Benteng Nieuw Victoria, Dari Jejak Kolonial hingga Simbol Ketahanan Sejarah Maluku - globaltimurnn.com

Jumat, 24 April 2026

Benteng Nieuw Victoria, Dari Jejak Kolonial hingga Simbol Ketahanan Sejarah Maluku

Foto : Benteng Nieuw Victoria, Dari Jejak Kolonial hingga Simbol Ketahanan Sejarah Maluku

Ambon
, Globaltimunn.com – Di jantung Kota Ambon, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang tidak hanya merekam perjalanan panjang kolonialisme di Indonesia, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Maluku melawan penindasan. Benteng Nieuw Victoria kini diakui sebagai Cagar Budaya Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 193/M/2017 tertanggal 14 Juli 2017 sebuah penegasan atas nilai historisnya yang tak tergantikan.


Dibangun pertama kali oleh Portugis pada tahun 1575 dengan nama Nuestra Senhora da Annunciada, benteng ini lahir dari situasi geopolitik yang bergejolak di kawasan Maluku. Portugis mendirikan benteng ini setelah terusir dari Ternate oleh Sultan Baabullah, dalam sebuah peristiwa yang menandai perlawanan kuat kerajaan lokal terhadap dominasi asing.


Namun, sejarah benteng ini tidak berhenti di tangan Portugis. Pada tahun 1605, kekuasaan beralih ke Belanda yang kemudian mengganti namanya menjadi “Victoria” melambangkan kemenangan mereka atas pesaing Eropa. Seiring waktu, gempa bumi menghancurkan sebagian struktur benteng, hingga akhirnya dipugar besar-besaran dan selesai pada tahun 1754. Perubahan signifikan pada arsitektur membuatnya kembali dinamai “Nieuw Victoria” atau “Victoria Baru”.


Lebih dari sekadar benteng pertahanan, Nieuw Victoria menjadi pusat kendali pemerintahan dan perdagangan rempah-rempah Belanda di Maluku wilayah yang kala itu merupakan episentrum ekonomi global. Letaknya yang strategis di dekat pelabuhan dan pasar menjadikannya simpul penting dalam jaringan perdagangan internasional abad ke-17 hingga 18.


Namun di balik kejayaannya, benteng ini juga menyimpan kisah kelam. Di sinilah hukuman gantung dilaksanakan terhadap para pejuang yang menentang kolonialisme Belanda. Nama-nama besar seperti Kapitan Pattimura dan Kapitan Ulupaha tercatat pernah mengakhiri perjuangan mereka di tempat ini. Khususnya peristiwa gugurnya Pattimura pada 6 Desember 1817 menjadi simbol perlawanan heroik rakyat Maluku yang terus dikenang hingga kini.


Sejarawan Syahruddin Mansyur dalam kajiannya Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi untuk Pariwisata Berkelanjutan (2008) menekankan bahwa benteng ini bukan hanya situs sejarah, tetapi juga aset penting dalam pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya.


Kini, Benteng Nieuw Victoria masih berdiri kokoh, meskipun wajahnya telah mengalami banyak perubahan. Sebagian besar bangunan yang ada saat ini merupakan konstruksi baru yang dibangun oleh TNI Angkatan Darat, yang mengelola kawasan ini sebagai kompleks militer aktif. Di dalamnya terdapat fasilitas seperti pos jaga, kantor, tempat ibadah, hingga perumahan anggota TNI.


Meski akses publik terbatas, nilai historis benteng ini tetap hidup melalui berbagai peninggalan yang masih tersimpan mulai dari meriam tua, peta sejarah Ambon, hingga artefak peninggalan kolonial Belanda.


Dalam konteks global, Benteng Nieuw Victoria bukan hanya milik Ambon atau Indonesia, melainkan bagian dari narasi besar sejarah dunia tentang kolonialisme, perdagangan, dan perjuangan kemerdekaan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik tembok-tembok tua, tersimpan cerita tentang kekuasaan, perlawanan, dan identitas yang terus membentuk masa kini.


Benteng ini bukan sekadar situs masa lalu ia adalah monumen hidup yang menegaskan bahwa sejarah, seberapa pun pahitnya, tetap menjadi fondasi penting bagi masa depan.(Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT