
Foto : BATTLE OF AHIOLO DAN PERJANJIAN PERDAMAIAN TAHUN 1821
Ambon, Globaltimurnn.com - Sejarah Battle of Ahiolo atau yang dikenal dalam cerita sejarah masyarakat sebagai Perang Tiga Tahun (1819–1821) merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan masyarakat adat yang tergabung dalam persekutuan negeri-negeri Yapiopatai.
Perang ini merupakan perang perlawanan masyarakat adat terhadap Pemerintah Kolonial Belanda yang terjadi di wilayah Ahiolo dan sekitarnya, dan berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, yaitu dari Tahun 1819 sampai dengan Tahun 1821.
Menurut sejarah lisan masyarakat Yapiopatai, asal-usul terjadinya Perang Ahiolo bermula pada bulan April Tahun 1819 ketika Pemerintah Kolonial Belanda melakukan penangkapan terhadap Raja Ahiolo Latu Latekay beserta Adiknya.
Setelah ditangkap, Raja Ahiolo dan saudaranya kemudian diasingkan dan dibuang ke Pulau Banda oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Penangkapan dan pembuangan Raja Ahiolo tersebut menimbulkan kemarahan besar dari masyarakat, karena dalam struktur masyarakat adat, Raja bukan hanya sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga sebagai pemimpin adat dan simbol kedaulatan negeri.
Penangkapan Raja Ahiolo tersebut kemudian menjadi pemicu utama perlawanan masyarakat adat.
Mendengar peristiwa tersebut, negeri-negeri yang tergabung dalam persekutuan Yapiopatai kemudian berkumpul dan mengadakan musyawarah adat untuk menentukan sikap terhadap tindakan Pemerintah Kolonial Belanda.
Dari musyawarah adat tersebut, disepakati bahwa negeri-negeri Yapiopatai harus bersatu untuk melakukan perlawanan.
Negeri-negeri yang tergabung dalam persekutuan masyarakat adat Yapiopatai terdiri atas:
- Ahiolo
- Abio
- Tala
- Waraloin
- Sahulau
- Masalepune
- Poklowoni
Setelah adanya kesepakatan adat, masyarakat dari negeri-negeri tersebut kemudian bersatu dan melakukan penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda yang berada di wilayah pesisir Tala.
Penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda tersebut menjadi awal dari perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Ahiolo atau Perang Tiga Tahun.
Melihat perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Yapiopatai semakin besar dan meluas, Pemerintah Kolonial Belanda kemudian mengirimkan ekspedisi militer untuk menghentikan perlawanan tersebut.
Ekspedisi militer Belanda dilakukan dengan kekuatan militer yang besar dan dengan tujuan untuk menguasai wilayah-wilayah negeri yang melakukan perlawanan serta menangkap para pemimpin perlawanan.
Namun selama kurang lebih tiga tahun peperangan berlangsung, Pemerintah Kolonial Belanda tidak berhasil sepenuhnya menguasai wilayah perlawanan masyarakat Yapiopatai.
Hal ini disebabkan karena masyarakat Yapiopatai melakukan perlawanan secara bersatu, menggunakan strategi perang wilayah, serta memanfaatkan kondisi geografis yang mereka kuasai dengan baik.
Dalam peperangan tersebut, pihak militer Belanda mengalami kerugian yang cukup besar, baik dari segi kekuatan militer maupun logistik.
Perang yang berlangsung selama tiga tahun tersebut kemudian dikenal dalam sejarah masyarakat sebagai Perang Tiga Tahun (1819–1821) atau Battle of Ahiolo, karena pusat perlawanan, pusat musyawarah adat, dan pusat pertemuan dengan pihak Belanda berada di Negeri Ahiolo.
Setelah perang berlangsung selama tiga tahun dan menimbulkan kerugian di kedua belah pihak, pada Tahun 1821 Ratu Belanda kemudian mengirim utusan untuk bertemu dengan para Raja dan para tatatua dari negeri-negeri yang tergabung dalam persekutuan Yapiopatai.
Pertemuan tersebut dilaksanakan di Negeri Ahiolo dengan tujuan untuk mengakhiri peperangan dan mencari jalan perdamaian antara Pemerintah Kolonial Belanda dan masyarakat Yapiopatai.
Setelah melalui perundingan antara utusan Pemerintah Kolonial Belanda dengan para Raja dan tatatua negeri-negeri Yapiopatai, maka pada bulan Oktober Tahun 1821 disepakati Perjanjian Perdamaian antara kedua belah pihak.
Perjanjian Perdamaian tersebut kemudian mengakhiri Perang Tiga Tahun (1819–1821).
Perjanjian Perdamaian Tahun 1821 menjadi peristiwa penting dalam sejarah masyarakat Yapiopatai, karena melalui perjanjian tersebut perang berakhir dan negeri-negeri adat Yapiopatai tetap diakui keberadaannya sebagai negeri adat yang memiliki adat, wilayah, dan pemerintahan adat masing-masing.
Perang Ahiolo atau Perang Tiga Tahun (1819–1821) bukan hanya merupakan peristiwa perang melawan kolonial, tetapi juga merupakan peristiwa persatuan adat dari negeri-negeri yang tergabung dalam Yapiopatai.
Perang ini menjadi simbol persatuan, keberanian, dan perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah, adat, dan kedaulatan negeri. (Tim/Red)
