SBB, Ini bukan isapan jempol, Minat investor besar muncul karena tiga hal; (1) jaminan teknis dari pakar sekelas Pak Untung, (2) potensi lahan masif, dan (3) pasar ekspor yang terbuka lebar.
Dalam perencanaan tata ruang lalu, wacana pengembangan pelabuhan besar sempat mengarah ke Waisarisa, Kabupaten SBB. Secara geografis, lokasi ini sangat strategis sebagai pintu keluar-masuk komoditas dari kawasan timur Maluku, Namun, dalam dinamika kebijakan yang didasarkan pada kajian keterpaduan jaringan, skala prioritas investasi, serta efektivitas konektivitas antarpulau, proyek pelabuhan utama tersebut kemudian diputuskan untuk diarahkan ke Pulau Ambon.
Keputusan ini merupakan sebuah rekonfigurasi peran, Dalam logistik maritim, tidak semua wilayah harus menjadi pelabuhan utama, Justru, kekuatan sebuah kawasan terletak pada bagaimana ia dapat terintegrasi secara efisien dengan simpul-simpul utama.
Di sinilah letak kecerdasan teknis AKBP (Purn) Ir. Untung Sangadji, Beliau tidak membaca pemindahan ini sebagai kerugian, melainkan sebagai peluang besar untuk membangun sistem logistik yang lebih ramping dan terfokus.
Visi beliau adalah menjadikan SBB sebagai production hub yang terhubung dengan main port di Ambon melalui jaringan kapal feeder terjadwal, Dengan pola ini, biaya logistik justru dapat ditekan karena SBB tidak perlu membangun dan memelihara infrastruktur pelabuhan kelas internasional yang mahal, cukup dengan pelabuhan pengumpul yang fungsional dan efisien.
Lebih dari itu, keyakinan teknis Pak Untung berdiri pada satu prinsip ekonomi yang tak terbantahkan, ketika volume produksi mencapai skala ekonomi tertentu, infrastruktur akan mengikuti, bukan sebaliknya, Dengan potensi 10.000 hektare lahan budidaya, dengan produksi puluhan ribu ton ikan per tahun, maka secara alamiah akan muncul kebutuhan akan dermaga khusus perikanan, cold storage, dan fasilitas ekspor mandiri. Ekonomi akan berbicara lebih keras dari birokrasi.
Maka, alih-alih menyesali pelabuhan yang bergeser, SBB justru sedang membangun fondasi yang lebih kokoh, menjadi produsen utama, bukan sekadar transit, Dan dalam peta besar pembangunan Maluku, sinergi antara pusat produksi di SBB dengan pintu gerbang distribusi di Ambon adalah sebuah masterpiece konektivitas yang selama ini hanya ada di kertas, kini mulai menemukan wujudnya.
Narasi ini bukan untuk merendahkan kinerja BUpati SBB dan jajarannya, Tapi harus jujur, selama ini kinerja bupati SBB di bidang ekonomi kerakyatan dan pemanfaatan potensi lokal dinilai banyak kalangan kurang tajam, Ada keragu-raguan, kurang terobosan, dan minimnya pendekatan teknologi.
Kehadiran ide besar dari Untung Sangadji yang sudah berdialog langsung dengan investor adalah sebuah titik balik, Ini adalah peta jalan yang tinggal dieksekusi, Sehingga apabila ide ini terlaksana maka tugas bupati bukan lagi menciptakan ide dari nol, melainkan menjadi fasilitator yang mengurus perizinan lahan, menjaga stabilitas sosial, dan menjadi jembatan antara pemerintah provinsi dengan pusat, Ini adalah kesempatan emas untuk meninggalkan warisan nyata.
Dengan mendukung penuh pengembangan kawasan minapolitan SBB, beliau tidak hanya mengamankan ketahanan pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja massal mengentaskan kemiskinan di salah satu kabupaten tertinggal di Maluku.
AKBP (Purn) Ir. Untung Sangadji tidak lagi membawa pistol atau pedang samurai, Senjata barunya adalah ilmu, integritas, dan keberanian untuk bermimpi besar, Beliau telah membuktikan di Merauke dan Aceh, Beliau telah menguji di SBB, Kini giliran kita semua pemerintah, swasta, dan Masyarakat untuk tidak hanya mendengar, tapi bergerak.
Kabupaten SBB bukan lagi cerita tentang pelabuhan yang gagal, Ia akan menjadi cerita tentang bagaimana seorang purnawirawan polisi yang jago silat dan kungfu, justru mengajarkan kita seni bela diri tertinggi, membela masa depan rakyatnya dengan kerja nyata, Selamat datang, revolusi biru dari Timur Indonesia. (V374)



