
Foto : UIN A.M. Sangadji Ambon Resmi Lahirkan Universitas Islam Negeri Pertama di Maluku, Jadi Ikon Toleransi dan Inovasi
Ambon, Globaltimurnn.com – Sejarah pendidikan tinggi di tanah Maluku semakin bersinar, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon kini resmi berganti wajah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) A.M. Sangadji tonggak baru yang tidak hanya mengubah wajah pendidikan Islam di wilayah timur Indonesia, tetapi juga mengukuhkan Maluku sebagai tempat berkembangnya generasi yang religius, kompetitif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
Peresmian yang penuh makna ini langsung dipimpin oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, dengan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Walikota Ambon Bodewin Wattimena, serta para pimpinan kampus dan tokoh masyarakat lokal. Meskipun secara hukum transformasinya sudah berlaku sejak 8 Mei 2025, peresmian langsung oleh menteri menjadi bukti pengakuan nasional yang membuat momen ini lebih bermakna.
Bukan hanya soal nama yang berubah, ini adalah proklamasi lahirnya universitas yang siap menjawab tantangan zaman, ujar Rektor UIN A.M. Sangadji, Dr. Abidin Wakano, M.Ag.
Berbeda dari masa IAIN yang fokus pada fakultas keagamaan, UIN A.M. Sangadji kini membuka cakrawala lebih luas. Saat ini sudah ada Fakultas Data Science dan Informatika, dan bahkan tengah mengajukan pembukaan Program Studi Pendidikan Kedokteran serta Profesi Kedokteran, bersama dengan sejumlah program studi strategis lainnya. Tujuannya jelas, menyiapkan generasi muda Maluku yang tidak hanya kuat dalam agama, tetapi juga mampu bersaing di kancah global.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama juga menyampaikan kuliah umum dengan tema yang sangat menyentuh karakter Maluku implementasi kurikulum cinta dan ekoteologi.
Menurut Rektor Wakano, gagasan ini sangat sesuai dengan perjalanan sejarah Maluku yang pernah mengalami masa sulit, tetapi kini berhasil bangkit sebagai contoh perdamaian antarumat beragama. Pendidikan yang berakar pada cinta adalah inti ajaran semua agama. Itulah kunci kita membangun masa depan yang lebih baik, jelasnya.
Konsep ekoteologi juga menjadi fokus penting, karena alam bukan sekadar objek yang bisa dimanfaatkan semaunya. Alam adalah bagian dari diri kita sendiri. Generasi muda sekarang sudah paham bahwa menjaga alam adalah menjaga warisan untuk cucu kita kelak, tambahnya.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Maluku, khususnya Ambon, memiliki nilai sejarah dan sosial yang tak ternilai bagi Indonesia. Di sini masih terasa jejak para tokoh bangsa seperti Bung Hatta, Bung Syahrir, dan Bung Cipto.
Ambon adalah laboratorium toleransi yang sesungguhnya Di sini, umat beragama tidak hanya hidup berdampingan, tetapi saling mengundang saat merayakan hari besar agama, saling mendoakan, dan benar-benar menjunjung tinggi persaudaraan. Hal ini tidak mudah ditemukan di tempat lain, pujinya.
Menurutnya, praktik toleransi tersebut harus menjadi pondasi kuat dalam membangun sumber daya manusia yang berkeadaban. Selain itu, konsep ekonomi cinta dan ekoteologi juga harus dijadikan pedoman manusia dan alam harus hidup dalam hubungan saling menjaga.
Manusia tidak bisa menjadi khalifah yang baik jika alamnya rusak. Setiap kerusakan yang kita lakukan pada alam akan kembali menghantui kita sendiri. Kita harus menghormati hak alam sebagai makhluk yang juga punya nyawa, tegas Menteri Agama.
Menteri juga menekankan bahwa pengembangan perguruan tinggi negeri tidak boleh hanya mengikuti standar satu ukuran untuk semua. Jangan kita pakai ukuran Jakarta untuk mengukur Maluku. Setiap daerah punya keunikan dan kekayaan lokal yang harus jadi kekuatan utama, katanya.
Ia memastikan akan memberikan dukungan penuh bagi UIN A.M. Sangadji serta pengembangan IAKN Ambon menjadi universitas negeri, asalkan semua persyaratan formal telah terpenuhi. “Insya Allah, jika semua syarat lengkap, saya akan mendukung dengan sepenuh hati. Kita pasti akan bangga jika universitas di daerah bisa berkembang dan menjadi kebanggaan bangsa!” pungkasnya. (Za)
