Engelina Pattiasina : Sudah Bukan Rahasia Lagi Dunia Lobbying dan Advokasi Kebijakan, Biasanya Ada Transaksi, Ada Kepentingan Bisnis Dibalik Layar - globaltimurnn.com

Senin, 22 Juni 2026

Engelina Pattiasina : Sudah Bukan Rahasia Lagi Dunia Lobbying dan Advokasi Kebijakan, Biasanya Ada Transaksi, Ada Kepentingan Bisnis Dibalik Layar


Jakarta
, globaltimurnn.com - Di Tengah riuhnya deburan ombak laut Maluku yang tak pernah, tersimpan sebuah rahasia raksasa bernama Blok Masela, Bagi sebagian orang, itu hanyalah angka cadangan gas 10TCF, Bagi korporasi, itu adalah laba, Bagi politisi, itu adalah proyek, Tetapi bagi Ibu Engelina Pattiasina, Masela adalah denyut nadi masa depan anak-anak Maluku.


Pada tahun 2015, ketika wacana Floating LNG (FLNG) atau kilang terapung di tengah laut masih menjadi dogma teknis yang dianggap paling efisien oleh para ahli dari Jakarta dan investor asing, Ibu Engelina melihat celah keadilan yang terabaikan.  Ungkap Engelina Pattiasina kepada sejumlah awak media di ambon dan Jakarta lewat Via pesan Whatsaap-nya


Katanya" Visinya sederhana namun radikal, Kekayaan alam Maluku tidak boleh hanya lewat di atas permukaan laut tanpa menyentuh tanah Maluku. Ujarnya


Ia membayangkan bukan sekadar pipa-pipa besi di dasar laut, melainkan; Kota baru yang hidup di Pulau - pulau terselatan Maluku yang selama ini terisolasi dan dilupakan dalam Pembangunan. 


Ia membayangkan anak-anak muda Maluku yang tidak perlu merantau ke Jawa untuk mencari kerja, karena industri berteknologi tinggi sudah ada di halaman rumah mereka, Transfer pengetahuan dari insinyur internasional kepada tenaga kerja lokal, Serta ekonomi daerah yang berputar, bukan ekonomi ekstraktif yang menghisap lalu pergi, Beliau membayangkan ini bukan sekadar preferensi lokasi, Ini adalah filosofi pembangunan berkeadilan.


Yang membuat perjuangan-nya dan Archipelago Foundation begitu Istimewa dan sekaligus menyedihkan, adalah ketiadaan motif pribadi, bukan mencari kepentingan pribadi ataupun kelompok. 


Sudah bukan rahasia lagi bahwa dalam dunia lobbying dan advokasi kebijakan, biasanya ada transaksi, Ada kepentingan bisnis di balik layar, Ada janji kontrak. Ada saham, dll, Tetapi hal ini tidak berlaku bagi seorang Ibu Engelina, Ia berjuang dengan ketulusan hati dan semangat kecintaan pada negeri lelur serta semangat cinta dari sang ayah JM Pattiasina pendiri Pertamina sampai sebesar sekarang ini, Ia menghabiskan waktu, energi, pikiran, dan sumber daya pribadinya, Ia menghadapi skeptisisme birokrat, dinginnya respons korporasi, dan kompleksitas regulasi nasional. Ia berjuang bukan untuk menjadi kaya, bukan untuk mendapatkan jabatan, dan bukan untuk pujian. Ia berjuang karena cinta. Jelasnya


Cinta pada tanah yang melahirkan nya, cinta pada masyarakat yang sering termarginalkan dalam narasi pembangunan nasional, dan cinta pada prinsip bahwa daerah penghasil sumber daya alam berhak mendapat manfaat terbesar.


Perjuangan Archipelago Foundation tidak sia-sia, Data yang mereka kumpulkan, argumen sosial-ekonomi yang mereka susun, dan tekanan moral yang mereka bangun akhirnya sampai ke meja Presiden Joko Widodo, Sehingga pada bulan Maret 2016, terjadi pembalikan sejarah. 


Presiden memutuskan membatalkan skema FLNG dan mengalihkan Proyek Masela ke darat atau dikenal sekarang dengan nama lokasinya di onshore.  


Keputusan ini bukan hanya kemenangan teknis, Ini adalah kemenangan advokasi sipil. Ini adalah bukti bahwa suara masyarakat, jika disuarakan dengan data, integritas, dan keteguhan hati, bisa mengubah arah kebijakan negara, Dan di balik keputusan bersejarah itu, berdiri tegak sosok Ibu Engelina Pattiasina tanpa sorotan kamera, tanpa pidato kemenangan, tanpa kompensasi finansial.


Hari ini, tahun 2026, Proyek Masela onshore telah menjadi kenyataan, Kilang telah siap akan berdiri megah, tak lama lagi kapal akan LNG bersandar, Pendapatan daerah akan mengalir, Serta multiplier effect yang akan dirasakan oleh banyak lapisan Masyarakat maupun pemerintah daerah. Namun, coba tanya pada pejabat daerah, pada media nasional, atau bahkan pada generasi muda Maluku, "Siapa yang pertama kali memperjuangkan agar Masela dibangun di darat?" Kutebak jawabannya hanyalah sebuah keheningan. 


Nama-nama menteri, direktur BUMN migas, atau konsultan internasional mungkin disebut, Tapi nama seorang Ibu Engelina Pattiasina dan Archipelago Foundation? Hampir terlupakan! Ini adalah bentuk ketidakadilan historis yang paling menyakitkan, Mereka yang berkorban paling besar justru mendapat penghargaan paling kecil, Mereka yang bekerja di balik layar dengan tangan kosong justru tersingkir dari narasi keberhasilan.


Mengangkat kembali nama Ibu Engelina Pattiasina bukan sekadar urusan sentimental, Ini adalah kebutuhan moral bangsa, Sebagai Koreksi Sejarah, Sejarah harus ditulis secara utuh, Tidak ada keberhasilan besar yang lahir dari vakum, Ada aktor-aktor kunci yang sering tak terlihat, dan mereka berhak diakui, Sebagai Inspirasi Kepemimpinan Perempuan, Ibu Engelina membuktikan bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan formal, tapi tentang pengaruh moral, visi jangka panjang, dan keberanian melawan arus. 


Sebagai pelajaran juga bahwa organisasi masyarakat sipil seperti Archipelago Foundation memiliki peran strategis dalam mengawal kebijakan publik demi kepentingan rakyat, Sebagai bentuk terima kasih daerah, Maluku berhutang budi. Bukan utang uang, tapi utang penghormatan.


Kepada Pemda Maluku, Sudah saatnya kita meluruskan narasi. Sudah saatnya kita menjadikan nama Ibu Engelina Pattiasina bagian dari monumen sejarah pengembangan Masela, Libatkan Archipelago Foundation dalam forum-forum pengawasan dan evaluasi dampak sosial lingkungan proyek. 


Dokumentasikan perjuangan beliau dalam arsip resmi daerah dan nasional, Berikan apresiasi formal yang layak, bukan sebagai hadiah, tapi sebagai pengakuan hak moral, Ibu Engelina Pattiasina mungkin tidak akan pernah menghitung berapa rupiah keuntungan yang ia lewatkan, Ia tidak meminta itu, Tapi warisannya jauh lebih berharga daripada uang, cob akita bayangkan sendiri. Terangnya


Ia meninggalkan kesan bahwa suara daerah didengar, Ia meninggalkan contoh bahwa perempuan Maluku bisa mempengaruhi kebijakan nasional. Ia meninggalkan harapan bahwa keadilan masih mungkin diperjuangkan, bahkan oleh satu orang dengan hati yang tulus.  

Terima kasih, Ibu Engelina Pattiasina, Terima kasih, Archipelago Foundation, Maluku ingat, Indonesia seharusnya juga ingat. Tutupnya  (Rdks) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT