Dua Kali Raih Kalpataru, Wutmaili Roumuty Jadi Inspirasi Generasi Muda Maluku - globaltimurnn.com

Senin, 22 Juni 2026

Dua Kali Raih Kalpataru, Wutmaili Roumuty Jadi Inspirasi Generasi Muda Maluku


Ambon
, Globaltimurnn.com – Di sebuah kawasan yang dahulu dikenal sebagai tempat pembuangan sampah di wilayah Bere-Bere, Kota Ambon, lahirlah sebuah kisah inspiratif yang membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana. Sosok di balik perubahan itu adalah Wutmaili Roumuty, seorang guru teknik yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi gerakan edukasi lingkungan yang menginspirasi banyak orang.


Dedikasi dan konsistensinya dalam menjaga lingkungan kembali mendapat pengakuan nasional. Setelah meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 2018 lalu, dan kembali menerima penghargaan Kalpataru Lestari pada tahun 2026, penghargaan tertinggi bagi para pejuang lingkungan yang dinilai tetap konsisten dan terus berkembang dalam menjalankan misi pelestarian alam.


Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Kota Ambon dan Provinsi Maluku yang kembali dikenal melalui karya nyata seorang anak daerah.


"Kalpataru Lestari ini merupakan kelanjutan dari penghargaan Kalpataru yang kami terima pada tahun 2018. Setelah itu seluruh penerima terus dipantau dan dievaluasi. Puji Tuhan, kami termasuk dalam 16 orang yang dinilai layak menerima penghargaan Kalpataru Lestari," ungkap Wutmaili.


Perjalanan panjang yang dilaluinya tidaklah mudah. Berbekal ilmu sebagai seorang Guru SMK, ia memanfaatkan pengetahuannya yang sederhana untuk membantu masyarakat mengelola sampah rumah tangga. Berbagai inovasi sederhana diperkenalkan, mulai dari pengolahan sampah dapur menjadi pupuk cair, contonya serat kulit buah durian menjadi kasur, hingga pemanfaatan berbagai jenis limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.


Bagi Wutmaili, persoalan sampah bukan hanya urusan pemerintah. Menurutnya, sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus diselesaikan melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.


"Masalah sampah kota sebenarnya adalah masalah sampah masyarakat. Karena itu, semua orang harus terlibat dalam penyelesaiannya," tegasnya.


Berangkat dari keyakinan tersebut, kawasan yang dulunya dikenal sebagai lokasi penumpukan sampah kini perlahan disulap menjadi pusat edukasi lingkungan. Tempat itu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar tentang pengelolaan sampah berbasis masyarakat.


Tidak sedikit pemuda, pelajar, mahasiswa hingga kelompok masyarakat yang datang untuk berdiskusi dan belajar langsung mengenai teknologi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, keberhasilan tidak diukur dari banyaknya penghargaan yang diterima, tetapi dari perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan.


"Sulit menghitung berapa banyak orang yang sudah mendapat manfaat, karena yang kami harapkan adalah perubahan perilaku dalam jangka panjang," ujarnya.


Konsistensi selama delapan tahun terakhir menjadi salah satu faktor utama yang mengantarkan dirinya meraih penghargaan Kalpataru Lestari. Dewan Pertimbangan Kalpataru menilai bahwa aktivitas pelestarian lingkungan yang dijalankan Wutmaili tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.


Meski telah meraih dua penghargaan bergengsi, Wutmaili tetap memilih berada di tengah masyarakat. Ia terus mengabdikan diri untuk mengedukasi warga mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui pendekatan yang sederhana dan mudah diterapkan.


Menurutnya, solusi terhadap persoalan sampah tidak harus menggunakan teknologi mahal. Justru teknologi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi kunci perubahan jika diterapkan secara luas.


Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun kesadaran lingkungan, mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, perguruan tinggi, industri, hingga lembaga keagamaan.


"Pendidikan dan keagamaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat agar peduli terhadap lingkungan sejak dini," katanya.


Kisah Wutmaili Roumuty menjadi bukti bahwa seorang guru tidak hanya bertugas mendidik di ruang kelas. Dengan dedikasi, ketekunan, dan kepedulian terhadap lingkungan, ia mampu membawa nama Ambon dan Maluku dikenal di tingkat nasional sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.


Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini, sosok Wutmaili hadir sebagai teladan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dari Ambon untuk Indonesia, ia menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan pengabdian untuk masa depan bangsa.


Prestasi yang diraihnya menjadi pesan kuat bagi generasi penerus bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemewahan dan fasilitas besar. Terkadang, keberhasilan justru lahir dari kepedulian terhadap persoalan sederhana di sekitar kita, lalu diperjuangkan dengan hati, ilmu pengetahuan, dan ketulusan.


Dan dari tumpukan sampah yang dulu dipandang sebelah mata, seorang guru dari Ambon berhasil menorehkan jejak yang mengharumkan nama Maluku di pentas nasional. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT