Jangan Jadikan MIP Di Maluku Proyek Mangkrak Berikutnya, Johny Rondonuwu : Belajar Dari Kertajati - globaltimurnn.com


Selasa, 24 Maret 2026

Jangan Jadikan MIP Di Maluku Proyek Mangkrak Berikutnya, Johny Rondonuwu : Belajar Dari Kertajati

Foto :  Jangan Jadikan MIP Di Maluku Proyek Mangkrak Berikutnya, Johny Rondonuwu : Belajar Dari Kertajati

Jakarta
, Globaltimurnn.com - Saya telah menghabiskan lebih dari dua dekade hidup saya di dermaga, di terminal peti kemas, di ruang-ruang rapat bersama shipping line global, dan di lokasi-lokasi pembangunan pelabuhan besar di Indonesia. 


Saya yang memimpin pengembangan terminal peti kemas terbesar di Indonesia, Saya yang membawa standar operasional pelabuhan Indonesia ke level internasional. Ungkap Kapten Johny Rondonuwu kepada Media ini lewat pesan whatsapp-nya pagi tadi


Dikatakan-nya" Saya tahu persis apa yang membuat sebuah pelabuhan itu hidup, dan apa yang membuatnya mati sia-sia.


Dan dengan segala otoritas yang saya miliki sebagai praktisi pelabuhan Indonesia yang telah membuktikan diri, saya ingin menyampaikan satu hal kepada masyarakat Maluku dengan kata-kata yang tidak perlu ditafsir dua kali BERHENTILAH MEMBELA NARASI BODOH YANG INGIN MEMAKSAKAN PELABUHAN INTEGRATED DI PULAU SERAM!


Saya tidak main-main, Saya tidak sedang berteori, Saya bicara dengan data yang saya kuasai, dengan pengalaman yang saya jalani, dan dengan fakta-fakta di lapangan yang tidak bisa dibantah. Tuturnya


Rondonuwu juga menambahkan" Karena jika kalian terus membiarkan narasi ini berkembang, kalian sedang menggali kubur untuk ekonomi Maluku sendiri. 


Dan ketika kubur itu sudah jadi, yang menangis bukan para pengkrikit kebijakan gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, mereka akan cari proyek lain untuk digerogoti, Yang menangis adalah petani dan nelayan di seluruh Maluku, dan anak cucu kalian yang harus membayar utang proyek mangkrak selama tiga puluh tahun.


Dalam setiap proyek infrastruktur pelabuhan, ada satu tahapan yang tidak pernah, dilewati tanpa kehati-hatian tingkat dewa yaitu STUDI KELAYAKAN. Sebutnya


Rondonuwu juga mengatakan" Studi kelayakan bukan dokumen formalitas yang disusun untuk memenuhi persyaratan administratif, Studi kelayakan adalah kitab suci dalam pembangunan infrastruktur. 


Di dalamnya terkandung perhitungan arus peti kemas 20 - 30 tahun ke depan, proyeksi volume kargo dengan skenario optimis dan pesimis, analisis pasar yang menjadi target ekspor, kelayakan finansial dengan berbagai skenario suku bunga, hingga analisis risiko paling buruk, termasuk skenario di mana proyek itu gagal total.


Menurutnya" Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa telah melakukan sesuatu yang jarang dilakukan pemimpin daerah di negeri ini, dimana beliau memerintahkan studi kelayakan ulang untuk proyek Maluku Integrated Port (MIP) di Waisarisa, Pulau Seram, Dan hasilnya? Dari lembaga yang benar-benar berpengalaman di bidang port dan shipping, hasilnya terang-benderang TIDAK LAYAK.


Sekarang saya mendengar ada pihak-pihak yang menyerang Gubernur katanya memindahkan proyek tersebut dari pulau Seram ke pulau Ambon. Mereka membangun opini bahwa ini keputusan politis, bukan teknis. Jelas Rondonuwu


Saya mau tanya dengan nada yang tidak perlu basa-basi SIAPA ANDA YANG LEBIH PAHAM DARI LEMBAGA STUDI KELAYAKAN INDEPENDEN YANG BERBICARA ATAS NAMA ILMU DAN DATA?


Kalian pikir mereka tidak memperhitungkan potensi bumi dan hasil laut Seram? Kalian pikir mereka buta dengan potensi sumber daya alam di sana? Mereka sudah menghitung semua itu. Mereka sudah memproyeksikan skenario terbaik sekalipun. Dan kesimpulan mereka tetap TIDAK LAYAK! Ucapnya


Di negara maju, ketika studi kelayakan mengatakan tidak layak, proyek dihentikan, Tidak ada perdebatan, Tidak ada serangan politik, Tidak ada kelompok masyarakat yang dibodohi dengan narasi sentimental, Itu sudah menjadi etika profesional yang tidak bisa ditawar. Terangnya


Tapi di negara kita tercinta Indonesia, justru yang berani menghentikan proyek yang tidak layak yang diserang habis-habisan, Sementara yang memaksakan proyek yang berpotensi mangkrak seperti yang kita lihat di Kertajati dipuji sebagai konsisten dan tegas. Ini bukan sekadar dunia terbalik. Ini adalah cara pembangunan yang sedang membunuh masa depan anak cucu kita. Ucapnya


Kata Rondonuwu" Ini faktanya, dan catat baik-baik BANDARA PATTIMURA, SATU-SATUNYA AIRPORT KOMERSIAL YANG LAYAK YANG BEROPERASI DI PROVINSI MALUKU, BERADA DI PULAU AMBON, BUKAN DI PULAU SERAM. 


Saat ini belum ada bandara di Seram yang layak dikatakan sebagai bandara komersial. Tidak ada. Nol. Jadi fakta ini tidak akan berubah dalam 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan. Jelasnya


Sekarang, mari kita baca judul proyeknya dengan saksama MALUKU INTEGRATED PORT, Kata INTEGRATED itu bukan hiasan, Maknanya adalah pelabuhan ini dirancang untuk terintegrasi dengan moda transportasi lain terutama udara untuk menciptakan efisiensi logistik yang maksimal.


Dalam konsep integrated port, barang yang datang dari kapal bisa langsung masuk ke pesawat tanpa jeda, tanpa bongkar-muat ganda, tanpa biaya tambahan, tanpa risiko kerusakan akibat perpindahan moda yang tidak efisien.


Sekarang, coba jawab dengan jujur, Jika MIP dibangun di Waisarisa, Pulau Seram, sementara satu-satunya bandara yang layak tetap berada di Pulau Ambon, lalu bagaimana anda mengintegrasikan pelabuhan dengan bandara? Jawabannya sederhana, jujur, dan tidak bisa dipelintir TIDAK BISA. Karena antara Seram dan Ambon dipisahkan oleh lautan. 


Jadi, setiap komoditas yang membutuhkan akses udara dan ini mencakup hampir semua komoditas bernilai tinggi seperti ikan segar, produk hasil laut serta produk pertanian perishable lainnya harus melakukan perjalanan logistik yang panjang dan mahal, 

Seperti ini ini alur perjalanan barang: Kebun atau perairan di Seram > Truk atau kapal kecil ke Pelabuhan Waisarisa → Bongkar di MIP Seram → Muat ke kapal lagi → Menyeberangi lautan Seram-Ambon → Bongkar lagi di Pelabuhan Ambon → Muat ke truk → Masuk Bandara Pattimura. 


Dalam bahasa logistik maritim disebut DOUBLE HANDLING, Dan dalam ilmu yang saya tekuni, double handling bukan sekadar inefisiensi, Double handling adalah PEMBUNUH EFISIENSI, PEMBUNUH DAYA SAING, DAN PEMBUNUH MARGIN PETANI DAN NELAYAN.


Rondonuwu mengatakan" tidak ada integrated port yang berdiri di atas fondasi double handling, Itu adalah kontradiksi istilah. Itu adalah omong kosong.


Bayangkan seorang nelayan di Seram Timur menangkap ikan tuna segar, Ikan ini bernilai tinggi di pasar ekspor Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Tapi ikan segar tidak bisa menunggu. Setiap jam keterlambatan mengurangi kualitas, Setiap kali dibongkar-muat, ada risiko kerusakan. Setiap kali berpindah moda, ada biaya.


Perhatikan rute yang harus dilalui ikan dan hasil laut serta produk perhisable jika MIP dipaksakan di Seram, Dari kapal nelayan / petani ke Tempat Pelelangan di Seram Biaya transportasi laut kecil, masih wajar.  


Dari TPI Seram Timur atau Tengah ke Pelabuhan MIP Waisarisa Jarak bisa mencapai 300 kilometer, Biaya truk pendingin Rp 5 juta per ton, 

Bongkar di MIP Waisarisa Biaya bongkar dengan alat berat, tenaga kerja, dan administrasi Rp 500 ribu - 1 juta per ton, Ikan disimpan di cold storage MIP Waisarisa (pun jika ada, dan itupun belum tentu beroperasi optimal karena volume belum tentu cukup) Biaya penyimpanan Rp 200-500 ribu per hari per ton, Jika menunggu jadwal kapal menyeberang, bisa 1-2 hari hingga muatan memadai.


Muat ke kapal untuk menyeberang ke Ambon Biaya muat Rp 500 ribu per ton, Kapal menyeberang dari Seram ke Ambon Biaya angkut laut Rp 500 ribu per ton, Bongkar di Pelabuhan Ambon Biaya bongkar Rp 500 ribu per ton, Muat ke truk pendingin menuju Bandara Pattimura, Biaya truk Rp 1 juta per truk, Masuk bandara, ekspor via udara, Biaya handling bandara Rp 1 juta per ton.


