
Foto : Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa
Ambon, Globaltimurnn.com - Ada jenis kepemimpinan yang lahir dari ruang ber-AC, penuh angka-angka politik dan janji manis, Namun ada pula jenis kepemimpinan yang lahir dari luka di daerah, dari utang yang diwariskan tanpa malu, dan dari beban yang tak semestinya ia pikul sendirian, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, adalah tipe pemimpin yang kedua.
Banyak yang tidak tahu, Pemimpin daerah ini mulai bertugas bukan dengan pesta, melainkan dengan duka defisit yang ditinggalkan masa lalu, Hutang macet yang semestinya dilunasi oleh periode sebelumnya, nyata-nyata membelenggu kas daerah.
Sejumlah proyek tertahan, Operasional pemerintahan terancam, Namun di tengah sesak itu, ia tidak memilih media sebagai tempat curhat, Ia memilih meja kerja, kalkulator, dan keberanian untuk memangkas habis belanja yang tidak esensial, Ia tidak merayakan pelantikan gubernur dengan dana kas daerah yang memebani, ia menggunakan dana pribadi untuk acara pelantikannya, Ia restrukturisasi utang secara diplomatis dan teknis dalam diam, Ia memastikan gaji pegawai tak telat, program dasar rakyat tetap berjalan, dan kepercayaan publik tidak runtuh.
Inilah seni bertahan yang tak diajarkan di sekolah tinggi mana pun, memerintah di atas puing-puing fiskal, namun tetap membangun istana harapan.
Namun prestasi sebesar apa pun di atas kertas akan luntur jika tidak dibumikan, Dan di sinilah Gubernur Hendrik Lewerissa menuliskan sejarah yang tak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.
Sejarah mencatat, semenjak Indonesia merdeka, tak pernah ada seorang gubernur pun yang pernah menginjakkan kaki di pedalaman desa di Kecamatan Inamosol, bahkan Bupatipun belum pernah menginjakan kakinya di daerah ini, sungguh miris! Medannya ekstrem. Jalan tak layak, Sinyal tak ada, Waktu seolah berhenti.
Namun beliau datang. Bukan dengan konvoi mewah, bukan dengan karpet merah, bukan pula dengan janji yang menguap, Ia datang dengan sepatu berlumpur, menumpangi mobil 4x4 tua yang dikemudikan oleh Thomas Sahetapy seorang sopir mobil angkot yang sering melayani masyarakat di pegunungan.
Didesa Rumberu ia duduk di kursi kayu yang reyot, mendengar isak tangis ibu-ibu yang anaknya belum pernah melihat pejabat setingkat gubernur seumur hidup mereka, Ia datang bukan untuk foto dan pencitraan, tapi untuk mendengar suara hati masyarakat desa.
Dan yang lebih penting dari sekadar mendengar adalah aksi nyata yang langsung ia kerjakan, Tidak ada jeda panjang, tidak ada birokrasi bertele-tele, Tiga hari setelah kunjungan bersejarahnya pada tanggal 22 Maret 2026, tepatnya pada tanggal 25 Maret 2026, Dinas PUPR bersama Balai Jalan dan Jembatan sudah turun ke lapangan untuk melakukan survei menyeluruh di Kecamatan Inamosol.
Mereka memetakan satu per satu ruas jalan yang rusak, menjembatani mana yang ambruk, dan titik-titik mana yang selama puluhan tahun telah membuat warga terisolasi dari dunia luar. Beliau tidak berhenti di situ.
Dengan cepat, Gubernur Lewerissa langsung berkoordinasi dengan kementerian terkait di Jakarta, Ia mengajukan secara khusus agar perbaikan jalan di Inamosol masuk dalam skema proyek jalan Inpres, sebuah program strategis nasional yang peruntukannya sangat selektif, Ia memperjuangkan Inamosol, wilayah yang selama ini menjadi titik buta pembangunan, untuk pertama kalinya mendapatkan alokasi anggaran dari pusat.
Ini bukan sekadar janji kampanye. Ini adalah kecepatan reaksi seorang pemimpin yang benar-benar hadir. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir dalam kebijakan, hadir dalam keputusan, dan hadir dalam aksi nyata yang mengubah hidup rakyatnya.
Itu bukan sekadar kunjungan kerja. Itu adalah penebusan dosa sejarah yang dilakukan oleh satu-satunya gubernur yang berani masuk dan kemudian segera bertindak untuk membangun tempat yang bahkan tak berani disebut dalam laporan pembangunan selama puluhan tahun.
Di luar itu semua, mari kita lihat fakta-fakta lainnya. Dalam kurun waktu kepemimpinannya yang masih kurang dari 2 tahun, sejak Februari 2025 hingga April 2026, Gubernur Hendrik Lewerissa telah berhasil mencatatkan sejumlah prestasi yang patut dicatat, baik keberhasilan fisik maupun non fisik.
Keberhasilan Non-Fisik:
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Maluku mencapai 5,54 persen secara tahunan di bawah kepemimpinannya, Angka ini melampaui rata-rata nasional yang tercatat 5,39 persen.
Ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa kebijakan fiskal yang prudent dan penguatan sektor unggulan berbasis kelautan mulai membuahkan hasil.
IPM Maluku tahun 2025 meningkat menjadi 74,09 poin dari sebelumnya 73,40 poin pada 2024,Kenaikan ini membawa Maluku masuk dalam kategori Tinggi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah tekanan efisiensi anggaran nasional, Gubernur Lewerissa memastikan pengelolaan APBD dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab, Setiap rupiah dibelanjakan untuk manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Melalui penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), inflasi Maluku tetap terjaga dalam rentang target nasional, menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Salah satu terobosan penting adalah penerapan sistem meritokrasi dalam pengisian jabatan eselon II, memastikan hanya pejabat berkapasitas dan berintegritas yang menduduki posisi-posisi kunci.
Keberhasilan Fisik
Proyek migas raksasa di Kabupaten Kepulauan Tanimbar akan memasuki tahap konstruksi, diperkirakan akan menyerap 15.000 hingga 20.000 tenaga kerja saat beroperasi penuh, dengan prioritas bagi putra-putri daerah.
Pembangunan Pasar Batu Merah di Kota Ambon ditargetkan selesai dalam 18 bulan, dilengkapi 597 kios dan delapan unit pujasera, mengusung konsep waterfront city yang modern dan ramah.
Program bedah rumah di Maluku melonjak dari hanya 81 unit pada tahun 2025 menjadi 2.998 unit pada tahun 2026, sebuah lompatan yang luar biasa dalam pemenuhan hak dasar atas hunian layak.
Prioritas utama diberikan pada transformasi 19 pulau kecil terluar di Maluku menjadi "sabuk kemakmuran" pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus titik pertahanan maritim.
Pendekatan baru yang menyatukan kebijakan ekonomi, infrastruktur, dan keamanan laut, dengan penindakan tegas terhadap penangkapan ikan ilegal serta pemberdayaan masyarakat pesisir.
Di tengah semua kebisingan politik yang mencoba merendahkan, satu fakta tetap berdiri kokoh, Hanya satu gubernur dalam sejarah kemerdekaan Indonesia yang menyentuh tanah Inamosol.
Hanya satu yang memikul utang masa lalu namun tak pernah mengeluh di depan publik, justru membawa pertumbuhan ekonomi melampaui nasional, IPM naik ke kategori tinggi, dan meluncurkan proyek-proyek raksasa yang akan mengubah wajah Maluku untuk generasi mendatang. Namanya Hendrik Lewerissa.
Dia mungkin tak banyak bicara. Tapi sejarah, waktu, data BPS, aksi nyata di Inamosol, dan hati rakyat Maluku khususnya mereka yang di pinggiran telah bersaksi bahwa Dia adalah pemimpin yang datang ketika semua jalan buntu, dan pergi meninggalkan jejak yang takkan pernah mati. (V374)