Jakarta, globaltimurnn.com - Bulan September kembali membawa ingatan publik pada rangkaian peristiwa sejarah yang dikenal sebagai September Hitam.
Momentum ini menjadi ruang permenungan penting terkait penghormatan hak asasi manusia (HAM) serta evaluasi atas berbagai peristiwa kekerasan di masa lalu yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan besar.
Sekretaris Perkumpulan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan Enam Enam, Martin Khisna, menegaskan bahwa mengingat sejarah bukanlah upaya untuk membuka kembali luka lama atau memperuncing pertentangan antar-kelompok.
Menurutnya, pemahaman akan sejarah sangat krusial agar generasi saat ini dapat mengambil pelajaran berharga tentang bahayanya ketika perbedaan tidak lagi diselesaikan melalui dialog.
"Setiap peristiwa masa lalu perlu ditempatkan secara proporsional. Kita perlu menghormati korban, mendengarkan suara keluarga korban, dan memberikan ruang bagi pembahasan mengenai HAM secara bertanggung jawab serta berdasarkan fakta," ujar Martin.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, cara masyarakat mengonsumsi dan mengingat sejarah telah mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu perdebatan sejarah berpusat di ruang kelas, buku, atau media massa, kini potongan informasi dapat menyebar cepat di media sosial tanpa konteks yang utuh.
Oleh karena itu, publik diimbau untuk lebih dewasa dan kritis dalam menyikapi informasi sejarah yang beredar di ruang digital.
Penting bagi masyarakat untuk dapat membedakan antara kritik yang konstruktif, kesaksian para korban, dan provokasi yang berpotensi memicu kebencian.
Kota-kota besar seperti Jakarta, beserta kampus, organisasi masyarakat, dan komunitas pemuda, diharapkan dapat menjadi ruang terbuka untuk mempertemukan berbagai perspektif secara sehat.
Menutup pandangannya, Martin menekankan bahwa generasi muda berhak mendapatkan akses terhadap sejarah yang utuh dan objektif.
Menjaga ingatan sejarah pada akhirnya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan komitmen bersama untuk memastikan kesalahan dan kekerasan serupa tidak terulang di masa depan. Pungkasnya (Bayu)