TOTAL BIAYA TAMBAHAN SEBELUM IKAN SAMPAI KE BANDARA Rp 10.000.000 PER TON, 

Itu belum termasuk biaya produksi (bensin, es, tenaga kerja nelayan) dan biaya ekspor via udara, Itu hanya biaya LOGISTIK ANTAR PULAU karena MIP dan bandara terpisah oleh lautan.


Sekarang bandingkan dengan skenario jika MIP dibangun di Ambon satu-satunya tempat di Maluku yang memiliki bandara dengan sistem feeder yang efisien di Seram.

1. Ikan dari kapal nelayan di Seram Timur langsung dibawa ke dermaga feeder di Seram (dibangun di lokasi yang dekat dengan sentra produksi, bukan dipaksakan di satu titik yang jauh) Biaya transportasi laut kecil, masih wajar.

2. Kapal feeder cepat langsung menuju Pelabuhan MIP Ambon → Biaya feeder (sudah termasuk bongkar muat di dermaga feeder dan bongkar di MIP Ambon) 1 juta per ton.

3. Di MIP Ambon, cold storage terintegrasi langsung dengan Bandara Pattimura. Ikan masuk dari kapal feeder, langsung masuk ke cold storage terintegrasi, lalu langsung siap ekspor, Tidak ada bongkar-muat ganda, Tidak ada biaya tambahan antar pulau, Tidak ada risiko kerusakan akibat perpindahan berlebihan.


TOTAL BIAYA TAMBAHAN: Rp 3.500.000 JUTA PER TON.  SELISIHNYA Rp 10.000.000 – 3.500000 = 6.500.000 PER TON.


Sekarang, mari kita kalikan dengan volume ekspor Maluku, Dalam satu tahun, jika Maluku mengekspor 20.000 ton ikan segar bernilai tinggi, maka KERUGIAN YANG DITIMBULKAN OLEH KEPUTUSAN MEMAKSAKAN MIP DI SERAM BISA MENCAPAI Rp 130 MILYAR RUPIAH PER TAHUN.


Dan kerugian ini akan ditanggung oleh siapa? Hayo, siapa?

PETANI, NELAYAN, EKSPORTIR KECIL MENENGAH, DAN AKHIRNYA RAKYAT MALUKU SENDIRI YANG HARUS MEMBAYAR MAHAL KEBUTUHAN POKOK KARENA BIAYA LOGISTIK YANG MELAMBUNG.


Sementara yang untung siapa? Mungkin oknum-oknum tertentu yang mendapat proyek pembangunan pelabuhan megah yang kemudian mangkrak, Mungkin segelintir orang yang mengambil keuntungan dari inflasi biaya konstruksi, Tapi rakyat? Rakyat hanya mendapat utang dan kekecewaan.


Saya pernah bekerja dengan perusahaan shipping line global seperti Maersk, MSC, CMA CGM, dan PIL, Saya tahu persis cara berpikir mereka, Dan saya katakan dengan tegas MEREKA TIDAK PEDULI DENGAN ROMANTISME ATAU TEKANAN POLITIK, Yang mereka pedulikan hanya satu EFISIENSI BIAYA PER PETI KEMAS.  Mereka memiliki kriteria yang sangat ketat untuk menentukan port of call pelabuhan mana yang akan mereka singgahi secara regular.


Kapal besar tidak mau buang waktu, Mereka menghitung setiap jam keterlambatan sebagai kerugian, Jika kapal harus berlayar ke Seram terlebih dahulu, lalu ke Ambon, atau sebaliknya, turnaround time akan membengkak, Biaya bahan bakar bertambah, Biaya sewa kapal bertambah, Akibatnya MEREKA AKAN LEWATI SERAM, Mereka akan tetap berlabuh di Ambon seperti selama ini, karena di Ambon ekosistem logistik sudah matang, 

Shipping line global akan memilih pelabuhan yang terhubung langsung dengan bandara, jalan tol, atau kereta api, Mengapa? Karena konektivitas multimodal mengurangi biaya logistik secara signifikan, MIP di Seram GAGAL TOTAL dalam aspek ini karena satu-satunya bandara ada di Ambon, terpisah lautan tanpa jembatan.


Pasalnya" Saya bisa berani jamin, berdasarkan pengalaman saya JIKA MIP DIPAKSAKAN DI SERAM, TIDAK AKAN ADA SATU PUN SHIPPING LINE GLOBAL YANG MENJADIKANNYA PORT OF CALL.


MIP di Seram akan menjadi PELABUHAN HIASAN, Dermaga panjang, fasilitas modern, gantry crane menjulang, tapi hanya disambangi oleh kapal-kapal kayu dan tongkang kecil, Kapal-kapal kontainer besar akan tetap lewat dan berlabuh di Ambon.


Dan pertanyaan yang harus diajukan kepada para penyerang kebijakan ini UNTUK APA MEMBANGUN PELABUHAN MEGAH DENGAN DANA TRILIUNAN RUPIAH JIKA TIDAK ADA KAPAL BESAR YANG MAU DATANG? Apakah kalian ingin Maluku memiliki monumen kesombongan seperti Kertajati? Atau kalian ingin memiliki infrastruktur yang benar-benar bekerja untuk rakyat?


Saya sengaja mengangkat Bandara Kertajati bukan karena saya senang mengungkit luka orang lain, tapi karena KERTAJATI ADALAH BUKTI NYATA BAHWA MENGABAIKAN STUDI KELAYAKAN ADALAH BUNUH DIRI EKONOMI, Kertajati dibangun dengan dana triliunan rupiah, Desainnya megah, Arsitekturnya modern, Fasilitasnya kelas dunia, Para pejabat saat itu berfoto-foto di bandara megah itu dengan senyum lebar.


Dan hari ini? MANGKRAK!!. Sepi, Bayangkan MIP di Seram dibangun dengan dana triliunan rupiah yang bisa berasal dari APBN, APBD, atau pinjaman daerah, Kapal-kapal besar tidak datang karena volume tidak mencukupi dan double handling membuat biaya logistik tidak kompetitif, Eksportir tetap memilih Ambon karena ekosistem logistiknya sudah matang dan terintegrasi dengan bandara.


Pelabuhan itu berdiri megah di Waisarisa, Dermaga panjang membentang, Lampu-lampu menyala di malam hari, Tapi hanya disambangi oleh kapal-kapal kecil, Sementara utang pembangunannya membebani APBD Maluku selama 30 tahun uang yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan jalan, habis untuk mencicil proyek mangkrak. 


Dijelaakan-nya" Itu bukan pembangunan, Itu adalah KEHANCURAN EKONOMI YANG DIRENCANAKAN DENGAN SADAR.


Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, dengan berani menghentikan skenario itu sebelum dimulai, telah MENYELAMATKAN MALUKU DARI BENCANA, Dan justru dia yang diserang? Justru dia yang dituduh memindahkan proyek dan mengabaikan Seram?


Sungguh, ini bukan sekadar ironi. Ini adalah KEBODOHAN KOLEKTIF YANG SEDANG DIPUPUK OLEH MEREKA YANG TIDAK PEDULI PADA MASA DEPAN MALUKU.


Sekarang saya akan membalik logika serangan, Mari kita bedah siapa yang sebenarnya merugikan Maluku, Saya akan buatkan tabel perbandingan yang jujur, tidak memihak, berdasarkan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, SIAPA YANG SEBENARNYA MEMBELA KEPENTINGAN RAKYAT MALUKU?

Jawabannya terang-benderang, tidak perlu ditafsir-tafsir, Gubernur Hendrik Lewerissa memilih EFISIENSI, INTEGRASI, DAN KESELAMATAN KEUANGAN DAERAH, Para penyerang entah disadari atau tidak sedang membela PEMBOROSAN, INEFISIENSI, DAN RISIKO PROYEK MANGKRAK.


Jika anda benar-benar peduli pada Maluku, dukunglah keputusan berbasis data. Jangan karena buta geografi (tidak tahu bahwa airport hanya di Ambon), buta logistik (tidak paham konsep double handling), dan buta tata kelola keuangan daerah (tidak peduli risiko proyek mangkrak), anda justru menjerumuskan Maluku ke dalam lubang yang sama dengan Kertajati, Kertajati adalah nisan dan saksi hidup bagi mereka yang mengabaikan studi kelayakan, Jangan jadikan Maluku kuburan baru.


Saya telah menghabiskan puluhan tahun hidup saya untuk membangun pelabuhan-pelabuhan Indonesia, Saya telah melihat sendiri bagaimana sebuah pelabuhan bisa mengubah wajah ekonomi suatu daerah dan bagaimana pelabuhan yang salah bisa menghancurkannya.


Rondonuwu diakhir penyampaian-nya mengatakan" Saya tidak ingin melihat Maluku menjadi korban berikutnya dari pembangunan yang ceroboh, Saya tidak ingin melihat hasil bumi Maluku yang luar biasa melimpah, yang seharusnya menjadi kebanggaan dan sumber kesejahteraan tenggelam dalam biaya logistik yang membengkak hanya karena proyek dipaksakan di lokasi yang salah, 

Maluku Integrated Port HARUS dibangun, Tapi dibangun di tempat yang benar yaitu PULAU AMBON. Tutupnya  (V374) 


Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT